12:33 pm - Monday April 21, 2014

“Ramadhanku Satu Tahun Penuh”

Written by | July 27, 2012 | 0
Single content advertisement top
Syeikh Fikri Thoriq Al-Katiri, Jakarta

Syeikh Fikri Thoriq Al-Katiri, Jakarta

Telah datang kepada kita bulan Rama dhan,  bulan yang dikhusus­kan bagi kita ummat  Nabi Muhammad SAW. Tidak diberi kan kepada ummat-ummat nabi yang lain. Di tahun ke 2 dari hijrahnya Rasulullah SAW, tepatnya di bulan Sya’ban Al-Mukarrom. Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ummatnya untuk menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.
Allah tidak mewajibkan supaya kita banyak harta atau tinggi jabatan. Akan tetapi Allah memerintahkan kita supaya bertakwa kepada-Nya. Siapa yang betul-betul beribadah di bulan ini dan menjauhi maksiat, maka Allah akan mengangkat derajatnya menjadi orang yang bertakwa , akan dimudahkan baginya untuk menjauhi larangan dan melaksanakan perintah-Nya serta melaksanakan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah pernah bersabda bahwa sayyidus syuhuuri Ramadhan yang artinya bahwa pemimpin dari bulan Islam adalah Ramadhan. Kalau pemimpinnya baik, maka baik pula pengikutnya. Kata ulama, siapa yang di bulan Ramadhan berusaha dengan baik untuk melakukan ibadah, niscaya di bulan-bulan  bertikutnya orang itu akan mudah menjadi orang baik dan rajin ibadah. Tapi ingatlah,  siapa yang malas dan tidak beres  ibadahnya di bulan suci Ramadhan, dikhawatirkan akan sulit menjadi orang yang baik di luar bulan suci Ramadhan .
Suatu saat, Sulthanul auliya, Syeikh Abdul Qodir al Jailani RA. beliau mengatakan bahwa Ramadhanku satu tahun. Muridnya bertanya, Ya Syeikh menurut syariat Ramadhan itu satu bulan. Kemudian Syeikh Abdul Qodir menjawabnya, ”Memang secara syariat, Ramadhan satu bulan dalam satu tahun, akan tetapi bagiku  yang selalu mengharap untuk berdekatan dengan  Allah, Aku husnudzon bahwa Ramadhan itu satu tahun. 6 bulan sebelum datangnya Ramadhan (bulan Robi’ul Awwal, Robi’ul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Tsani, Rojab, Sya’ban)  saya jadikan bulan-bulan persiapanku untuk memasuki bulan Ramadhan. 5 bulan setelah Ramadhan (Bulan Syawwal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom, Shofar) Aku jadikan bekas – bekas Ramadhan. Karena itulah Aku merasakan bahwa Rama dhanku satu tahun.”
Romadhon juga bulannya Al-Qur’an Al-Qur’anul Karim adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad yang diwahyukan pertama kali oleh Allah di bulan Ramadhan. Nabi Musa salah satu mukjizatnya tongkat yang bisa menjadi ular dan bisa membelah lautan. Begitu Nabi Musa berpulang ke rahmatullah adakah yang mewarisi tongkatnya. Nabi Ibrahim salah satu mukjizatnya tidak mempan di makan api, apakah mukjizat itu diwarisi untuk ummatnya?. Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, apakah juga diwarisi ummatnya?. Satu-sa tunya Nabi  yang mewariskan mukjizatnya kepada ummatnya adalah Rasulullah SAW. Bukan mukjizatnya nomer 2, 3 atau 4 melainkan mukjizat nomer satu atau terbesar yakni Al-Qur’an.
Kalau kita bicara Al-Qur’an tidak terlepas dari hidayah. Apabila Allah menyebut kata Al-Qur’an di dalam al-Quran pastinya diiringi dengan kata hidayah. Lihat al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 2, “Dzaalikal kitaabu laa roiba fiiihi hudal lilmuttaqiin” yang artinya: Inilah al Kitab (al-Qur’an) tidak ada keraguan di dalamnya yang merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa).”
Lihat pula surat Al-Baqarah ayat 185 yang artinya: ”Bulan Ramadhan  adalah bulan yang di dalamnya diturunkannya Al-Qur’an sebagai  hudan (petunjuk) bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)…)
Bisa dikatakan bahwa hidayah (petunjuk) terbesar adalah Al-Qur’an. Oleh karenanya mari di bulan yang mulia ini, kita istikomahkan untuk membaca, mempelajari, mengkaji dan mengamalkan al-Qur’an. Semoga kita selalu dinaungi hidayah Allah SWT agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan yang sementara ini. Amin.
(Disarikan dari ceramah beliau pada penutupan Majlis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah di Stadion Kanjuruhan) (Alf/MU)

Single content advertisement bottom
Filed in: TAUSIAH ULAMA

No comments yet.

Leave a Reply