Kota Malang Bershalawat

ultah-ngalamMalang. 5 April 14 stadion kebanggaan warga Kota Malang yaitu Stadion Gajayana dipenuhipuluhan ribu warga malang raya dan sekitarnya yang hadir dalam acara yang bertajuk 100 tahun kota Malang Bersholawat.Acara ini juga menghadirkan puluhan majelis sholawat yang berada di malang raya tersebut bergabung menjadi satu majelis sholawat yang dihadiri oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaffdari Solo. Hadir pula dalam acara tersebut, Walikota Malang, H. M. Anton dan Wakil Walikota Malang, Drs. Sutiaji, Mentri BUMN Dahlan Iskan, para habaib serta para kyai.Sedangkan mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH. Ahmad Marzuki Musytamar dengan diakhiri dengan doa oleh para ulama.MU MShoe

Cinta Dunia Hilangkan Wibawa Islam

oleh: KH. Marzuki Mustamar

Artinya Jika ummatku telah mengagung-agungkan dunia, maka kewibawaan Islam akan dihilangkan. HR. At-Tirmidi

Sabda Rasulullah SAW ini sangat benar sekali, apalagi kalau yang melakukan itu para ulama tokoh-tokoh dalam ummat Islam. Jadi, ummat Isalm itu kalau sudah terlalu cinta dunia yakni menjadikan uang atau harta sebagai ukuran dari segala-galanya maka kewibawaan ummat Islam akan dihilangkan oleh Allah SWT. Ummat Iislam tidak berwibawa, para ulamanya juga tidak berwibawa, para pejabatnya tidak berwibawa.
258618353_Hands_holding_worMisalnya ada ulama kyai atau tokoh dalam Islam yang melakukan amar maruf nahi mungkar kemudian hanya karena diberi uang yang banyak misalnya 50 juta tidak lagi melakukan amar maruf nahi mungkar. Maka di mata orang yang telah memberi uang banyak ulama atau kyai tersebut sudah tidak ada wibawanya, sehingga kalau ulama tersebut dakwah atau melakukan amar maruf nahi mungkar orang akan memandangnya rendah sebab kalau ulama tersebut diberi uang maka dia juga akan berhenti dalam berdakwah dan amar maruf nahi mungkar. Sebab cinta dunia ini pula kebenaran bisa dibeli dengan uang dan akhirnya islam tidak berwibawa. Sebab kebenara atau fatwa bisa dibeli atau dipengaruhi oleh harta dunia. Dengan cinta dunia ini pula Islam dipecah belah.
Jadi, kalau ummat Islam sudah terlalu cinta dengan dunia maka kebenaran tidak akan bisa berdiri tegak, idealisme sulit untuk terwujud, tidak bisa menjaga harkat dan martabat sehingga ummat islam tidak berwibawa.

Mengutamakan Islam
Ketika ummat Islam membangun masjid dan masyarakat dan tokoh-tokoh Islam tidak ada yang mengulurkan bantuan bakhil, sehingga panitia pembangunan masjidnya meminta-minta bantuan dipinggir jalan. Dan hal seperti ini akhirnya juga akan menjatuhkan wibawa Islam dan ummat Islam. Andaikan ummat Islam itu tidak terlalu cinta dunia, tidak mengagung-agungkan keduniaan, mereka semua dermawan sehingga mereka tidak sampai meminta-minta sumbangan di jalan-jalan. Sebab mereka lebih mengutamakan dan menjaga harga diri Islam dan ummat Islam daripada meminta-minta di jalan. Bahkan kalau bisa orang non muslim yang berada di bawah garis kemiskinan disantuni oleh ummat Islam. Maka dengan cara tersebut Islam akan semakin berwibawa. Misalnya muslim yang berada di Papua itu justru bisa memberi santunan kaum Kristen yang miskin. Sehingga Islam di sana semakin berwibawa.
Jadi, termasuk dalam mengagung-agungkan dunia itu bersikap bakhil sebab lebih mengutamakan hartanya dari pada menjaga wibawa Islam, mencari harta semaunya sendiri dan ini termasuk menjatuhkan wibawa Islam dan ummat Islam. Kalau islam jatuh, ulamanya juga jatuh, maka ummat Islam juga akan jatuh. Lain halnya kalau orang itu memegangi prinsip kebenaran, meskipun hidup dalam kemiskinan pun, kehilangan apapun kita siap demi menegakkan kebenaran, kita tetap berjuang demi tegaknya kewibawaan ummat Islam, maka ummat di luar Islam akan mengetahui kalau ummat Islam itu sangat berwibawa.

Berbagi Asa Ringankan Derita Korban Erupsi Kelud

 

Ustadz Eko Priono di depanTPQ Khoirul FatikhinDusun Langon Desa Pandansari

Ustadz Eko Priono di depanTPQ Khoirul FatikhinDusun Langon Desa Pandansari

Di depan rumah Ustadz Ahmad Salam Pengasuh TPQ Tarbiyatul Aulad Dusun Pait Desa Pandansari

Di depan rumah
Ustadz Ahmad Salam Pengasuh
TPQ Tarbiyatul Aulad Dusun Pait
Desa Pandansari

Fiqih Sosial Ala Mbah Sahal

Al Maghfurulahu KH. MA. Sahal Mahfudz

Awal tahun 2014 Indonesia dilanda berbagai bencana alam. Musibah banjir terjadi dimana mana. Bahkan, genangan air di beberapa sampai melumpuhkan roda perekonomian. Tanah longsor sampai gempa juga terjadi. Namun, musibah ini, bagi ummat Islam utamanya kalangan nahdhiyah tidak lebih menyedihkan daripada wafatnya seorang ulama besar, KH. M. Sahal Mahfudz, Rais Am PBNU.

Kyai yang sangat terkenal dengan kealiman dan kesahajaannya ini telah berpulang ke rahmatullah pada Jumat, 24 Januari 2014 dini hari pukul 01.05 WIB. Mbah Sahal yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia MUI ini wafat di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Latar Belakang Kehidupan

KH. Sahal Mahfudz dididik oleh ayahnya yaitu KH. Mahfudz dan memiliki jalur nasab dengan Syekh Ahmad Mutamakkin. Namun KH. Sahal Mahfudz sangat dipengaruhi oleh keyakinan pamannya sendiri, K.H. Abdullah Salam. Syekh Ahmad Mutamakkin sendiri termasuk salah seorang pejuang Islam yang gigih, seorang ahli hukum Islam faqih yang disegani, seorang guru besar agama dan lebih dari itu oleh pengikutnya dianggap sebagai salah seorang waliyullah.

Sedari kecil Kyai Sahal dididik dan dibesarkan dalam semangat memelihara derajat penguasaan ilmu ilmu keagamaan tradisional. Apalagi Kiai Mahfudh Salam seorang kiai ampuh, dan adik sepupu almarhum Rais Aam NU, Kiai Bisri Syamsuri. Selain itu juga terkenal sebagai hafidzul quran yang wirai dan zuhud dengan pengetahuan agama yang mendalam terutama ilmu ushul.

Pesantren adalah tempat mencari ilmu sekaligus tempat pengabdian Kyai Sahal. Dedikasinya kepada pesantren, pengembangan masyarakat, dan pengembangan ilmu fiqh tidak pernah diragukan. Pada dirinya terdapat tradisi ketundukan mutlak pada ketentuan hukum dalam kitab kitab fiqih dan keserasian total dengan akhlak ideal yang dituntut dari ulama tradisional. Atau dalam istilah pesantren, ada semangat tafaqquh memperdalam pengetahuan hukum agama dan semangat tawarru bermoral luhur.

Ada dua faktor yang mempengaruhi pemikiran Kyai Sahal yaitu, pertama adalah lingkungan keluarganya. Bapak beliau yaitu Kyai Mahfudz adalah orang yang sangat peduli pada masyarakat. Setelah Kyai Mahfudz meninggal, Kyai Sahal kemudian diasuh oleh KH. Abdullah Salam, orang yang sangat concern pada kepentingan masyarakat juga. Beliau adalah orang yang mendalami tasawuf juga orang yang berjiwa sosial tinggi.

Kyai Mahfudz orang yang cerdas, tegas dan peka terhadap persoalan sosial dan KH. Abdullah Salam juga orang yang tegas, cerdas, wirai, muruah, dan murah hati. Di bawah asuhan dua orang yang luar biasa dan mempunyai karakter kuat inilah Kyai Sahal dibesarkan.

Yang kedua dari segi intelektual, Kyai Sahal sangat dipengaruhi oleh pemikiran Imam Ghazali. Dalam berbagai teori, Kyai Sahal banyak mengutip pemikiran Imam Ghazali. Selama belajar di pesantren inilah, Kyai Sahal berinteraksi dengan berbagai orang dari segala lapisan masyarakat baik kalangan jelata maupun kalangan elit masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran beliau. Selepas dari pesantren, beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Perpaduan antara pengalaman di dunia pesantren dan organisasi inilah yang diimplementasikan oleh Kyai Sahal dalam berbagai pemikiran beliau.

Minat baca Kyai Sahal sangat tinggi dan bacaannya cukup banyak terbukti beliau punya koleksi 1.800 an buku di rumahnya. Meskipun Kyai Sahal orang pesantren bacaannya cukup beragam, diantaranya tentang psikologi, bahkan novel detektif walaupun bacaan yang menjadi favoritnya adalah buku tentang agama. Beliau membaca dalam artian konteks kejadian. Tidak heran kalau Kiai Sahal meminjam istilah Gus Dur lalu menjadi jago sejak usia muda. Belum lagi genap berusia 40 tahun, dirinya telah menunjukkan kemampuan ampuh itu dalam forum forum fiqih. Terbukti pada berbagai sidang Bahtsu Al Masail tiga bulanan yang diadakan Syuriah NU Jawa Tengah, beliau sudah aktif di dalamnya.

Kyai Sahal adalah pemimpin Pesantren Maslakul Huda Putra sejak tahun 1963. Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan oleh ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910. Sebagai pemimpin pesantren, Kyai Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput. Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.

Pendidikan dan Guru guru

Kyai Sahal memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah 1943 1949, Madrasah Tsanawiyah 1950 1953 Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati. Setelah beberapa tahun belajar di lingkungannya sendiri, Kyai Sahal muda nyantri ke Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kiai Muhajir. Selanjutnya tahun 1957 1960 beliau belajar di pesantren Sarang, Rembang, di bawah bimbingan Kiai Zubair. Pada pertengahan tahun 1960 an, Kyai Sahal belajar ke Mekah di bawah bimbingan langsung Syaikh Yasin al Fadani. Sementara itu, pendidikan umumnya hanya diperoleh dari kursus ilmu umum di Kajen 1951 1953.

Di Pesantren Bendo, Kyai Sahal mendalami keilmuan tasawuf dan fiqih termasuk kitab yang dikajinya adalah Ihya Ulumuddin, Mahalli, Fathul Wahab, Fathul Muin, Bajuri, Taqrib, Sulamut Taufiq, Sullam Safinah, Sullamul Munajat dan kitab kitab kecil lainnya. Di samping itu juga aktif mengadakan halaqah halaqah kecil kecilan dengan teman teman senior.

Sedangkan di Pesantren Sarang, Kyai Sahal mengaji pada Kyai Zubair tentang ushul fiqih, qawaid fiqh dan balaghah. Dan kepada Kyai Ahmad beliau mengaji tentang Hikam. Kitab yang dipelajari waktu di Sarang antara lain, Jamul Jawami dan Uqudul Juman, Tafsir Baidlowi tidak sampai khatam, Lubbabun Nuqul sampai khatam, Manhaju Dzawin Nazhar karangan Syekh Mahfudz At Tarmasi dan lain lain.

Ulama Produktif

Kyai Sahal bukan saja seorang ulama yang senantiasa ditunggu fatwanya, atau seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, melainkan juga seorang pemikir yang menulis ratusan risalah makalah berbahasa Arab dan Indonesia, dan juga aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Penghargaan yang diterima beliau terkait dengan masyarakat kecil adalah penganugerahan gelar Doktor Kehormatan Doctor Honoris Causa dalam bidang pengembangan ilmu fiqh serta pengembangan pesantren dan masyarakat pada 18 Juni 2003 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Peran dalam organisasipun sangat signifikan, terbukti beliau tiga periode menjabat Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sejak tahun 2009 dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia MUI sejak tahun 2000. Bahkan, sampai beliau tutup usia masih menjabat dua tugas mulia tersebut.

Selain jabatan jabatan diatas, jabatan lain yang beliau diemban adalah sebagai Rektor INISNU Jepara, Jawa Tengah sejak tahun 1989 dan pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati sejak tahun 1963.

Sedangkan pekerjaan yang pernah beliau lakukan, adalah guru di Pesantren Sarang, Rembang 1958 1961, Dosen kuliah takhassus fiqh di Kajen 1966 1970, Dosen di Fakultas Tarbiyah UNCOK, Pati 1974 1976, Dosen di Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang 1982 1985, Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama INISNU Jepara 1989 sekarang, Kolumnis tetap di Majalah AULA 1988 1990, Kolumnis tetap di Harian Suara Merdeka, Semarang 1991 sekarang, Ketua Dewan Syariah Nasional DSN, 2000 2005, dan sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah pada Asuransi Jiwa Bersama Putra 2002 sekarang.

Sosok seperti Kyai Sahal ini kiranya layak menjadi teladan bagi semua orang. Sebagai pengakuan atas ketokohannya, beliau telah banyak mendapatkan penghargaan, diantaranya Tokoh Perdamaian Dunia 1984, Manggala Kencana Kelas I 1985 1986, Bintang Maha Putra Utarna 2000 dan Tokoh Pemersatu Bangsa 2002.

Sepak terjang KH. Sahal tidak hanya lingkup dalam negeri saja. Pengalaman yang telah didapatkan dari luar negeri adalah, dalam rangka studi komparatif pengembangan masyarakat ke Filipina tahun 1983 atas sponsor USAID, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Korea Selatan tahun 1983 atas sponsor USAID, mengunjungi pusat Islam di Jepang tahun 1983, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Srilanka tahun 1984, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Malaysia tahun 1984, delegasi NU berkunjung ke Arab Saudi atas sponsor Dar al Ifta Riyadh tahun 1987, dialog ke Kairo atas sponsor BKKBN Pusat tahun 1992, berkunjung ke Malaysia dan Thailand untuk kepentingan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional BPPN tahun 1997.

Karya karya KH. MA. Sahal Mahfudz

Kyai Sahal adalah seorang pakar fiqih hukum Islam, yang sejak menjadi santri seolah sudah terprogram untuk menguasai spesifikasi ilmu tertentu yaitu dalam bidang ilmu Ushul Fiqih, Bahasa Arab dan Ilmu Kemasyarakatan. Namun beliau juga mampu memberikan solusi permasalahan umat yang tak hanya terkait dengan tiga bidang tersebut, contohnya dalam bidang kesehatan dan beliau menemukan suatu bagian tersendiri dalam fiqh.

Dalam bidang kesehatan Kyai Sahal mendapat penghargaan dari WHO dengan gagasannya mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri untuk menangani anak anak balita hampir seperti Posyandu. Selain itu juga mendirikan balai kesehatan yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit Islam.

Berbicara tentang karya beliau, pada bagian fiqh beliau menulis seperti Al Tsamarah al Hajainiyah yang membicarakan masalah fuqaha, al Barokatu al Jumuah ini berbicara tentang gramatika Arab. Sedangkan karya Kyai Sahal yang berbentuk tulisan lainnya adalah

1. Thariqatal Hushul ila Ghayahal Ushul, Surabaya Diantarna, 2000

2. Pesantren Mencari Makna, Jakarta Pustaka Ciganjur, 1999

3. Al Bayan al Mulamma an Alfdz al Lumd”, Semarang Thoha Putra, 1999

4. Telaah Fikih Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh, Semarang Suara Merdeka, 1997

5. Nuansa Fiqh Sosial Yogyakarta LKiS, 1994

6. Ensiklopedi Ijma terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab

Mausuah al Ij ma. Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987.

7. Al Tsamarah al Hajainiyah, I960 Nurussalam, t.t

8. Luma al Hikmah ila Musalsalat al Muhimmat, Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati.

9. Al Faraid al Ajibah, 1959 Diktat Pe+-santren Maslakul Huda, Pati

Mental Seorang Pemimpin

Oleh: KH. Marzuki Mustamar

Apabila Allah menghendaki kejelekan pada suatu kaum Negara, bangsa masyarakat maka Allah akan menyerahkan permasalahan kaum itu pada orang yang bermewahmewahan bertindak sewenangwenang. HR. Ad Dailami

Barang kali hal ini juga sudah menjadi sunnatullah bahwa pemimpinpemimpin besar dunia itu kebanyakan dari orang yang memilikikesengsaraan hidup, sebagai cara Allah SWT dalam menempa jiwa mereka agar menjadi tangguh, mempunyai kepekaan terhadap nasib rakyatnya, fakir miskin dan merasakan apa yang juga dirasakan oleh para fakir miskin serta tahan banting dan tangguh dalam menghadapi ujian dari Allah SWT.

Misalnya Nabi Adam as pernah menjalani kesengsaraan hidup yang begitu lama yang mana ketika itu juga berpisah dengan siti hawa, Nabi Nuh as juga sengsara dimusuhi oleh para kaumnya, diolokolok dan diejek sebagai orang gila dan sebagainya, NabiIbrahim as juga dimusuhi oleh kaumnya sendiri, bahkan penguasa dan rajanya sampai beliau dilemparkan ke dalam bara api yang menyala, Nabi Ayyub as juga demikian mendapatkan cobaan yang luar biasa, demikian juga dengan Nabi Muhammad SAW. Begiru juga dengan para pahlawan kita mmisalnya pak Soekarno sebelum menjadi presiden pertama Negara Indonesia juga pernah beberapa kali keluar masuk penjara. Ini semua barang kali adalah sebuah sunnatullah yakni pemimpinpemimpin besar dunia itu pernah mengalami kesengsaraan hidup agar mereka tangguh, tahan banting, merasakan apa yang telah dirasakan oleh rakyatnya, merasakan apa yang telah dirasakan oleh orang miskin, sehingga mempunyai kepedulian sensitifitas terhadap dhuafa orangorang yang lemah dan tidak bertindak semenamena dan berbuat dhalim kepada mereka.

Dan insya Allah orang orang seperti ini kalau menjadi pemimpin akan terjadilah sebuah keadilan, kesejahteraan dan ekonomi merata. Sebab mereka mempunyai kepedulian terhadap rakyat serta merasakan apa yang telah mereka rasakan. Sementara kalau yang memegang kekuasaan itu orangorang yang tidak pernah merasakan apa yang juga dirasakan oleh rakyat, tidak mempunyai wawasan tentang kepemimpinan, sumber daya manusianya juga rendah, hal ini akan menimbulkan mereka tidak mempunyai kepedulian kepada para kaum dhuafa orangorang lemah sehingga hampir bisa kita pastikan kalau dalam mengambil kebijakan pasti juga mengambil keuntungan yang banyak, kebijakan yang memihak kepada orangorang kaya, padahal mayoritas rakyat itu biasanya menengah ke bawah. Dengan demikian, itu akan menjadi sebuah petaka bagi bangsa yang mayoritas rakyatnya menengah ke bawah, yang mana hal ini diistilahkan oleh Nabi Muhammad SAW jika Allah menghendaki bangsa itu jelek maka masalah kepemimpinan diserahkan dan dipegang kepada orangorang yang senantiasa hidupnya bergelimpangan dengan kemewahan.

Intinya, pemimpin itu harus mempunyai mental yang tangguh dan kasih sayang. Dan biasanya yang mempunyai kepedulian terhadap rakyat juga orangorang pernah mengalami kesengsaraan hidup, sekalipun sekarang sudah tidak sengsara lagi. Karena kalau pemimpinya lemah juga tidak mungkin, sebab pemimpin itu harus kuat imanya, kuat fisiknya, terlebih juga kuat dalam sisi ekonomi, akan tetapi meskipun kuat ekonominya dia pun juga pernah mengalami kesengsaraan hidup. Jadi, mempunyai pengalaman, wawasan, terlebih dari sisi agamanya selalu konsisten dan kuat dalam menjalankanya dan senantiasa dekat para ulama yang senantiasa memberi masukan dan nasihat. MU IPUNG

Kebesaran Allah adalah segalanya

Apabila kamu semua melihat kebakaran api, maka bertakbirlah karena sungguh takbir itu bisa memadamkanya. HR. Ibnu Asakir

Rasulullah SAW menganjuran kepada kita kalau melihat kebakaran, maka bacalah takbir sebab takbir akan memadamkan kebakaran itu. Kalau dari segi hubungan dengan ilmu pengetahuan alamiahnya kami tidak mengetahuinya. Mungkin dengan cara mengagung-agungkan asma Allah kita menjadi yakin dan sadar bahwa semua yang selain Allah itu kecil sekali. Kebakaran sebesar apapun menjadi kecil jika kita bandingkan dengan kebesaran Allah. Dengan begitu orang yang mempunyai keyakinan hanya Allah yang Maha Besar kita akan mudah menghadapi kebakaran itu karena tidak ada nilainya jika kita bandingkan denga kebesaran Allah. Sehingga kita tidak mempunyai rasa panik, tidak menyerah dengan penuh kepercayaan diri kita memadamkan kebakaran dengan berbekal keyakinan semua yang selain Allah itu kecil. Karena ketika Allah berkehendak maka semuanya akan terjadi.

Mungkin dengan cara kita mengagung-agungkan nama Allah maka Allah ridha kepada kita. Kalau Allah sudah ridha Allah akan mengabulakn dzikir dan doa kita. Dan tidak mustahil kalau Allah memerintahkan malaikat atau makhluk-makhluk gaibnya untuk membantu memadamkan api tersebut.

Bisa jadi yang dimaksud itu adalah api amarah, api emosi, api kemarahan, kalau hati kita, pikiran kita sedang disulut api kemurahan, permusuhan, kedengkian, emosi dan seterusnya, maka bertakbirlah kepada Allah. Dengan terus bertakbir kepada Allah akan menjadi reda. Kalau kita marah karena suatu masalah maka kita pun akan menjadi sadar masalah atau problem itu kecil disbanding dengan kebesaran Allah, kalau kita marah kepada musuh maka musuh akan menjadi kecil disbanding dengan kebesaran Allah, kalau kita marah karena urusan kita dihalang-halangi, diganggu orang dengan terus membaca takbir dan terus kita hayati maka kita akan mengerti dan sadar bahwa gangguan orang itu kecil, selain Allah itu kecil, kalau kita marah karena niat atau tujuan kita atau cita-cita kita tidak terpenuhi kemudian kita membaca takbir serta meyakini bahwa Allah Yang Maha Besar sehingga cita-cita atau tujuan itu kecil, maka hati kita akan menjadi reda karena kita tidak mungkin mengorbankan Allah Yang Maha Besar hanya dikarenakan perkara yang kecil-kecil.

Jadi, insya Allah seluruh urusan atau permasalahan dunia akan menjadi ringan, kecil, dengan hanya mengagung-agungkan Allah.

Permasalahan itu akan menjadi besar kalau menyangkut kepada Allah. Kita ini bisa husnul khatimah atau tidak, shalat dan semua ibadah saya diterima Allah atau tidak, dosa saya diampuni oleh Allah atau tidak, taubat saya diterima oleh Allah atau tidak, kita nanti bisa sukses melewati hisab atau tidak, antara amal baik dan buruk banyak yang mana, ketika melewati sirathal mustaqim kita bisa lulus atau tidak, kita ini diridhai Allah atau tidak, anak-anak kita nanti menjadi orang yang shalih atau tidak, rajin menjalankan shalat atau tidak, akhlak perilakunya baik atau tidak, selalu memegangi ahlussunnah waljamaah atau tidak, dakwah islam itu menang dengan dakwah orang Kristen atau tidak, ini semua adalah permasalahan yang besar.

Jadi, permasalahan yang berkaitan dengan Allah itulah permasalahan yang besar dan senantiasa membutuhkan perhatian lebih jika dibandingkan dengan yang lain, permasalahan-permasalahan lain itu kecil semua. Dengan bertakbir maka urusan-urusan dunia akan menjadi terasa kecil dan hanya permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan Allah lah yang menjadi besar. Dengan begitu ketika kita menghadapi permasalahan-permasalahan dunia kita jadi bersikap santai, hati menjadi reda, api amarah menjadi padam. Hal inilah yang sering disampaikan oleh Gus Dur emang gue pikirin, gitu aja kok repot. MU Ipung


Rajin Ke Masjid, Tanda Keimanan

Oleh KH. Marzuky Mustamar

Apabila kamu semua melihat seorang laki laki yang selalu istiqomah ke masjid maka saksikanlah dia orang yang beriman. HR. Al Baihaqi

Iman itu merupakan sesuatu yang tersembunyi di dalam hati. Oleh karena itu, sangat rahasia sirri , sangat pribadi dan yang mengetahui seseorang itu beriman atau tidak, hanya Allah SWT dan yang bersangkutan. Iman itu bukan penampilan, bukan pula perkataan. Sebab, kalau penampilan itu bisa direkayasa. Pada zaman Nabi Muhammad SAW banyak orang yang munafik juga melakukan shalat, mendirikan masjid bahkan Abdullah bin Ubay bin Salul pun ketika wafat dikafani dengan gamis Rasulullah SAW. Secara dzahir mungkin sama dengan perilaku orang yang beriman tapi apakah sebetulnya orang itu benar benar iman atau tidak yang mengetahui hanya Allah SWT. Artinya iman itu sangat pribadi dan sangat rahasia. Namun ada tanda tanda dan tolak ukur sehingga orang itu benar benar disebut iman lahir dan bathin.

Tanda tanda Iman

Di antara tanda tanda atau tolak ukurnya orang yang beriman secara lahir adalah selalu memperhatikan shalat dan ibadah. Orang mukmin itu selalu konsen dalam memperhatikan tentang masalah shalat, sedangkan orang munafik itu kurang memperhatikan shalat ceroboh bermalas malasan, sedikit ingat ingat dengan Allah SWT, hal ini seperti firman Nya: Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk menunaikan shalat mereka melakukan dengan bermalas malasan. Mereka bermaksud riya ingin dipuji di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali QS. An Nisa 142 . Rasulullah SAW juga bersabda: Batas yang membedakan antara orang mukmin dan orang kafir adalah shalat, barang siapa yang berani meninggalkan shalat maka bisa kafir Al Jami As Shagir 5740 .

Dan akan lebih terbukti keimanannya lagi, kalau orang itu tidak hanya sekedar shalat, akan tetapi juga rajin berjamaah di masjid. Orang yang senantiasa memperhatikan shalat jamaah, memperhatikan pahala jamaah dua puluh derajat, tidak pernah mengabaikan dan meremehkanya itu semua menjadi pertanda atau tolak ukur kalau orang tersebut sangat memperhatikan masalah akhiratnya, dan itu adalah tanda iman. Kalau kita meremehkan pahala jamaah dua puluh tujuh derajat hal ini seakan akan orang tersebut tidak mempercayai akhirat.

Secara hitung hitungan duniawi orang yang berjamaah di masjid itu sebenarnya rugi dalam masalah waktu dan tenaga, karena mungkin jarak antara rumah dengan masjid agak jauh, sedangkan kalau shalat di rumah membutuhkan waktu yang relatif cepat dan praktis. Kalau melakukan shalat di masjid, harus berjalan dulu dan ini membutuhkan waktu, sesampainya di masjid melakukan shalat tahiyyatal masjid, shalat sunnah rawatib baik qabliyyah maupun badiyyah dan membaca beberapa macam dzikir. Ini semua kalau kita hitung secara duniawi maka kita rugi dalam permasalahan waktu. Namun ternyata ketika orang itu tetap mau mendirikan shalat berjamaah meskipun dari sisi duniawi mengalami kerugian maka hal itu membuktikan bahwa orang itu memang berorientasi terhadap permasalahan ukhrawi, sehingga meskipun dari sisi duniawi mengalami kerugian tapi dari sisi ukhrawi mendapatan keuntungan. Dan orang yang senantiasa berorientasi ukhrawi ini tanda atau bukti bahwa dia memang benar benar mukmin. Allah SWT berfirman: Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal QS. Al Ala 17 .

Persaksian Kebaikan

Orang yang berjamaah di masjid juga tidak bisa menjamin kalau dia benar benar mukmin. Sebab, terkadang orang yang berjamaah ke masjid itu mempunyai beberapa kepentingan misalnya orang yang jarang shalat, jarang berjamaah akan tetapi menjelang pilkada atau pemilihan gubernur menjadi sering ke masjid. Artinya tidak bisa seratus persen jamaah ke masjid itu menjadi ukurang bahwa orang itu beriman. Untuk menepis dugaan atau anggapan kalau dia itu berjamaah di masjid untuk suatu kepentingan maka ada ukuran yang kedua yakni melakukan jamaah secara rajin, istiqomah secara bertahun tahun. Ada kepentingan pribadi atau tidak dia harus senantiasa berjamaah iadatul masajid sehingga kalau orang itu bertahun tahun istiqomah shalat berjamaah ke masjid maka hampir bisa dikatan bahwa orang tersebut benar benar iman. Tidak ada motivasi lain melainkan hanya mencari keridhoan Allah SWT.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengatakan jika kalian melihat orang yang senantiasa ke masjid dan hampir bisa dikatan motivasinya hanya ridho Allah SWT, kita diperintah Nabi Muhammad SAW supaya memberikan persaksian kepadanya bahwa orang tersebut benar benar beriman. Hadits ini juga mengajarkan kepada kita untuk memberikan persaksian atas jenazah diisyhadkan. Dari Anas ra, dia berkata, Para sahabat melewati jenazah, lalu mereka membicarakan kebaikannya. Lalu Nabi SAW bersabda, Pasti. Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, dan mereka membicarakan kejelekannya, lalu Rasulullah SAW bersabda, Pasti. Kemudian Umar Ibn Khattab RA bertanya, Apa maksudnya pasti. Rasulullah SAW menjawab, Ini merupakan perkataan kalian tentang kebaikannya, maka pasti baginya surga. Dan ini adalah perkataan kalian terhadap kejelekannya, maka pasti baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi. Muttafaqun Alaih

Berdasarkan hadits di atas, Adapun gunanya bagi jenazah itu sendiri Allah SWT akan langsung memastikan dia langsung masuk surga ketika masyarakat memberikan kesaksian baik kepada jenazah tersebut. Di antara bukti keimanannya adalah rajin berjamaah di masjid. MU IPUNG