Sunnah Makan dengan Tangan Kanan

“Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah makan dengan tangan kanan dan apabila dia minum, minumlah dengan tangan kanan. Karena setan apabila dia makan, makan dengan tangan kiri dan apabila minum, minum dengan tangan kiri.” {HR. Muslim}

Salah satu sisi dari pola hidup sehat rasulullah adalah dalam hal kebiasaan beliau makan dan minum. Prof. Dr . Abdul Basith Muhammad as-Sayyid, seorang pakar kedokteran dan biofisika, telah menulis kitab yang sangat bagus mengenai hal ini berjudul “at-Taghdziyah an-Nabawiyah, al-Ghadza baina ad-Daa wa ad-Dawa”. Dalam ikitab ini memuat petunjuk cukup lengkap mengenai bagaimana Nabi mengatur program diet sehat sehingga kesehatan tubuh terjaga. Prinsip penting dari pola makan Rasulullah yang dapat kita terapkan dalam pola makan kita sehari-hari seperti bagaimana mengatur menu makanan dengan pola makan teratur sehingga hal ini berguna bagi kita yang selama ini makan apa saja hingga menyebabkan obesitas dapat dijadikan sebagai tips diet agar langsing kembali.

Nah, terkadang orang suka menghina, makan dengan tangan itu terkesan jorok dan tidak berpendidikan. padahal, mereka justru tidak tahu bahwa ada hikmah dibalik sunnah Rasulullah Saw, mengapa beliau menyuruh kita untuk makan dengan tangan kanan. Makan menggunakan tiga jari tangan kanan, ternyata memang ada manfaatnya. Mengenai cuci tangan sebelum dan setelah makan, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih (lemak), lalu ketika bangun pagi dia sudah menderita suatu penyakit, maka hendaklah dia tidak mencela, kecuali dirinya sendiri.”

Ada hadist hasan bahwa Nabi Saw sendiri jika hendak makan mencuci tangan terlebih dahulu, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Nasa’i dari Aisyah ra. Kemudian, banyak juga yang bilang bahwa kuku-kuku itu kotor jika makan pakai tangan. Namun, seharusnya umat muslim rajin untuk memotong kuku, bukan sengaja memanjang-manjangkannya. Islam juga memperhatikan kebersihan kuku, memanjangkan kuku termasuk perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan as-Sunnah, di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda; “Hal yang fitrah itu ada lima atau lima hal merupakan fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga : Suara Al-Qur’an di Akhir Hayat

Kuku tidak boleh dibiarkan panjang hingga 40 (empat puluh) hari. Hal itu berdasarkan keterangan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu , seraya berkata; “Telah ditentukan bagi kita (kaum muslimin) batas waktu mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur rambut kemaluan, bahwa tidak boleh membiarkannya lebih dari 40 (empat puluh) malam.” (HR. Muslim).

Tentu saja kita tahu bahwa kuku yang panjang akan mudah sekali termasukkan oleh kotoran-kotoran, apalagi juga berbahaya melihat orang-orang yang mengikuti gaya kaum kufur, memanjangkan kuku sampai runcing, kalau sampai ujung-ujungnya tajam dan tidak sengaja merusak sesuatu.

Islam mengajarkan kebersihan dan kerapihan, sehingga, banyak peneliti sains yang mengungkapkan banyak kebenaran- kebenaran Al-Quran dan Hadist pada abad ke 21 ini, yang sebenarnya telah 1400 tahun lalu dijelaskan. ENZIM RNAse yang Mengikat Bakteri Menurut artikel yang diterbitkan dalam paparetta.wordpress.com pada Oktober 2010 lalu, makan menggunakan tangan terbukti lebih menyehatkan karena dalam tangan terdapat enzim RNAse yang dapat mengikat bakteri sehingga tingkat aktivitasnya sangat rendah ketika masuk bersama makanan ke saluran pencernaan tubuh. Berikut beberapa penjelasan yang akan memberikan gambaran manfaat makan dengan menggunakan tiga jari sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasul. “Sungguh Rasulullah SAW makan dengan menggunakan tiga jari.” (HR. Muslim, HR. Daud)

Menggunakan tiga jari (jempol, telunjuk, jari tengah) ketika makan secara otomatis membuat makanan yang masuk ke mulut lebih sedikit jumlahnya sehingga enzim ptialin yang diproduksi kelenjar saliva untuk mencerna makanan dapat berfungsi secara maksimal. Makanan menjadi lebih lembut dan lebih mudah cerna oleh lambung. Lambung mencerna makanan secara bertahap dan dalam volume kecil. Kondisi ini memungkinkan sel-sel syaraf untuk memahami situasi kenyang. (Media Ummat)