TSUNAMI SPIRITUAL DAN MORAL

0

Kesibukan kita sebagai orangtua, kadang kita tidak menyadari pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kita. Mereka telah tumbuh dari anak anak menjadi pra atau remaja. Tubuhnya tambah tinggi, wajah mulai padat, tungkai tangan dan kaki memanjang, tubuh berbentuk. Bahasa agamanya anak-anak ini memasuki tahapan akil baligh! Mereka menghadapi atau menjalani masa pubertasnya. Tapi, ironinya perkembangan anak ini tidak begitu dikenali oleh orang tuanya.

Seiring itu, berbagai hal terjadi termasuk kebiasaan mereka menggunakan Gadget dan Sosmed. Saya ingin berbagi dengan anda pengalaman saya beberapa hari yang lalu dalam versi yang lain.

Duduklah di samping kiri saya seorang ayah. Umurnya sekitar awal 40 an. Saya sudah terlebih dahulu ngobrol panjang dengan anak sulungnya, laki laki kelas 9 yang dikeluhkan ibunya kecanduan games.

”Apa yang bapak keluhkan dengan anak lelaki sulung bapak, pak?”  “Tidak ada bu, hanya suka main games,” jawabnya. “Apakah menurut bapak kesukaannya main games itu tidak serius?,” tanya saya. “Yah biasa saja bu, karena kalau saya ajak sholat ke mesjid masih mau dan masih

mau ngaji kalau saya suruh”.

“Tahukah bapak bahwa anak bapak bermain games on line pakai wifi tetangga sampai 45 -65 jam per pekan, sedangkan jumlah jam belajar di sekolah hanya 36.5 jam se pekannya?”

“Menurut ahli tentang kecanduan games namanya Graham Harding pak, kalau main games di atas 20 jam sepekan seseorang sudah kecanduan pak. Jadi menurut bapak, dengan lamanya anak bapak bermain apakah anak bapak sudah kecanduan belum pak?”.

“Yah sudah lah bu”, jawabnya agak berat. “Apakah bapak tahu anak bapak sudah ikut lomba games online se Asia Tenggara dengan timnya dari dua Negara tetangga?” tanya saya. “Oh, gitu ya bu.. saya Nggak bu”.

Saya pastikan kalau saya tanyakan lebih lanjut tentang anaknya, saya akan mendapatkan jawabannya yang menunjukkan sama abainya beliau terhadap berbagai bentuk kebiasaan dan dampak buruk dari kecanduan lainnya yang dialami anaknya kini, akibat salah guna dari gadget dan sosmed yang difasilitasinya atas dasar kasih dan cinta.

Saya bersandar sejenak, menghela nafas panjang dan terdiam, menyeru Allah. Biarlah bapak itu juga memerlukan waktu merenungi kondisi anaknya, sementara saya menata rasa. Menari-nari di benak saya gambaran berapa juta ayah dan ibu di luar sana yang setara sikapnya dengan bapak muda di depan saya ini.

Abai, tidak tahu, anggap enteng, merasa aman, anak saya oke oke saja. Menganggap apa yang dilakukan anak dan remajanya sesuatu yang biasa untuk anak seumurannya. Jadinya merasa berat dan terbebani sehingga gak sanggup dan  menyerah pada keadaan. Semua itu adalah akar tunggal dan akar majemuk dari berbagai masalah dan bencana yang sekarang sedang kita alami.

 Baca Juga : OPTIMIS DAN BANGKIT DARI KETERPURUKAN

Tsunami Pornografi

Langsung teringat oleh saya kata kata pengantar teman saya Mark B Kastleman untuk bukunya yang edisi bahasa Indonesia: “Bangkit dan sadarlah! Pornografi di Internet bukanlah sebuah rekreasi yang tidak berbahaya. Ia adalah tsunami “SPIRITUAL DAN MORAL” mengerikan yang akan menyapu seluruh bangsa anda. Menghancurkan siapapun yang dilewatinya. Jika tidak segera ditangani ia akan menhancurkan semua orang dan segala sesuatu yang anda sangat sayangi.

Dan yang paling rentan dan rapuh dalam masyarakat anda adalah mereka yang berada dalam bahaya terbesar yaitu anak-anak dan remaja kita, satu satunya masa depan bangsa kita!”.

Jadi bagaimana menghadapi anak remaja kita dengan games dan sosmednya ?

Pertama, marilah kita saling membangunkan diri sendiri, pasangan, saudara kandung dan ipar, orang tua (bagi mereka yang menitipkan anaknya pada kakek neneknya), teman dan tetangga kita dari pingsan, abai dan anggap enteng terhadap kebiasaan anak dalam menggunakan gadgetnya. Bagaimana dahsyatnya dampak negatif dari games dan sosmed yang akan kita bahas lebih lanjut di bawah ini.

Kedua, kita harus menyadari bersama bahwa anak kita bukan milik kita. Jadi jangan ketika dianugrahi ke kita mereka sempurna, saat kita pulangkan ada yang cedera: otak atau jiwanya.

Ketiga, untuk bisa membicarakan atau mengatur ulang serta membatasi penggunaan gadget dan sosmed dengan anak nampaknya terlebih dahulu kita harus berupaya untuk memperbaiki komunikasi agar mampu menghangatkan kembali hubungan dan membuat kita dapat menyelami sejauh mana keterlibatan dan ketergantungan anak kita dengan kedua hal tersebut dan bagaimana perasaannya.

Keempat, mari menoleh kembali ke pengasuhan masa kecilnya, apa saja yang terabaikan dan yang tertinggal selama ini dan apa akibatnya bagi perkembangan kemampuan berfikir, harga dan kepercayaan diri serta pemahaman dan praktek agama dalam kehidupan sehari hari yang berakibat pada kemampuan pengontrolan dirinya dari melakukan hal yang tidak patut bagi diri sendiri atau terhadap orang lain di sekitarnya.

Kelima, bagaimana peran dan keterlibatan ayah selama ini dalam pengasuhan. Semoga tidak seperti contoh bapak diatas. Karena kalau ya, maka jarak terentang itu memerlukan waktu yang panjang untuk merapatkannya kembali. Sementara peran ayah sangat signifikan dalam pengarahan, pengontrolan dan perbaikan anak, lepas dari anak kita lelaki atau perempuan.

Keenam, perlu sekali teman teman ketahui, dari evaluasi tim psikolog kami yang praktek di klinik selama dua tahun terakhir ini, terjadi perubahan drastis dari jenis kasus yang kami hadapi. Kebanyakan dari masalah yang dihadapi bukan lagi seputar ketergantungan atau adiksi pada internet, games atau sosmed lagi tapi sudah pada dampaknya berupa menunjukkan dan mempertontonkan diri perilaku Gay dan Lesbi, seks suka sama suka, dan berbagai kenakalan remaja yang khas era digital yang sangat berbeda dengan kenakalan remaja dulu.

Ketujuh, perlu mengecek tentang games apa yang kini dimainkan anak, berapa jenis games dan berapa besar konten pornografi di dalamnya. Hal lain adalah mencermati frekuensinya bermain, bukan tidak boleh sama sekali, tapi maksimal 15 -20 jam sehari. Hindari anak tidak bermain di hari sekolah/ week days tapi di week end anda bebaskan dan melampaui 20 – 30 jam untuk dua hari. Sama saja bohong.

Kedelapan, penting bagi anda berusaha untuk mengenali bakat anak anda dalam hal games ini. Seperti anak yang saya singgung diatas, sebenarnya selain ahli dalam main games, ternyata dia juga kreatif dalam desain dan sering dimintai teman-temannya untuk buat logo grup olah raga atau hanya kelompok bermain. Kata kuncinya, anak dibantu bukan hanya jadi konsumen atau pengguna tapi jadi pencipta atau produsen. Terserah apa, sejauh itu positif dan bermanfaat bukan yang berhubungan dengan maksiat.

Kesembilan, setelah anda mengenali semuanya baru anda mengarahkannya sesuai dengan temuan anda. Jangan putus harapan terhadap rahmat Allah. Setelah semua usaha, tutuplah dengan doa. (Media Ummat)

Comments are closed.