Setiap Pagi Ada Pahala Haji

Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita agar memanfaatkan waktu-waktu utama untuk beribadah, berdzikir dan beramal shaleh. Di antaranya adalah waktu setelah shalat shubuh sampai terbit matahari.

Rasulullah SAW bersabda, “Man shalla alfajra fi jama’atin, tsumma qo’ada yadzkurullaaha hatta tathlu’a as-syamsu, tsumma shalla rak’ataini, kaanat lahuu kahajjin wa ‘umratin taammatan, taammatan, taammatan”.  

Artinya: “Barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit lalu shalat dua rakaat. Maka shalat tersebut pahalanya seperti pahala ibadah haji dan umrah sempurna, sempurna, sempurna”.

Shalat sunnah dua rakaat yang dimaksud dalam hadits tersebut menurut sebagian ulama namanya shalat Isyraq (terbitnya matahari). Namun, menurut sebagian ulama yang lain dinamakan juga shalat dhuha.

Sungguh besar pahala dan keutamaan orang yang berdzikir setelah shalat Shubuh berjamaah sampai matahari terbit lalu ditutup dengan shalat dua rakaat. Sekarang kan ibadah haji kan sulit, biayanya mahal, antrinya juga lama. Demikian pula umrah, tidak semua orang mampu. Kanjeng Nabi SAW memberi informasi yang sangat berharga ini.

Kalau pun tidak bisa setiap hari, karena ada tugas-tugas lain, maka paling tidak menyempatkan diri pada waktu-waktu yang luang. Yang penting memiliki tekad yang kuat untuk mengamalkannya.

Waktu yang Mulia

Imam Al-Ghozali mengatakan bahwa waktu setelah terbitnya fajar (shubuh) sampai terbitnya matahari merupakan waktu yang mulia. Kemuliaan dan keutamaan waktu tersebut bisa dilihat dari beberapa alasan. Diantaranya Allah SWT bersumpah dengan waktu fajar. Allah SWT banyak sekali bersumpah dengan ciptaannya seperti halnya bersumpah dengan waktu. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman, “Demi shubuh apabila mulai terang” (QS. al-Muddatstsir: 34).

Baca Juga : SANG FAKIR YANG TAK PERNAH RATAPI TAKDIR

Waktu shubuh dan setelahnya merupakan waktu yang sangat indah. Setelah malam hari gelap gulita, dengan terbitnya fajar maka tampaklah ciptaan Allah, langit, pepohonan dan semacamnya.

Allah juga memerintahkan agar kita mensucikan-Nya dengan bertasbih kepada-Nya, “Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari supaya kamu merasa senang.” (QS. Thoha: 30)

Ketika sudah jelas besarnya keutamaan waktu fajar sampai matahari terbit, maka gunakanlah. Duduklah untuk berdzikir, tidak berbicara sampai matahari terbit.

Empat Macam Ibadah

Menurut Imam Ghozali, untuk mengisi waktu itu ada empat macam ibadah. Pertama, membaca do’a-do’a. Kedua, membaca dzikir-dzikir, tahlil, tasbih dan sebagainya. Bacaan tersebut diulang-ulang sebanyak-banyaknya. Ketiga, diisi dengan membaca Al-Qur’an. Bisa membaca surat-surat tertentu atau diniatkan tadarus sampai khatam. Keempat, tafakkur. Memikirkan keagungan Allah dengan memprhatikan ciptaan-Nya yang sangat luar biasa. Kita memandang langit, bumi, pepohonan, dan semuanya lalu ingat akan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Kita juga memikirkan nikmat-nikmat Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada kita. Dengan memikirkan nikmat Allah, kita akan termotivasi untuk bersyukur kepada Allah SWT. Dan, kita juga memikirkan dosa-dosa kita. Begitu banyak dosa yang telah kita perbuat selama hidup kita. Dengan mengingat-ingat dosa, kita akan terdorong untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

Selanjutnya kita merenungkan apa saja yang akan bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akhirat kita maka kita niatkan untuk kita kerjakan. Sebaliknya, apa-apa yang tidak bermanfaat dan merugikan kita atau orang lain kita tekadkan untuk kita hindari. Dan, tidak lupa kita mengoreksi kekurangan atau sikap sembrono kita selama ini, lalu kita bertekad untuk memperbaiki diri kita. (Media Ummat)