Tata krama Menyebut Nama Nabi

0

Para ulama berbeda pendapat tentang menyertakan kalimat “sayyidina” dalam shalawat atas Nabi, baik ketika shalat maupun di luar shalat.  Untuk di luar shalat, para ulama Ahlussunnah sepakat membolehkan menambah kata sayyidina. Adapun di dalam shalat (ketika tasyahhud), ada perbedaan pendapat. Namun, mayoritas ulama menyatakan bahwa boleh menyertakan kalimat sayyidina, bahkan ada yang menghukumi sunnah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW dari Abi Sa’id alkhudri berkata:”Kami berkata kepada Rasulullah:”Wahai Rasulullah, ini adalah salam untukmu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu ?”, maka Rasulullah berkata: ”Ucapkanlah:“Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin ‘abdika wa rasulika  kamaa shallaita ala Ibrahiim, wabaarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ali muhammadin, kamaa barokta ‘alaaIbrahim wa a’la ali Ibrahim”.

Jika kita melihat hadits di atas, kita ketahui bahwa Rasulullah memerintahkan bacaan shalawat dengan tanpa menyertakan kalimat “sayyidina”. Hal ini akan memberikan kesan bahwa para ulama’ yang berpendapat lebih utama bershalawat dengan menyertakan kalimat “sayyidina” itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.

Para ulama yang menyertakan lafadz sayyidina dalam bershalawat mendasarkan pada prinsip, “sulukul adab khoirun min imtitsalil amri”(adab kepada Rasulullah, dengan memanggil yang lebih mulia adalah lebih utama daripada melaksanakan perintah Beliau.

Jadi, menambah kata sayyidina sebagai bentuk adab atau tatakrama ketika memanggil atau menyebut nama Nabi SAW. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “Ahsinuu as-shalaata ala nabiyyikum” (baguskanlah dalam bershalawat kepada nabi kalian).

Baca Juga : Kasiat dan Manfaat Kencur

Imam Ramli dan Imam Ibnu Hajar al-Haitami bersepakat sunnahnya menambah kata sayyidina ketika bershalawat kepada Nabi SAW, di dalam shalat maupun di luar shalat.

Demikian juga Syekh Muhammad Al-Fasi, dalam Syarh Dalailul Khoirot menerangkan, yang benar adalah bolehnya menambah lafadz “sayyidina” atau “maulaana” yang memiliki makna memuliakan dan mengagungkan.

Adapun riwayat hadits yang dijadikan hujjah larangan mengucapkan kalimat “sayyidina” kepada Rasulullah oleh sebagian golongan adalah adalah hadits, Laa tusayyiduunii fisshalaati: (janganlah kalian mengucapkan kalimat “sayyid” kepadaku).

Hadits ini menurut Imam Suyuthi tidak memiliki dasar sama sekali. Menurut beliau, Nabi SAW tidak menyertakan lafadz “sayyid” dalam shalawat yang diajarkannya adalah untuk menghindari sifat angkuh atau sombong. Oleh karena itu Beliau SAW bersabda: “Ana sayyidu waladi Adam, walaa fakhr” (Aku adalah penghulu anak cucu Adam, namun tidak ada kebanggaan).

Adapun bagi kita, maka wajib hukumnya untuk menghormati dan memuliakan atau mengagungkan Nabi SAW. Allah SWT telah melarang kita memanggil Beliau dengan langsung menyebut nama. Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)…(QS. al- Nur: 63).(Disarikan oleh Fahrurozi dari kitab Sa’adatuddaroin, Fi Assholaati Ala Sayyidil Kaunain, halaman 36-37)

Comments are closed.