Wanita Tidak Boleh Dipaksa

0

Perhatikanlah bagaimana para sahabat Rasulullah SAW  memahami nilai-nilai keluhuran Islam dan mereka praktekkan dalam alam nyata dengan indahnya, dalam pergaulan mereka dengan seorang wanita.

Pada suatu hari Umar bin Khattab datang kepada Aisyah RA untuk meminang saudarinya Ummu Kaltsum binti Abu Bakar RA. Aisyah bersuka cita sekali dengan lamaran khalifah itu. Sesudah beliau pergi, gadis itu menyatakan dengan gusar kepada kakaknya, “Apakah kau

akan mengawinkan aku dengan Umar?” Kakak sudah mengenal bagaimana cemburu dan kasar kehidupannya? Demi Allah, kalau kakak memaksaku juga, akan aku laporkan kepada Rasulullah dan menjerit-jerit memanggilnya (yakni dikuburnya). Aku hanya mau kawin dengan pria Mekkah yang mampu memberikan kenikmatan dan kebahagiaan hidup kepadaku”.

Akhirnya Aisyah memberitahukan hal itu kepada Amru bin Ash dan memohon pertolongannya. Maka Amru bin Ash pun menyatakan kesanggupannya untuk memecahkan masalah itu. Amru bin Ash pergi kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khattab lalu berkata: “Bagaimana menurut pendapatmu kalau saya memberikan kepadamu istri tambahan?”

Maka jawab Umar: “Mudah-mudahan yang kamu berikan itu adalah yang aku sepakati hari ini!” Amru bertanya pura-pura: “Siapa dia, ya Amirul Mukminin?”

Baca Juga : DZIKIR ADALAH OBAT HATI

Umar menjawab: ”Ummu Kaltsum binti Abu Bakar. Amru mencela: “Kenapa anda mau mengawini wanita itu, sedangkan ia setiap hari menyesalkanmu atas kematian ayahnya”.

Umar bin Khattab sadar: “Apakah kau datang atas perintah Aisyah?”

Amru bin Ash berterus terang: ”Ya!” Akhirnya Amirul Mukminin, Umar bin Khattab mem-

batalkan pinangannya itu, dan gadis tersebut menikah dengan Thalhah bin Abdullah.

Ini bukan dongeng, tetapi suatu perjalanan hidup yang mengajarkan pada kita, sampai di mana kebebasan muslimah dan bagaimana kekerasan sikapnya menentukan pilihan hidupnya, siapa dia, dan bagaimana sikap serta tingkah lakunya? Menjadi istri kepala negara merupakan cita-cita semua wanita, karena dengan demikian ia akan mendapatkan kedudukan tinggi di mata bangsa dan ummatnya, serta bisa mendapatkan berbagai fasilitas dengan mudah.

Namun wanita sebagai manusia juga mempunyai cita-cita yang tidak bisa dipenuhi oleh kepala negara, dan dia menempatkan cita-cita tersebut lebih utama dibanding sekedar kedudukan tinggi dan tersedianya kemudahan-kemudahan sehingga akhirnya dijatuhkanlah pilihannya itu kepada pria dari kalangan rakyat biasa.

Ia menolak secara terang-terangan pinangan kepala negara, dan ia lebih mengutamakan seorang rakyat biasa. Bahkan ia sempat mengancam akan mengadukan ke kuburan Rasulullah apabila ada unsur paksaan dalam hal ini. Dia tidak perduli lagi dengan amirul mukminin dan kedudukannya. Dia tidak gentar dengan keputusannya dan tidak perduli lagi apakah akan diterima dengan baik atau dengan marah oleh amirul mukminin, karena ia menggunakan hak yang disyariatkan kepadanya, bahwa dialah orang pertama yang menentukan  diterima atau ditolak lamaran tersebut. Dan Islam tidak membenarkan orang memaksa wanita untuk menikah dengan orang yang tidak disukainya. (Media Ummat)

Comments are closed.