Wanita Islam dalam Kehidupan

Wanita Islam tidak segan-segan menawarkan dirinya untuk berperang dan berkorban demi agamanya. Aminah binti Qais bin Abis Salath Al-Ghifariyah berkata: ”Saya datang bersama beberapa orang dari Ghifar menemui Rasulullah SAW. Kemudian kami berkata kepada beliau: ’Kami ingin keluar bersamamu demi wajahmu (cinta kami kepadamu) untuk mengobati mereka yang sakit, dan membantu kaum muslimin dengan segala daya yang dapat kami lakukan’, maka jawab Rasulullah SAW: ’Silahkan dengan berkat Allah!’ ”

Apakah wanita-wanita agung dan terhormat itu kepentingan hidupnya di rumah saja dan tidak keluar sama sekali? Apakah demikian agama mengajarkan mereka, menempatkan wanita dalam kedudukan yang tidak layak sebagai manusia? Padahal  agama telah membagi tugas hidup antara wanita dan laki-laki, karena ia mempunyai arti dan nilai penting dalam masyarakat manusiawi, dan karena tugas tersebut tidak mungkin dilaksanakan sendiri oleh laki-laki tanpa keikutsertaan wanita dalam berbagai lapangan dan medan kehidupan.

Mengenai keberanian dan ketabahannya di medan perang, sudah mencapai puncak yang kadang kala mengagumkan orang laki-laki juga. Menurut Umi Musa Al-Lakhmiyah, ia pernah menyaksikan sendiri dalam perang  Yarmuk, katanya: ’’Ketika kami bersama jamaah wanita, tiba-tiba terlihat peperangan berkecamuk kembali, dan saya melihat seorang pria musuh menyeret seorang pria muslim. Kemudian saya cepat-cepat mengambil tiang pancang kemah dan menghampiri orang itu, kemudian saya hantam batok kepalanya dengan besi itu, lalu saya pergi melepaskan tawanannya itu, dan orang itu pun membantu saya melepaskan dirinya dan menawan musuhnya”.

Demikianlah fakta keikutsertaan wanita Islam dalam berbagai lapangan kehidupan. Islam telah menetapkan yang demikian itu baginya. Suatu omong kosong yang tidak akan dikatakan kecuali oleh orang bodoh atau jahat. Kedua makhluk itu kata-katanya jelas tidak usah dinilai, apalagi akan dihargai.

Baca Juga : AL-KHABIR (YANG MAHA MENGETAHUI)

Memang adakalanya akibat ulah beberapa orang Islam pada kurun waktu terakhir ini, atau karena lemahnya kaum muslimin dan kuatnya musuh-musuh Islam, membantu mulusnya pembicaraan si bodoh dan si jahat itu untuk bisa diterima akal. Tentu saja Islam dalam masalah itu tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dibebani pertanggungjawaban. Islam sudah memberikan haknya (kaum wanita), sudah memelihara kedudukannya, sudah meninggikan martabatnya, sudah menetapkan eksistensinya, dan meninggikan semua permasalahannya sehingga mencapai

puncak yang tidak pernah dicapai oleh masyarakat maupun agama mana pun juga.

 

Wanita dalam Masyarakat Islam

Mari kini kita berbicara tentang kedudukan wanita muslimah dalam masyarakat Islam dari segi fiqih. Mereka tidak membiarkan apa pun berlalu sia-sia, selama ia menyadari bahwa kedudukannya sebagai da’i Islam yang mengharuskan menguasai hal demikian. Mereka orang-orang yang tidak sok pinter dan sok ilmiah, akan tetapi mereka senantiasa rendah diri, berbicara jujur, dan mengerjakan semua yang bisa dikerjakan sesuai dengan aslinya. Mereka menghayati Islam secara alamiyah, sesuai dengan titah Allah dan Rasulnya Muhammad Saw.

Wanita Islam yang shalihah boleh dikunjungi oleh jamaah kaum laki-laki dan didengarkan kata-katanya, dan suaranya itu dalam kepentingan dan kebajikan bukanlah aurat. Kalau tidak demikian tentulah Aisyah binti Abu Bakar ra. tidak memperkenankan dirinya ditanya oleh jamaah kaum muslimin dan tidak akan menjawab pertanyaan mereka. Begitu pula dengan tokoh muslimat yang lainnya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa wanita muslimah mempunyai hak untuk keluar rumah menunaikan tugas dan keperluan yang diperkenankan, yang tidak meman-

cing perhatian dan merangsang lawan jenisnya.