0 views

Tenang Menghadapi Cercaan

0

Di saat media informasi berkembang begitu pesatnya, komunikasi antar manusia begitu terbuka. Media sosial atau medsos menjadi komunikasi yang paling moncer. Namun, media sosial juga menghadirkan permasalahan yang cukup serius. Terbukti dengan begitu banyaknya berita bohong bahkan fitnah yang tersebar. Begitu mudahnya orang mengeluarkan komentar caci maki dan hujatan. Ujaran kebencian dan permusuhan juga semakin terbuka. Lalu bagaimana kita bersikap, manakala orang lain menghina atau mencaci kita. Menyebar aib kita, bahkan memfitnah kita.

Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat tenang dalam hidupnya. Beliau menghadapi badai kehidupan yang jauh lebih berat daripada kita. Meski menghadapi cacian, makian, hujatan, fitnah, sumpah serapah, kebencian, bahkan upaya pembunuhan Rasulullah SAW tetap tenang.

Salah satu yang membuat kita galau dan nelangsa adalah salah dalam menyikapi perkataan orang lain. Kalau ada perkataan yang tidak cocok dengan kita, kita cenderung tersinggung, jengkel, marah dan tak jarang menyerang balik yang bersangkutan. Ini semua mencuri banyak hal dari kita. Mencuri waktu, mencuri perasaan, mencuri ketenangan, mencuri kemuliaan bahkan mencuri pahala kita.

Orang yang memahami persoalan kehidupan, dia akan tetap tenang dalam hidupnya di tengah beragam kepahitan yang dialaminya. Seperti orang yang menghadapi soal ujian yang berat, namun dia tenang saja, karena dia sudah tahu jawabannya. Sebaliknya, orang yang tidak tahu jawabannya, sebelum ujianpun sudah tidak tenang.

Baca Juga : SIAPA ANAK KITA?

Bergantung Tujuan Hidup

Orang yang tenang itu bergantung kepada cita-cita dan tujuannya. Orang yang cita-citanya penilaian orang, ingin dihargai orang, ingin diakui sebagai orang yang berjasa, ingin mendapat kedudukan, maka dia mudah tersinggung ketika orang lain tidak menghargainya atau tidak mengakui perannya. Ini semua adalah tujuan hidup yang rendah karena bersifat duniawi. Adapun orang yang cita-citanya akherat, ingin mendapat ridho Allah, maka tidak akan mudah tersinggung, sakit hati apalagi dendam. Yang selalu dia pikirkan apakah Allah ridho.

Oleh karena itu, kalau hati kita sedang tersinggung, coba tanya ke dalam hati kita. Apa yang menjadi cita-cita atau tujuan hidup kita. Kita ini mengharap penilaian orang atau penilaian Allah. Kita mengharap cinta Allah yang Maha Segalanya atau orang lain yang terbatas. Kita mencari kedudukan di hadapan Allah, atau kedudukan di hadapan orang.

Bagi yang tujuannya mendukung salah satu calon dalam pilkada atau pilpres, ketenangan hidupnya bergantung dari tanggapan orang terhadap calon pilihannya. Kalau di media sosial calonnya dihina, dicaci atau dijatuhkan, dia akan tersinggung, marah bahkan membalas dengan cacian, hinaan dan fitnah kepada calon yang didukung orang lain. Diapun akan selalu tegang, melihat hasil poling calonnya. Coba kita pikir dalam-dalam. Kalau kita ikut-ikutan mencerca, mencaci dan memaki di media sosial lalu apa dampak baiknya bagi kita. Kita tidak mendapat apa-apa kecuali jiwanya tambah tegang, jengkel dan dosa.

Kalau ada orang lain ngomong jelek kepada kita, ya biarlah itu pilihan dia. Kita tidak perlu ikut-ikutan ngomong jelek. Pilihan kita tetap ngomong yang baik-baik. Kita pilih sikap dan amal yang disenangi Allah.

Setiap kita dihina apalagi difitnah, maka pahala orang-orang yang menghina dan memfitnah kita akan diberikan kepada kita. Kita akan kaget melihat limpahan pahala di akhirat. Kalau orang yang menghina dan memfitnah kita tidak punya pahala, maka dosa kita akan diambil dan diberikan kepadanya. Ini adalah keadilan Allah. Seseorang berbuat harus ada konsekuensinya.

Selanjutnya kalau kita dihina maka dosa-dosa kita akan  gugur. Kita ini memiliki banyak dosa. Maka ketika ada yang mencaci dan memfitnah, maka kita harus bersyukur dan menikmati karena saat itu dosa-dosa kita sedang berguguran. Demikianlah, orang yang memahami tujuan hidupnya akhirat maka dia tidak mudah bereaksi. Dia akan tenang dan menikmati rahmat Allah SWT lewat sikap buruk orang lain.   (Media Ummat)

Comments are closed.