Berita Fitnah Goncang Keluarga Rasulullah

Fitnah bisa mengenai siapa saja. Bahkan, Ummul Mukminin, Sayyidah Aisyah istri Rasulullah SAW pun pernah mengalami fitnah yang sangat keji. Kisah yang masyhur dengan sebut haditsul ifki ini diriwayatkan dalam banyak hadits shohih.

Berbagai sumber riwayat mengatakan, telah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW apabila hendak bepergian jauh selalu mengadakan undian untuk menentukan di antara para istrinya yang diajak serta.  Pada waktu hendak berangkat menghadapi peperangan melawan Bani Musthaliq yang undianya keluar adalah Siti ‘Aisyah RA.

Siti Aisyah ditempatkan dalam sebuah haudaj (sekedup). Setelah peperangan berakhir beliau bersama pasukan meninggalkan medan perang hendak kembali ke Madinah, menempuh perjalanan satu setengah hari terus menerus hingga tiba di sebuah tempat.  Di sana beliau dan semua anggota pasukan berhenti untuk beristirahat dan menginap.  Keesokan harinya berangkat lagi melanjutkan perjalanan.”

Pada saat-saat rombongan siap berangkat, Siti ‘Aisyah RA. keluar dari kemah untuk suatu hajat ke tempat yang agak jauh.  Selesai menunaikan hajat dan akan kembali ke kemah, ia merasakan seuntai kalung yang dipakainya terlepas dan jatuh.  Tanpa diketahui orang lain ia pulang kembali ke tempat ia menunaikan hajat, menelusuri jalan yang dilewatinya semula, mencari-cari kalung yang hilang.  Ketika itu rombongan menduga ia sudah berada di dalam haudaj, karenanya haudaj yang tertutup rapat itu mereka angkat, dinaikkan ke atas punggung unta, kemudian berangkatlah rombongan meneruskan perjalanan pulang ke Madinah.

Siti ‘Aisyah kemudian istirahat sampai tertidur. Tidak lama, tiba-tiba datang Shafwan bin Mu’atthal As-Silmiy di atas untanya berjalan menyusul rombongan karena ia terlambat berangkat dan tertinggal sekian jauh dari rombongan Rasulullah SAW.  Ketika tahu itu adalah Siti Aisyah, ia hanya mengucapkan kalimat Innalilahi wa inna ilaihi raji’un. Ia segera turun dari untanya dan sambil menyingkir ke belakang unta dan mempersilahkan Siti Aisyah naik. Shafwan menuntun untanya mulai berjalan cepat-cepat untuk mengejar rombongan, tetapi tidak berhasil.

Setiba mereka di Madinah pasukan kaget, mengetahui bahwa diriku tidak berada di dalam sekedup.  Siti Aisyah menceritakan, Siang harinya Shafwan tiba di Madinah, ia lalu membantuku turun dari punggung unta.  Setelah itu ia pergi dan aku pun masuk ke dalam rumahku.  Aku sama sekali tidak mengira ada orang yang berprasangka buruk terhadap diriku dan terhadap Shafwan”.

Orang-orang munafik menghembuskan berita bohong. Membicarakan kedatangan Siti ‘Aisyah bersama Shafwan dengan berbagai prasangka buruk.  Pada akhirnya desas-desus itu didengar oleh Rasulullah SAW. Beliau yang semula  ramah dan penuh perhatian terhadap Aisyah, sekarang berubah. Berhari-hari Siti ‘Aisyah pilu dan sedih memikirkan suatu masalah yang ia sendiri tidak mengetahui sebabnya.  Tidak ada seorang pun yang memberi tahu kepadanya apa yang sedang menjadi pembicaraan orang banyak mengenai dirinya. Lebih dari dua puluh hari Siti ‘Aisyah RA tinggal di rumah ayahnya.  Hingga sembuh ia masih tetap belum mengetahui apa yang menjadi pembicaraan orang mengenai dirinya.

Pada suatu malam Siti ‘Aisyah keluar bersama wanita tersebut untuk keperluan buang hajat.  Di saat dua orang wanita sedang berjalan kaki Ummu Misthah berucap, “Celaka si Misthah..!” Misthah adalah anak lelaki Ummu Misthah yang turut serta dalam perang Badr melawan kaum musyrikin Quraisy.  Karena itu Siti ‘Aisyah heran mendengar ucapan yang tidak semestinya dilontarkan terhadap seorang pahlawan perang Badr (ahlul-Badr), ia lalu berkata, “Alangkah buruknya ucapan yang engkau lontarkan terhadap seorang dari Muhajirin yang turut serta dalam perang Badr bersama Rasulullah..!” Ummu Misthah tidak menanggapi kata-kata Siti ‘Aisyah, tetapi malah mengalihkan pembicaraan mengenai masalah lain.  Ia bertanya, “Hai puteri Abu Bakar, sudahkah Anda mendengar berita mengenai diri anda..?” Ummu Mitshah lalu melanjutkan pembicaraannya dengan menceritakan kepada Siti ‘Aisyah semua berita yang didengarnya mengenai diri istri Rasulullah SAW itu.  Siti ‘Aisyah merasa seolah-olah langit runtuh dan bumi terbalik menggoncangkan pikiran dan perasaannya.

Baca Juga : PAHALA MENAFKAHI KELUARGA

Desas-desus bertambah santer dan kaum munafik semakin giat menyebarkan fitnah sehingga Rasulullah SAW menjadi gusar.  Dalam salah satu khutbahnya beliau antara lain berkata, “Hai kaum Muslimin, kenapa orang-orang mengganggu ketentraman keluargaku dan mengatakan hal-hal yang tidak benar mengenai mereka..? Padahal kulihat mereka itu baik-baik saja.  Sepanjang pengetahuanku orang lelaki itu (Shafwan) tidak berbuat buruk dan tiap datang ke rumahku ia selalu bertemu denganku..!”

Setelah Rasulullah SAW mengakhiri khutbahnya berdirilah seorang dari kabilah Auz bernama Usaid bin Ja’far (sementara riwayat mengatakan ia adalah Sa’ad bin Mu’adz) lalu berkata, “Ya Rasulullah, kalau yang menyebarkan desas-desus itu orang dari kabilah Auz, kamilah yang akan menghentikannya, tetapi kalau yang berbuat itu orang-orang dari kabilah Khazraj perintahkan kami bertindak terhadap mereka..!” Kata-kata orang dari kabilah Aus itu membangkitkan kemarahan pemimpin kabilah Khazraj, Sa’ad bin Ubadah.  Ia segera menjawab, “Engkau berkata seperti itu karena engkau tahu bahwa mereka itu dari kabilah Khazraj, tetapi kalau mereka itu dari kabilahmu sendiri pasti engkau tidak akan berkata seprti itu..!” Terjadilah percekcokan sehingga nyaris berkembang menjadi perkelahian, tetapi mujurlah Rasulullah SAW cepat-cepat menyuruh mereka semua diam.

Beberapa saat kemudian beliau datang menemui Siti ‘Aisyah RA yang ketika itu sedang menangis di depan ayah ibunya, ditemani seorang wanita dari kaum Anshar yang juga turut menangis.  Melihat Rasulullah SAW datang Siti ‘Aisyah RA tetap menangis dan tidak menyapanya.  Kemudian beliau mendahului berkata, “Hai Aisyah, engkau telah mendengar sendiri apa yang dikatakan orang banyak mengenai dirimu. Jika engkau tidak melakukannya maka Allah akan membebaskanmu. Tapi jika engkau melakukannya, hendaklah engkau takut kepada Allah..! Karena Allah senantiasa berkenan menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan perbuatan yang salah”.

Siti ‘Aisyah tetap diam, ia menunggu apa yang hendak dikatakan oleh ayah-bundanya sebagai jawaban, tetapi dua-duanya ternyata tidak mengucapkan sepatah kata pun juga.  Dengan sedih dan hati kesal ia menoleh ke arah ayah-ibunya lalu berkata sambil menangis, “Kenapa ayah dan ibu diam saja, tidak menjawab..?” Dua-duanya menyahut, “Demi Allah kami tidak tahu bagaimana harus menjawab..!” Pada wajah keduanya tampak kesedihan mencekam perasaan dan kembali diam seperti semula.  Akhirnya Siti ‘Aisyah menoleh kepada Rasulullah SAW dan dengan air mata bercucuran ia berkata, “Demi Allah, aku tidak mau bertobat sebagaimana yang Anda katakan tadi, karena aku merasa tidak bersalah.  Bagaimana aku harus bertobat atas sesuatu yang tidak pernah aku lakukan..?” Setelah diam sejenak dia berkata melanjutkan, “Kalau aku tidak mengaku berbuat salah dan kalian masih tetap tidak percaya, aku hanya dapat mengatakan sebagaimana yang dahulu dikatakan oleh Nabi Yakub kepada putera-puteranya, ‘Bersabar lebih baik, kepada Allah sajalah aku mohon pertolongan terhadap apa yang kalian katakan..!'”

Tidak lama setelah itu turunlah wahyu. Sambil menyeka keringat pada keningnya Rasulullah SAW bersabda, ‘Hai, ‘Aisyah kabar gembira bagimu.  Allah telah menurunkan wahyu yang menegaskan kesucianmu..!'” Beliau lalu keluar dan berkhutbah di depan kaum Muslimin yang sedang berkumpul di dalam Masjid.  Setelah menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya dan menyatakan kesucian Siti ‘Aisyah dari semua yang didesas-desuskan orang, beliau membacakan wahyu yang baru saja diturunkan Allah SWT kepadanya.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.  Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata…. dan seterusnya”  (QS An-Nur [24] : 11-17). (Media Ummat)