Adab & DoaAkhlaq

Shalawat Setelah Menyebut Allah

Disunnahkah dalam menulis sebuah kitab, buku atau naskah, diawali dengan menyebut nama Allah, basmalah dan hamdalah dilanjutkan dengan bershalawat kepada Nabi SAW. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Setiap perkara baik yang tidak diawali dengan menyebut Allah dan shalawat kepadaku maka akan terputus (dari keberkahan)”.

Menyebut Nabi SAW setelah menyebut Allah adalah kesunnahan. Dan ini menunjukan tingginya derajat Rasulullah SAW. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “dan telah Kami tinggikan penyebutanmu” (QS. Al-Insyirah: 4)

Para Imam hadits meriwayatkan dari Abi Sa’id RA, bahwa maknanya adalah: “Tidaklah Aku disebut, kecuali engkau disebut bersama-Ku”.

Rasulullah SAW adalah perantara antara Allah dan hamba-hamba-Nya serta segala kenikmatan yang sampai kepada mereka, dimana nikmat terbesarnya adalah hidayah agama Islam. Itu semua atas keberkahan daripada Rasulullah SAW.

Baca Juga : SEMUA MAKHLUK DIKUMPULKAN DALAM SATU TEMPAT

Oleh karena itu, fadhilah shalawat kepada Nabi SAW melebihi amal-amal yang lain. Asal daripada ibadah adalah tidak bertaqarrub kecuali kepada Allah atau fokus (menyibukkan diri) dengan hak-hak Allah SWT. Ketika ada yang mengatakan, dengan bershalawat, berarti kita fokus menyibukkan diri dengan haknya Nabi Muhamad SAW. Ingatlah, bershalawat itu sendiri atas izin dari Allah bahkan merupakan perintah Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya di surat Al-Ahzab ayat 56. “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepadanya (Nabi Muhammad) dan mendoakan keselamat”.

Shalawat kepada nabi juga merupakan bagian dari dzikir. Bukankah dalam shalawat, disebut nama Allah atau permohonan kepada Allah, misalnya dengan kalimat Allaahumma (wahai Tuhanku), memohon kepada Allah.

Perintah shalawat ini juga mengandung hikmah syariat yang sangat besar. Sebagai bukti butuhnya Rasulullah SAW atas rahmat dan pertolongan Allah di satu sisi menafikan kemungkinan mengkultuskan nabi sampai dianggap Tuhan, sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum kepada nabi mereka.

Jadi, Allah SWT melindungi nabi dari pengkultusan sampai pada kedudukan Tuhan, meskipun Beliau diberi aneka keutamaan dan kemukjizatan serta kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Kajian ini kami sarikan dari Kitab Sa’adatud Daroin Fis Sholaati ‘Ala Sayyidil Kaunain, karangan Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani.

(MU/Fahrurozi)

Tags
Show More

Related Articles

Close