Sehari, Shalawat Minimal 300 Kali

Allah SWT dengan tegas memerintahkan orang-orang yang beriman  

untuk membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam ayat yang masyhur, surat Al-Ahzab ayat 65. Demikian pula Nabi SAW memerintahkan kepada ummatnya agar memperbanyak membaca shalawat kepada Beliau, terutama pada hari Jum’at. Lalu berapakah batas minimal bacaan shalawat yang dihitung atau dikategorikan banyak?

Abu Thalib Al-makki berkata, paling minim jumlah yang dihitung telah memperbanyak shalawat adalah tiga ratus kali, sehari semalam. Demikian juga Imam Al-hafizh As-Sakhawi berkata, meski beliau tidak mendapatkan sumber yang pasti tentang jumlah itu, namun bisa jumlah tersebut hasil pengalaman atau percobaan para shalihin, sehingga jumlah tersebut dinilai batas minimal kategori memperbanyak shalawat.

Para ulama juga menceritakan tentang jumlah hitungan mutawatir yaitu 300 lebih sedikit. Dengan demikian, jumlah paling minimal kategori memperbanyak shalawat adalah 300 kali.

Baca Juga : BUAH RAJIN SEDEKAH SEJAK KECIL

Adapun Imam Sya’roni dalam kitab Kasyful Ghummah  yang telah dinukil pula dalam kitab Afdholus shalawat, ia berkata, “sebagian ulama berkata: batas minimal hitungan memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW adalah 700 kali sehari dan 700 kali semalam. Ulama yang lain berpendapat: batas minimal hitungan memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW adalah  350 kali sehari dan 350 kali semalam.

Lalu, berapakah jumlah shalawat yang kita baca setiap hari?.

Imam As-Sy’aroni RA berkata dalam kitabnya, Al-‘Uhuudul Kubra, “Aku mendengar Sayyid Ali al-Khowas berkata: “Shalawatnya Allah SWT kepada hamba-Nya tidak dibatasi dengan jumlah. Karena shalawat Allah tidak ada awalnya dan juga tidak ada akhirnya. Dan, batasan jumlah shalawat itu tergantung dari derajat hamba yang dibacakan shalawat, karena setiap hamba dibatasi dengan waktu. Dan disebutkan bahwa Allah SWT bershalawat (memberi rahmat) kepada hamba-Nya dengan sepuluh shalawat (rahmat) untuk setiap satu shalawat. Maka pahamilah. Hal ini dikuatkan dengan apa yang telah kami katakan, bahwa seorang hamba ketika memohon kepada Allah untuk bershalawat kepada Nabi-Nya ia tidak menggunakan kalimat semisal, “Allahummah Inni shallaitu ala Muhammadin”, umpamanya. Ketika seseorang tidak memahami derajat Nabi SAW, apalagi dengan derajat Allah SWT. Maka, dapat dipahami bahwa jumlah bilangan shalawat kepada Nabi SAW itu terkait dengan permohonan kita kepada Allah SWT, setiap shalawat dihitung sekali dan seterusnya.  (Disarikan dari Kitab Sa’adatuddaroin, halaman 50-51)