Selamat Setelah Terjebak Dalam Gua

0

Kita sering mendengar istilah karomah, yaitu keajaiban yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Dalam Al-Qur’an dan hadits juga banyak dikisahkan peristiwa yang menunjukkan adanya keajaiban yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Diantaranya kisah tiga orang yang shaleh yang terjebak di dalam sebuah gua. Kisah ini disebutkan dalam hadits shaheh riwayat Bukhari Muslim.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga orang yang hidup sebelum kalian berangkat (ke suatu tempat) hingga mereka terpaksa harus menginap di sebuah gua, lalu memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup rongga gua tersebut. Lalu mereka berkata: “Sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdoa kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih”. Maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas diantara yang mereka lakukan.

Salah seorang diantara mereka berkata: “Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah tua renta dan aku tidak berani memberikan jatah minum mereka kepada keluargaku (istri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku) sebelum memberikannya kepada kedua orangtuaku.

Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur. Lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (istri dan anak) dan budak/pembantuku. Akhirnya, aku tetap menunggu keduanya bangun. Sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada di tanganku hingga fajar menyingsing. Barulah Keduanyapun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. “Ya Allah! Jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap ridho-Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar (karena masih sempit)”.

Baca Juga : PERTOLONGAN GAIB DI PERANG UHUD

Nabi SAW bersabda lagi: “Yang lainnya atau orang kedua berkata: “Ya Allah! Aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya (maksudnya melakukan hubungan perzinaan) diapun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata: “Tidak halal bagimu mencopot cincin ini kecuali dengan haknya”. Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya (tidak melanjutkan keinginan untuk menjamahnya) padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan (tidak mempermasalahkan lagi) emas yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! Jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharapkan ridho-Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar (karena masih sempit)” .

Nabi SAW bersabda lagi: “Kemudian orang ketigapun berkata: “Ya Allah! Aku telah mengupah beberapa orang pekerja, lalu aku berikan upah mereka, kecuali satu orang yang tidak mengambil haknya dan pergi entah kemana. Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, diapun datang sembari berkata: “Wahai ‘Abdullah! Berikan upahku! Aku menjawab: “Onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu”. Dia berkata: “Wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!” Aku menjawab: “Sungguh, aku tidak mengejekmu.” Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan suatupun. Ya Allah! Jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharapkan ridho-Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan’. (Muttafaqun ‘alaih)

Comments are closed.