3 views

Ulama, Keluarga dan Tetangga

0

أَزْهَدُ النَّاسَ فـِى الْعَالِمِ أَهْلُهُ وَجِيْرَانُهُ. رَوَاهُ ابْنُ عَدِى عَنْ جَابِرٍ

            Artinya: “Orang yang paling membenci ulama itu adalah keluarganya  dan para tetangganya”. (HR. Ibnu Adi dari Jabir)

Sejarah membuktikan, banyak nabi yang dimusuhi oleh keluarganya sendiri. Nabi Nuh AS dimusuhi istri dan anak-anaknya. Nabi Luth AS juga tidak diikuti oleh istrinya. Nabi Ibrahim AS tidak diikuti oleh ayahnya. Nabi Muhammad SAW juga dibenci dan dimusuhi oleh paman-paman beliau. Fakta juga menunjukkan, banyak pondok pesantren yang santrinya dari daerah jauh. Sementara tetangga kiri kanannya tidak mau ngaji. Bahkan tidak sedikit yang memusuhi.

Fenomena ini sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Orang yang paling membenci dan menjauhi orang alim itu adalah keluarga dan  para tetangganya. Orang alim yang benar-benar ma’rifat billah, hanya berorientasi mencari ridho Allah SWT, senantiasa menegakkan dan menyampaikan kebenaran, tidak pernah melanggar hukum Allah SWT. Demi kebenaran dia berani dibenci oleh orang banyak. Itu semua adalah karakter orang yang benar-benar alim dan mempunyai keberanian. Dia ma’rifat kepada Allah SWT, mengetahui sesuatu yang diridhai Allah SWT, mengerti kebenaran menurut Allah SWT dan ketika meyakini itu semua dia mengamalkan, menyampaikan dan menyebarluaskannya dengan berbagai resiko.

Ada yang menerima, ada yang menolak, ada yang suka dan ada yang tidak suka. Itu semua adalah sikap dan mental orang yang benar-benar alim. Dan orang yang tidak berani mengambil akibat atas perilakunya itu dia bukan termasuk alim, tapi penakut. Jadi, orang yang benar-benar beriman dan alim dia tidak akan takut kecuali hanya kepada Allah SWT. Dan sesuai dengan firman-Nya, “Mengapa kamu takut kepada manusia, padahal Allah-lah yang berhak untuk kau takuti. Jika kalian benar-benar beriman”. (QS. At-Taubah: 13).

Dua Akibat Sikap Manusia

Orang alim yang oleh agama dituntut berfikiran, berkeyakinan, berilmu, berbuat, bersikap, dan mengambil keputusan seperti itu, yakni senantiasa berorientasi mencari ridha Allah SWT itu mempunyai dua akibat, dibenci dan disenangi manusia. Dan manusia yang pertama membenci itu terkadang dari keluarganya, istrinya. Dan ini sesuai dengan peringatan Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kamu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Oleh karena itu berhati-hatilah.”(QS. At-Taghabun 14).

Baca Juga : PENTINGNYA RUH DAKWAH

Meskipun demikian, kalau memang dia alim, berkarakter kuat, dia akan senantiasa berjuang yang mana terkadang istri dan keluarganya yang menjadi penghalang. Begitu juga dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Pernah suatu saat istri-istri nabi itu memprotes dengan tindakan Rasulullah SAW,  kurang diperhatikan, sering ditinggal dan sebagainya. Begitu juga dengan istri para ulama.

Saat Rasulullah SAW diprotes oleh istri-istrinya, Al-Qur’an pun menyuruh Nabi untuk menentangnya, “Wahai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah akan kuberikan kepadamu mut’ah dan aku akan ceraikan kamu dengan baik” (QS. Al-Ahzab 28).

Oleh karena itu sejak awal para calon ulama kalau mencari istri pilihlah faktor akhlak, ilmu dan agamanya. Terlebih dari itu, carilah yang nasabnya baik. Jangan menikah karena hartanya, cantiknya dan pangkatnya. Kalau calon ulama salah dalam memilih calon istri, maka istrinya nanti tidak mendukung perjuangan agama Islam. Tidak berjuang itu berdosa, malu kepada gurunya dan saat berjuang istri tidak mendukung. Untuk antisipasi hal itu, maka dari awal dalam  memilih calon istri itu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Allah SWT berfirman, “Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, beriman, ta’at, bertaubat, ahli ibadah, senantiasa berpuasa baik janda atau perawan.” (QS. At-Tahrim: 5)

Ayat ini menjelaskna kriteria istri yang baik. Di antaranya mempunyai mental berserah diri, memegangi Islam dengan kuat, iman dan yakin kepada Allah SWT, bersikap zuhud, rajin beribadah, kalau salah segera bertaubat, rajin puasa. Kalau calon istri kita mempunyai kriteria ini, maka janda maupun perawan baik semua. Ini semua bertujuan kalau saat kita berjuang mendapat dukungan dari istri dan keluarga. Sebab kata Nabi Muhammad SAW orang yang peling membenci ulama itu adalah istri, keluarga dan para tetangga dan ini sangat banyak kita jumpai di masyarakat. (Media Ummat)

Comments are closed.