Wanita Berhak mendapatkan Tempat di Masyarakat

0

Seorang wanita muslimah boleh saja masuk ke tengah-tengah sekelompok orang laki-iaki yang sedang terjadi pertentangan sengit di antaranya, dengan maksud meringankan atau melenyapkan fitnah yang mungkin terjadi di antara mereka, seperti yang dilakukan Ummul

Mukminin, Sayidatina Aisyah RA, dalam “Waq’atul Jamal”. Dengan cara demikian diharapkan mereka malu dan kembali sadar.

Dalam menafsirkan firman Allah yang berbunyi: “Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap tinggal di rumahmu”. (QS Al-Ahzab: 33).

Kata Qorna (tetap tinggal), menurut sementara mufasirin berasai dari kata baku: Al-Waqar hormat atau Al-Qarar  artinya tinggal, atau Aqrarna ’ainan  menyenangkan hati, dan sebagainya.

Kepada semua penafsir kami serahkan untuk memahami arti dan maksud tujuan ayat tersebut. Namun bolehlah saya mengatakan bahwa di sana tidak ada jerat dan penghinaan terhadap wanita muslimah dalam Islam seperti yang diimpi-impikan oleh orang yang berhati keji dan jahat, selama muslimah berpegang teguh pada ajaran agamanya. Malah sampai-sampai Ibnu Hazam (anda tentu kenal kedudukannya di deretan para cendekiawan Islam), mengeluarkan fatwa membolehkan kaum wanita menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan, berdasarkan firman Allah:  “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya , dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manu-

sia supaya kamu berlaku adil.” (QS. An-Nisa: 58).

Baca Juga : KAJIAN MUSLIMAH

Ia menyatakan bahwa firman ini ditujukan kepada semua kaum muslimin, baik laki-laki maupun wanita, orang merdeka atau budak, tidak ada bedanya dalam agama ini, kecuali kalau terdapat nash atau pengkhususan nashnya.

Hendaknya diketahui oleh yang belum tahu, bahwa wanita muslimah memiliki keberanian yang patut dibanggakan, sehingga ia tidak segan-segan menuntut kepada Rasulullah SAW supaya jangan dianaktirikan, supaya beliau tidak hanya mengajar kaum laki-laki saja.

Karena beliau SAW mengetahui kedudukannya dalam masyarakat Islam, maka tuntutannya itu dikabulkan dengan senang hati. Maka Beliau pun muncul sebagai gurunya yang pertama, untuk dijadikan suri tauladan. Jadi tidak ada salahnya seorang laki-laki yang shaleh menjadi guru dan pendidik wanita muslimah. Salah seorang wanita muslimah datang kepada Rasulullah SAW dan memohon: ”Ya, Rasulullah! Kaum laki- laki itu pergi dengan memboyong haditsmu. Maka sediakanlah untuk kami juga waktu, kami akan datang kepadamu untuk mernpelajari apa yang diajarkan Allah kepadamu”. Maka jawab Rasulullah: ’Baiklah, kalian supaya berkumpul pada hari anu dan anu”. Demikianlah Rasulullah SAW mengajar mereka di tempat dan waktu yang sudah disepakati bersama, tentang apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadanya. (HR. Muslim)

Dengan demikian maka jelaslah bahwa wanita muslimah pelajar dan penuntut ilmu pertama, dan Rasulullah merupakan guru dan pengajarnya yang pertama, di mana pada waktu yang sama orang Barat atau lainnya masih memandang wanita sebagai lambang kejahatan,

dan suatu potret karya setan, tidak boleh duduk di majlis tempat laki-laki duduk. Kemudian mereka putar balik fakta palsu secara tidak tahu main, bahwa Islam menghalang-halangi kaum wanita menduduki tempatnya yang layak di masyarakat Islam.

Comments are closed.