Yang Disunnahkan dalam Mandi Jinabah

0

(Fasal): Fardlunya (rukunnya) mandi ada tiga macam: niat, menghilangkan najis yang melekat di badan, membasahi dengan air seluruh tubuh dan rambutnya. Yang disunnatkan ketika mandi ada empat hal: membaca basmalah, berwudhu sebelum mandi, menggosok badan menggunakan tangan, dilakukan secara berkesinambungan, dan mendahulukan anggota badan bagian kanan kemudian disusul bagian kiri.

PENJELASAN:

Pertama, niat. Sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, mandi jinabah juga diharuskan disertai niat. Mandi bisa merupakan kebiasaan, namun juga dia bisa bernilai ibadah. Dan yang membedakan hal itu adalah niat seseorang. Berdasarkan hadits yang sangat masyhur: “Semua amal itu dihitung berdasarkan niatnya…”

Oleh karena itu, jumhur (mayoritas) para ulama dari kalangan Mālikiyyah, Syāfi’iyyah, dan Hanābilah, mereka mengatakan bahwa: Niat adalah syarat sahnya thahārah mandi seseorang.

Oleh karena itu, tidak sah dan tidak cukup jika hanya berniat untuk mandi saja atau sekedar thahārah saja, tanpa ada niat untuk mengangkat hadats atau berniat agar bisa melaksanakan ibadah, seperti shalat dan lainnya.

Kedua, menghilangkan najis. Jika terdapat pada seseorang najis ‘ayniy (yaitu najis yang bisa dirasakan oleh panca indera), maka najis/kotoran tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum dia mandi.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Maimunah RA. tentang cara mandi Rasulullah SAW, Beliau membersihkan kemaluan beliau yang terkena najis dengan air. Imam An Nawawy membenarkan di dalam kitabnya, bahwa beliau mencukupkan dalam menghilangkan najis bersamaan dengan pelaksanaan mandi, dan itu pendapat yang kuat. Sedangkan menghilangkan kotoran sebelum mandi lebih afdlol (kitab al Iqna’).

Baca Juga : Kisah Cinta Umar bin Abdul Aziz

Ketiga, meratakan air ke seluruh tubuh termasuk rambut. Ini adalah wajib hukumnya, baik mereka yang berambut tipis maupun berambut lebat, harus diratakan semua.Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim dari A’isyah RA bahwasanya Nabi SAW apabila mandi jinabat, dimulai membasuh kedua tangan, lalu berwudhu sebagaimana berwudhu ketika akan sholat, lalu memasukkan jari-jari tangan beliau ke dalam air lalu menyela-nyelai pangkal rambut beliau dengan air, lalu beliau menyiramkan air ke  seluruh tubuh sebanyak tiga gayung menggunakan tangan beliau, lalu meratakan air keseluruh kulit beliau.

Yang Disunnahkan

Adapun yang disunnahkan dalam mandi jinabah, yaitu:

Pertama, membaca basmalah. Berdasarkan hadits : “Setiap sesuatu yang dianggap penting menurut syara’ (mengandung nilai ibadah) tidak didahului dengan membaca Bismillaahir Rohmaanir Rohiim, maka terputus”. Pengertian terputus ialah: kurang dan tidak barokah.

Kedua, berwudhu. Jadi Rasulullah SAW sebelum mandi jinabah, beliau berwudhu terlebih dahulu. “Rasulullah SAW apabila beliau mandi junub beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya. Kemudian tangan kanannya menuangkan air kepada tangan kirinya. Lalu beliau mencuci kemaluan (yaitu dengan tangan kirinya tadi). Kemudian beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Lalu beliau, setelah itu, mengambil air dan memasukkan jari-jari beliau ke rambut bagian dalam. Dan apabila Beliau merasa sudah merata maka Beliau tuangkan air ke kepalanya 3 kali tuangan. Lalu Beliau mengguyur seluruh tubuhnya dan membasuh kakinya.” (HR. al-Khamsah/ imam yang lima)

Ketiga, menggosokan tangan kepada seluruh tubuh. Tujuannya adalah memastikan bahwa air telah merata ke seluruh tubuhnya

Keempat, muwalah, yaitu bersambung dari satu rukun atau kegiatan ke rukun berikutnya. Kelima, Mendahulukan bagian yang sebelah kanan dari bagian yang sebelah kiri, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari. “Bahwasanya Rasulullah SAW suka mendahulukan bagian sebelah kanan dalam segala urusan sampai-sampai dalam urusan berwudhu dan urusan memakai sandal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (Media Ummat)

Comments are closed.