Sehari Peluk Anakmu Empat Kali

0

Sebuah penelitian sains mengatakan bahwa seseorang memerlukan empat pelukan sehari untuk bertahan hidup. Maksudnya, agar bisa sehat lahir bathin kali. Karena milyaran orang tidak dipeluk sama sekali setiap harinya dan tetap hidup. Mereka butuh delapan pelukan agar terpelihara dengan baik, dan duabelas pelukan untuk tumbuh dengan nyaman.

Pelukan yang erat, dimana 2 jantung ‘bertemu’ selama minimal 20 detik, dapat menyehatkan, mengurangi rasa sakit, mengobati depresi, menumbuhkan rasa aman, meningkatkan rasa saling percaya yang akhirnya akan berdampak pada keterbukaan dan kejujuran, meningkatkan hormon oksitoksin yang dapat menghilangkan rasa kesendirian dan rasa marah, serta meningkatkan serotonin yang dapat memperbaiki mood dan menimbulkan rasa bahagia.

Pelukan juga dapat meningkatkan rasa percaya diri, karena kita merasa dicintai dan spesial, mengajarkan memberi dan menerima, bahwa cinta itu dua arah, mengajarkan empati, menurunkan tekanan darah, meningkatkan kemampuan memori, menurunkan stress, memperkuat ikatan, perilaku sosial dan memperhalus kepribadian yang keras, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin ditulis  satu per satu disini, selain itu, pelukan tidak memiliki efek samping.

Terkadang kita lupa mengikrarkan cinta dan kasih sayang kita lewat kata-kata setiap hari. Memasukkannya dalam sebuah pelukan jauh lebih mudah. Pelukan adalah tanda cinta tanpa kata, dan semua efek positif yang sudah saya sebuntukan di atas bisa kita dapatkan juga (bukan cuma yang dipeluk, yang memeluk juga merasakan manfaat yang sama). Melihat banyaknya efek positif di atas, tampaknya pelukan menjadi obat terbaik dan universal untuk luka yang tak tampak. Satu hal yang saya sayangkan, sepertinya ayah kurang sering memeluk anak-anaknya ya?

Untuk memenuhi kuota 4 pelukan sehari, bisa dibuat sesi pelukan. Kalau kami menyebutnya hug session. Seperti yang mungkin sudah bisa ditebak, 1 kali saat pagi sebelum berangkat sekolah.  1 kali saat siang, setelah ulang dari sekolah. 1 kali di kala sore setelah mandi sore, dan  1 kali ketika malam sebelum tidur. Setelah berpelukan selama 20 detik bisa  dilanjuntukan dengan cerita, nasihat atau apa sajalah.

Sudahkah anda memeluk anak anda hari ini?

 

Kunci Itu Bernama Komunikasi

Lalu mengapa semakin kesini, semakin banyak kejahatan terjadi. Bahkan kejahatan itu dilakukan orangtua pada anaknya sendiri. Dan, ada juga kejaatan yang dilakukan seorang anak. Apa kesalahan dasar yang  melatarbelakangi. Bagaimana agar hal ini tidak terulang lagi. Apa yang  harus kita lakukan pada anak-anak kita agar mereka tangguh secara emosi?

Baca Juga : WAKTU TERBUANG TANPA KEBAIKAN

Ternyata kuncinya terletak di hal klise: komunikasi. Anak-anak lebih sering di “hear” bukan di “listen” setiap hari. Bedanya apa? Listen itu mendengar dengan mata dan hati. Bukan sambil lalu, sambil masak, sambil bbm-an dan nonton tv. Karena tidak ‘didengarkan’, emosi tidak tersalurkan terpendam, terpendam lalu meletus seperti gunung tanpa penahan

muncul dalam bentuk bentuk perilaku yang  tidak terbayangkan.

Dua kasus terakhir, berujung pembunuhan.

Kita tidak dilatih untuk mengekpresikan emosi. Boro-boro diajari untuk berempati.

Umumnya anak tidak boleh nangis, apalagi kalau dia laki-laki, padahal kan Allah juga kasih airmata untuk pria ketika sedih.

Anak marah, mukul, ibunya semakin memarahi. Tidak ditanyakan kenapa memukul dan kalau tidak boleh memukul, yang  boleh apa? memaki?

Setelah diizinkan bicara, didengarkan, dan dipahami, terus apa lagi?

Ajarkan anak mencari dan menemukan solusi. Karena masalah muncul seumur hidup, setiap hari. Terkadang mudah, tapi ada kalanya masalah yang  datang sulit sekali.

Tapi bagaimana anak bisa menemukan solusi, jika semua dibantu oleh ayah, ibu, nenek dan bibi. Makan disuapin, pup pun masih diceboki. Ketika ujian pun umumnya ibunya yang  panik sendiri

Lantas apa yang  terjadi ketika ujian hidup menghadang? Yang  terkadang mama dan ayah tidak ada untuk menopang, otak mereka tidak terlatih untuk menyelesaikan persoalan

yang  ada hanya emosi menumpuk tadi, siap menyerang dan seperti biasa, kunci dengan agama. Agama tidak bisa hanya sekedar teori belaka, perlu penerapan dan penghayatan dalam jiwa agar agama ikut serta dalam setiap keputusan yang  dibuatnya.

Anak sering lupa bahwa hidup cuma sementara.  Perilakunya yang  sekarang berimbas di akhirat selamanya. Juga tidak semata berujung jeruji penjara, tapi ada api menyala di ujung jalannya.

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Jika terasa mudah, berarti anda melakukannya secara salah. Apa yang  anak kita lakukan, kita pertanggungjawabkan sampai kita berada di bawah tanah. Kita memberikan sepenuh hati dan sepenuh perhatian saja tidak menjamin apa-apa. Apalagi kalau pengasuhan di sambi-sambi. Setengah-setengah.

Semoga kita bisa menjadi orangtua seutuhnya dan membesarkan anak-anak yang sehat, shalih dan bahagia. Yang  mampu melewati semua cobaan dunia dan tentunya membantu kita masuk syurga. (Media Ummat)

Comments are closed.