Sang Fakir yang Tak Pernah Ratapi Takdir

0

 

Julaibib, nama ini tidak begitu dikenal. Bahkan, Julaibib sendiri tidak mengenal siapa ayahnya, ibunya, kakeknya, dan dari suku mana berasal. Julaibib menjadi sosok yang tersisih dari komunitas Yatsrib (Madinah) kala itu. Tampilan ragawinya sungguh tak sedap dipandang mata. Berkulit hitam. Berbadan pendek. Bungkuk pula. Jangankan rumah, gubuk untuk sekadar berteduh pun tak punya.  Dia sudah biasa beralaskan pasir dan kerikil, berbantalkan tangan.

Begitulah Julaibib, tak ada kelebihan secara ragawi dan materi. Tetapi, dia punya cinta. Cinta yang tiada pernah redup dari bara. Cinta yang terus menyala. Cinta kepada habibina wa sayyidina Muhammad SAW.

Pernikahan Indah Julaibib

Suatu hari Kanjeng Nabi SAW bertanya lembut kepada Julaibib, ”Hai Julaibib, tidakkah engkau menikah?” ”Menikah dengan siapa, ya Rasulallah?” jawab Julaibib dengan senyum khasnya. ”Orang tua mana yang mau menikahkan putrinya dengan saya?”

Julaibib memang tak pernah meratapi takdirnya yang tak beruntung. Ragawinya yang buruk, tak membuatnya mengutuk. Statusnya sebagai seorang fakir, tak membuatnya menyalahkan takdir. Senyum dan tawa Julaibib tetap saja merekah. Walau hati kecilnya tidak yakin akan ada perempuan yang mau dia nikahi.

Pertanyaan yang sama tidak hanya sekali atau dua kali disampaikan oleh Kanjeng Nabi SAW. Sebanyak pertanyaan itu diajukan, sebanyak itu pula jawaban yang sama diberikan. “Menikah dengan siapa, ya Rasulullah? Orang tua mana yang mau menikahkan putrinya dengan saya?”

Tekad Kanjeng Nabi SAW untuk mencarikan pasangan hidup bagi Julaibib bukanlah basa-basi. Pada hari yang lain, Rasulullah SAW menemui seorang lelaki Anshor untuk menanyakan perihal putrinya.

“Wahai sahabatku,” kata Nabi, “kedatanganku kemari untuk menikahkan putrimu.”

”Senang sekali mendengar kabar bahagia ini,” kata si lelaki Anshor berseri-seri. “Betapa indah dan berkah!”

Dia mengira bahwa Kanjeng Nabi SAW akan menikahi putrinya. Melihat salah kira tersebut, Kanjeng Nabi SAW buru-buru meluruskan.

Baca Juga : PIAGAM MADINAH, KONSTITUSI TERTULIS PERTAMA DI DUNIA

”Bukan untukku,” kata Rasulullah. ”Aku meminangnya untuk orang lain.”

“Untuk siapa, Kanjeng Nabi?” lelaki Anshor itu sangat penasaran.

”Untuk Julaibib,” jawab Nabi singkat.

“Julaibib?!” lelaki Anshor itu nyaris terpekik.

Beberapa saat lelaki Anshor itu terdiam. Hanya terdengar helaan napasnya yang berat.

”Saya belum bisa memberi keputusan apa-apa,” kata si lelaki Anshor. “Akan saya rembukkan dulu dengan istri di rumah.”

Di rumah, sang istri juga terkesiap mendengar kabar itu dari suaminya. ”Bagaimana bisa putriku yang molek dinikahkan dengan Julaibib?” ratap sang Istri. “Si buruk rupa, tak bertahta, dan tak berharta. Aku tidak rela anakku dengannya!”

Sang Putri yang mendengar rutukan ibunya segera keluar dari kamarnya. ”Siapakah yang memintaku menikah dengan Julaibib?” tanya sang putri.

“Rasulullah,” jawab sang Ayah dan sang Ibu hampir bersamaan.

”Demi Allah, saya tunduk dan patuh kepada perintah Rasulullah,” tegas sang putri. “Apa pun yang diperintahkan Rasulullah SAW pasti akan membawa kebaikan. Tidak akan membawa kehancuran dan kerugian.”

Sang Putri lalu menyitir ayat ke-36 dari surat al-Ahzab, “Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Keputusan yang tidak mudah bagi kebanyakan para wanita, tunduk dan patuh secara total kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi, tidak bagi perempuan yang dijodohkan dengan Julaibib itu. Walaupun sebelumnya tak pernah memimpikan bersanding dengan si buruk rupa, tetapi putri yang taat itu begitu mudah menyanggupinya. Jangankan memimpikannya, selintas saja membayangkan tentu tak pernah. Tetapi, begitulah dia menegaskan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia terima lamaran Kanjeng Nabi SAW untuk Julaibib.

Kanjeng Nabi SAW sangat terharu dengan ketaatan perempuan itu. Secara khusus beliau mendoakan, ”Allahumma shubba ‘alaihal khaira shabban shabba.. Wa la taj’al ‘aisyaha kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan kepadanya dengan limpahan yang terus menerus dan penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..” (Media Ummat)

Comments are closed.