Renungi Nikmat Tingkatkan Makrifat

0

Salah satu ibadah yang diperintahkan kepada kita adalah tafakkur (berfikir) atau merenung. Berfikir dan merenung yang baik, bisa membuat mata hati kita terbuka, atau bahasa tasawufnya mukasyafah. Di antara perkara yang sebaiknya terus kita renungi adalah nikmat-nikmat Allah. Kita harus merenungi nikmat-nikmat dan rahmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita, baik yang zhahir maupun yang batin. Begitu banyak anugerah atau kenikmatan yang telah kita peroleh.

Coba kita renungkan nikmat kejadian kita. Bagaimana Allah SWT mengatur penciptaan kita sedemikian indah. Diawali dengan pernikahan ayah dan ibu kita. Allah lah yang telah menakdirkan keduanya bertemu lalu terikat dalam pernikahan. Dari hubungan keduanya kita diciptakan. Kita diciptakan dari setetes air yang hina. Air itu bercampur dengan sel telur. Lalu ditumbuhkan menjadi  segumpal darah, berkembang menjadi segumpal daging, yang dikuatkan dengan tulang belulang. Lalu kita dibentuk sedemikia rupa dan diberi nyawa. Selama dalam kandungan ibu, kita terus diberi kehidupan oleh Allah SWT.

Setelah sekitar sembilan bulan dalam kandungan ibu, kita dikeluarkan dari perut ibu ke alam dunia ini. Kita diberi mata untuk melihat. Diberi telinga untuk mendengar. Diberi akal untuk berfikir dan sebagainya. Allah SWT berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (QS. An-Nahl: 78).

Semua itu merupakan rahmat dan kebaikan dari Allah SWT. Setelah lahir  ke dunia, Allah memberi fasiltas makanan berupa air susu ibu yang kita hirup selama kurang lebih dua tahun. Allah SWT juga menanamkan rasa kasih sayang dalam jiwa orangtua kita. Mereka semua merawat kita, mencukupi kebutuhan kita. Semuanya bersumber dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Baca Juga : NABI SAW DI SHIRATAL MUSTAQIM

Berfikir dan Makna Dzikir

Begitu banyak nikmat dan anugerah yang telah Allah berikan kepada kita. Dengan terus merenungi anugerah Allah, maka akan semakin bertambah makrifat kita kepada Allah. Kita semakin mengenal Allah SWT. Bahwa semua yang kita nikmati adalah pemberian Allah. Semua yang ada di alam semesta ini Allah SWT sediakan untuk manusia, sebagai hamba-Nya. Dengan begitu kita akan semakin bersyukur atas nikmat-nikmat Allah.

Selain kita merenungi aneka anugerah Allah, kita juga harus mengangen-angen ancaman dan hukuman dari Allah SWT. Orang-orang yang berbuat dosa, akan mendapat siksa. Dalam Al-Qur’an Allah SWT sudah menceritakan tentang orang-orang yang kufur dan tidak taat kemudian mereka dihukum oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman,  “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidaklah menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 40)

Merenung atau berfikir merupakan salah satu ibadah yang paling mulia.  Sebab, orang yang berfikir itu akan bertambah makrifatnya kepada Allah. Itulah berfikir yang bermakna dzikir.

Merenungi nikmat-nikmat Allah membuat makrifat dan syukur kita kepada Allah SWT semakin bertambah. Sebaliknya, merenungi peringatan, ancaman dan siksa Allah akan semakin bertambah rasa khouf takut kepada Allah SWT.

Banyak para wali yang mendapat makrifat setelah merenungi ciptaan dan kekuasan Allah. Berfikir keagungan Allah SWT dalam menciptakan alam raya ini. Allah SWT menciptakan langit yang membentang, lautan yang menghampar luas, melihat gunung-gunung yang kokoh, melihat tumbuhan yang beraneka warna. Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa berfikir yang baik akan menambah dua hal. Pertama, menambah makrifat kepada Allah dan menambah mahabbah (rasa cinta) kepada Allah SWT. (Media ummat)

Comments are closed.