7 views

Tahun Duka Baginda Nabi SAW

0

Lima Kejadian Pahit Yang Menimpa Nabi

Sebagai seorang manusia biasa, walaupun beliau adalah kekasih Allah SWT Rasulullah SAW pernah ditimpa musibah berat yang berpengaruh pada dakwah Islam. Itulah periode yang disebut ‘Aamul Huzni (tahun duka cita). Mengapa dinamai tahun duka cita? Karena dalam satu tahun itu, yakni pada tahun ke-10 masa kenabian, Rasulullah SAW banyak mengalami kesedihan-kesedihan yang bersifat “manusiawi”. Setidaknya ada 5 peristiwa pahit yang mempengaruhi kejiwaan Nabi Muhammad SAW.
Diboikot 3 Tahun

Pertama, tahun terjadinya klimaks dari tiga tahun pemboikotan para pemeluk Islam di perkampungan Abu Thalib. Paceklik panjang terjadi hampir 40 bulan sejak awal Muharram tahun ke-7 Kenabian hingga Muharram tahun ke-10 Kenabian. Seluruh kaum muslimin terutama dari Bani Hasyim (keluarga Ibunda Nabi SAW) dan Bani Muththalib (keluarga Ayah Nabi SAW) diboikot oleh seluruh masyarakat Makkah. Boikot terjadi karena kaum Quraisy khawatir terhadap semakin banyak  yang memeluk Islam. Mereka kehabisan logistik makanan dan air, ternak menjadi kurus dan mati, anak-anak dan kaum ibu merintih kelaparan setiap hari. Mereka hanya memakan dedaunan dan kulit binatang. Bahkan alas kaki pun dimakan untuk mengganjal perut. Semua itu dijalani selama 3 tahun dengan penuh keprihatinan dan kesabaran, hingga Allah swt berkenan merusak Piagam Boikot yang digantung di tembok Ka’bah melalui perantaraan rayap, sebagaimana diabadikan dalam Surat Al Qamar: 2 (HR. Bukhari).

Abu Thalib Wafat

Meninggalnya paman Rasulullah SAW, yakni Abu Thalib. Setelah ikut mengalami 3 tahun pemboikotan yang membuat tubuhnya kurus dan penyakit tulang yang berat, paman pembela dakwah yang tak kunjung mendapatkan hidayah ini, akhirnya meninggal dunia pada bulan Rajab dalam usia lebih dari 80 tahun. Ia menderita sakit keras selama 6 bulan. Abu Thalib adalah sesepuh Mekkah yang sangat disegani oleh kaum Quraisy. Dialah satu-satunya alasan mengapa kafir Quraisy setengah hati mengganggu Rasulullah SAW. Rasulullah SAW ingin sekali memintakan ampunan Allah SWT untuk paman tersayang atas kebaikannya selama 10 tahun membela dakwah dan melindungi Nabi. Tetapi kemudian turun penolakan Allah SWT pada surat At-Taubah ayat 113 dan Surat Al Qashash ayat 56, (orang beriman tidak boleh memintakan ampunan untuk orang-orang kafir).

Rasulullah SAW sedih karena belahan hatinya berpulang, sedih karena kerabat terdekat tak mau menerima hidayah sampai ajal menjemput, dan sedih karena takdir pamannya harus berakhir di neraka (dalam suatu hadits, diriwayatkan bahwa Abu Thalib akan diletakkan di neraka yang paling dangkal sebatas tumit kaki).

Baca Juga : RENUNGI NIKMAT TINGKATKAN MAKRIFAT

Khadijah Wafat

Meninggalnya sang istri tercinta: Khadijah binti Khuwailid RA. Sekitar 3 bulan setelah wafatnya sang paman, Allah SWT kembali menguji perasaan kekasih-Nya itu dengan mengambil nyawa istri Rasulullah SAW, Khadijah binti Khuwailid RA. Kemungkinan juga disebabkan karena kesehatannya memburuk setelah mengalami boikot fisik selama 3 tahun. Ummul Mu’minin berpulang pada bulan Ramadhan tahun ke-10 Kenabian, dalam usia 65 tahun, sedangkan Nabi Muhammad SAW ketika itu berumur 50 tahun.

Memiliki istri semulia Khadijah RA adalah salah satu anugerah terindah dalam kehidupan Rasulullah SAW. Dialah wanita teristimewa yang sangat dicintai Nabi SAW. Dia telah mendampingi Nabi selama seperempat abad tanpa mengeluh, menghapus resah dan kekhawatiran sang suami di saat-saat kritis di tengah intimidasi kaum kafir Quraisy, menopang finansial dakwah dengan kapasitas bisnisnya, sabar mendampingi Nabi SAW di kala jihad yang berat, membelanya dengan kemuliaan nasab, dll.

Beginilah Rasulullah SAW memaparkan orbituari sang istri: “Dia beriman kepadaku saat semua orang mengingkariku, membenarkan aku selagi semua orang mendustakanku, menyerahkan hartanya kepadaku selagi semua orang tidak mau memberikannya, Allah menganugerahiku anak darinya selagi wanita selainnya tidak memberikannya kepadaku.” (HR. Ahmad).

Intimadasi Menjadi-jadi

Intimidasi semakin menjadi-jadi pasca wafatnya kerabat Rasulullah SAW. Meninggalnya paman dan istri Rasulullah SAW, membuat orang-orang musyrik dan kafir Makkah semakin berani melawan para pengikut Islam, terutama rencana membunuh Nabi. Mereka melempari Rasulullah dengan debu, kotoran hewan, dan menabur duri di sepanjang jalan yang dilalui beliau. Mereka juga bermaksud mengusir semua orang Islam dari Makkah, karena tidak ada lagi Abu Thalib dan Khadijah yang selama ini mereka segani.
Penolakan Penduduk Tha’if

Rasulullah SAW berjalan keluar kota Makkah hanya bersama anak angkatnya, Zaid bin Haritsah, dengan harapan mungkin orang di luar sana bisa lebih menerima kebenaran yang akan disampaikan. Beliau berjalan kaki pulang-pergi menuju Tha’if, sekitar 60 mil dari Makkah. Anehnya, tidak ada kaum yang ditemuinya di sepanjang perjalanan hingga kembali lagi menuju Makkah, yang mereka mau menerima dakwah Nabi. Penduduk Tha’if malah mencibir, mengolok-olok, dan melempari Nabi SAW dengan batu. Inilah saat-saat yang lebih berat dari kekalahan Perang Uhud (HR. Bukhari).
Hikmah Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah

Apa sebenarnya hikmah dan rahasia Allah dalam mempercepat kematian Abu Thalib, sebelum terbentuknya kekuatan dan masih sedikitnya pertahanan kaum Muslimin di Mekkah? Padahal seperti telah diketahui, Abu Thalib banyak memberikan pembelaan kepada Rasulullah SAW. Demikian pula, apa hikmah dan rahasia Allah dalam mempercepat kematian Khadijah RA? Padahal Rasulullah SAW masih sangat memerlukan orang yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, atau meringankan beban-beban penderitaannya? Di sini nampak suatu fenomena penting yang berkaitan dengan prinsip aqidah Islam.
Seandainya Abu Thalib berusia panjang mendampingi dan membela Rasulullah SAW sampai tegakknya negara Islam di Madinah, dan selama itu Rasulullah SAW dapat terhindar dari gangguan kaum musyrik, niscaya akan timbul kesan bahwa Abu Thalib adalah tokoh utama yang berada di balik layar dakwah ini. Dialah yang dengan kedudukannya dan pengaruhnya, seolah-olah memperjuangkan dan melindungi dakwah Islam, kendatipun tidak menampakkan keimanan dan keterikatannya kepada dakwah Islam. Atau tentu muncul analisa panjang lebar yang menjelaskan “nasib baik“ yang diperoleh Rasulullah SAW pada saat melaksanakan dakwahnya lantaran pembelaan pamannya. Sementara nasib baik ini tidak diperoleh kaum Muslimin yang ada di sekitarnya. Seolah-olah, ketika semua orang disiksa dan dianiaya, hanya beliaulah yang terbebas dan terhindar.
Sudah menjadi ketentuan Ilahi bahwa Rasulullah SAW harus kehilangan orang yang secara lahiriah melindungi dan mendampinginya. Abu Thalib dan Khadijah. Ini antara lain untuk menampakkan dua hakekat penting.
Pertama, sesungguhnya perlindungan itu, pertolongan dan kemenangan itu hanya datang dari Allah SWT. Allah telah berjanji untuk melindungi Rasul-Nya dari kaum musyrik dan musuh-musuhnya. Karena itu, dengan atau tanpa pembelaan manusia, Rasulullah SAW tetap akan dijaga dan dilindungi oleh Allah, dan bahwa dakwahnya pada akhirnya akan mencapai kemenangan.
Kedua, ‘ishmah (perlindungan dan penjagaan) di sini tidak berarti terhindar dari gangguan, penyiksaan atau penindasan. Tetapi arti ‘ishmah (perlindungan) yang dijanjikan Allah dalam firman-Nya: “Allah melindungi dari (ganggungan) manusia.“ QS Al-Ma’idah : 67, Ialah perlindungan dari pembunuhan atau dari segala bentuk rintangan dan perlawanan yang dapat menghentikan dakwah Islam. Ketetapan Ilahi bahwa para Nabi dan Rasul-Nya harus merasakan aneka ragam gangguan dan penyiksaan tidak bertentangan dengan prinsip ‘ishmah yang dijanjikan oleh Allah kepada mereka. (Media Ummat)

Comments are closed.