Suami Keukeuh Tidak Mau Kerja

0

Assalamu’alaikum.Wr. Wb. Pak kyai saya ibu rumah tangga kondisi ekonomi keluarga suami juga pas-pasan dan selama ini ditanggung suami saya. Setelah suami saya sakit berat ia udzur tidak bekerja lagi, dengan izin Allah dan berbagai macam pengobatan telah kami lakukan dan alhamdulillah sudah cukup membaik. Namun meski lebih sehat suami tetap tidak mau bekerja lagi, maka dana belanja  dari suami otomatis terhenti. Karena tak tega, saya kadang memberi mereka uang, walau mereka menerimanya dengan tak enak hati. Dengan keadaan suami yang mengganggur, saya merasa tanggung jawab dan beban yang ditimpakan kepada saya begitu berat.Karena suami tidak memberi nafkah, bolehkah saya menolak “permintaan” suami? Ini saya lakukan sebagai teguran baginya agar mau berusaha. Bagaimanakah sikap yang benar?.

Jawab:

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.  Suami dalam rumah tangga adalah pemimpin, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. 4:34), maksudnya adalah sebagai pemimpin terhadap istri dan keluarganya dalam pengajaran, pengaturan, penjagaan, pemeliharaan dan yang memegang kendali keluarga. Di pundaknya tanggung jawab memberikan nafkah kebutuhan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Sementara, istri bertanggungjawab dalam melayani suami dan menjaga kehormatan dirinya serta harta suaminya.

Baca Juga : Malaikat Bergelombang di Medan Perang

Ibu harus tabah dan tetap dalam kesabaran serta senantiasa berdoa kepada Allah untuk mendapatkan jalan keluar. Dalam kondisi bagaimanapun, sebagai seorang istri berkewajiban menaati dan melayani suami. Sebagaimana dalam hadits Nabi SAW, “Seandainya aku diperintahkan agar seseorang menyembah orang lain, maka niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk menyembah suaminya.” Maka ketika ada permintaan dari suami, istri wajib memenuhinya kecuali dalam udzur yang dibenarkan dalam syariat atau ada penjelasan lain yang dapat diterima suami. Karena dalam sebuah hadits Nabi saw, “Jika suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian dia tidak mau menemui suaminya maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi hari.”

Masalah suami yang tidak mampu memberikan nafkah, maka itu adalah tanggung jawab suami dan istri dapat menuntut hak-haknya. Allah Ta’ala berfirman, “.. dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (QS. 2:233). Dan hadits Nabi saw, “Kewajiban kalian (suami) atas mereka (istri) memberikan makanan dan pakaian dengan baik.”

Jika nafkah ini tidak dapat dipenuhi oleh suami maka dapat dihitung sebagai hutang suami terhadap istri, dan istri pun dapat menuntutnya dengan mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Namun tentu harus dicari solusi terbaik dalam memecahkan masalah perekonomian keluarga.

Ketika suami benar-benar tidak mampu bekerja, karena sakit parah dan sebagainya, ibu harus bisa menerima keadaan dengan penuh kesabaran. Dan, jika suami masih bisa mencari nafkah, meski kondisi kurang sehat, bantulah dengan mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Semoga ini dapat membangkitkan kembali rasa tanggung jawab suami terhadap kewajiban memberikan nafkah kepada keluarga.

Ketahuilah, nafkah yang ibu berikan kepada keluarga, karena suami tidak bisa bekerja  merupakan sedekah dan amal shalih Ibu. Semua jerih payah ibu, tidak lepas dari penilaian Allah SWT. (Media Ummat)

Comments are closed.