Rasulullah: Basyiiran wa Nadziiran

0

                                               Prof.  DR. KH. Ali Mustofa Yaqub

Dakwah Islam itu mempunyai dua ciri atau  karakter. Pertama, ada yang namanya tabsyiir (pembawa kabar gembira). Kedua, ada yang namanya indzar (pembawa peringatan). Oleh karena itulah Rasulullah SAW disebut sebagai Basyiiran wa Nadziiran. Rasulullah SAW sebagai basyiran beliau membawa kabar gembira, kabar yang menyenangkan hati, tentu di sini menggembirakan bagi orang-orang yang ta’at kepada Allah SWT. Sedangkan Rasulullah SAW sebagai nadziiran beliau membawa kabar yang menakutkan, tentu kabar ini akan terjadi bagi orang-orang yang tidak ta’at kepada Allah SWT. Berkaitan dengan nadzir ini ada istilah-istilah di dalam agama islam.

Ada yang namanya khasyah yang artinya takut. Allah SWT berfirman, “Hanya ulama’lah yang takut kepada Allah dari para hamba-Ku.”(QS. Fathir 28). Ada lagi namanya khauf (takut). Allah SWT berfirman, “dan bagi orang yang takut kedudukan tuhan-Nya akan mendapatkan dua buah surga.”(QS. Ar-Rahman 46). Ada beberapa istilah yang konotasinya berdekatan atau mirip satu dengan yang lain dan kedua istilah itu diterjemah sama dalam bahasa Indonesia. Dan ada juga kata “raghbah” yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi takut. Allah SWT berfirman, “hanya kepada-Ku lah kalian harus takut.”(QS.Al-Baqarah 40). Dan ada juga kata “taqwa” yang diterjemahkan menjadi takut. Allah SWT berfirman, “wahai manusia takutlah kamu kepada Allah”.(QS. Al-Ahzab 70), tapi dalam makna yang lembut, makna yang luas masing-masing kata mempunyai cirri tersendiri.

Baca Juga : ANTARA MEMILIH KERJA DAN IKUT SUAMI

Khasyyah yang artinya takut kepada Allah SWT disertai dengan rasa ta’dzhim (mengagungkan). Sedangkan khauf yang artinya takut (kegelisahan hati) sebab ada kekhawatiran untuk mendapatkan sesuatu yang tidak disukai atau tidak mendapatkan sesuatu yang dicintai. Adapun kata raghbah yang artinya takut disertai dengan meninggalkan apa yang telah dilarang oleh Allah SWT, sementara taqwa itu takut dengan mengerjakan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Jadi, jangan sampai kita mengatakan kalau dakwah itu yang sejuk jangan yang panas-panas. Lihatlah situasi dan kondisi masyarakat yang akan kita ajak (dakwah), kalau masyarakatnya sedang kedinginan maka jangan kita memberinya es. Kepada orang yang belum tahu agama Islam, belum tau hukum-hukum Islam, maka jangan kita beri sesuatu yang menakutkan, berilah dia yang sejuk dan menggemberikan hati mereka. Dan sebaliknya kalau masyarakat sudah kita ajak, kita beri tahu tentang ajaran-ajaran agama Islam dan mereka tetap tidak mau maka berilah mereka dakwah yang sifatnya memperingatkan mereka (panas). Jadi, dakwah Islam itu harus sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat. Adakalanya sejuk dan menggembirakan dan adakalanya memberikan peringatan-peringatan. Rasulullah SAW datang dengan membawa kegembiraan dan juga peringatan. Sebab kalau manusia tidak takut dengan Allah SWT mereka akan melanggar ajaran-ajaran agama islam. (mu/kaselir)

Comments are closed.