Prosentase Kesalehan Manusia 

0

Gus M. Najib Muhammad

Di dalam Al-Qur’an banyak kita jumpai beraneka ragam redaksi sumpah. Pertama, Allah SWT sumpah dengan menyebut benda, “Wasysyamsi wal Qamari”, “Wassamai waththaariq”. Kedua, Allah SWT bersumpah dengan naman buah-buahan, “Wattini wazzaitun”. Ketiga, menggunakan nama negara atau nama bukit, “Waturisinina”. Keempat, menggunakan masa (waktu) dan ini yang paling banyak kita jumpai. Misalnya, “Wallaili idza yaghsya wannahari idza tajalla”, “Wallaili idza ‘as’as wassubhi idza tanaffas”, “wal fajri walayalil asyr”. Ada waktu subuh, malam, siang, dan fajar. Jadi semua waktu hampir digunakan Allah SWT untuk bersumpah dan redaksipun tergantung dengan sasarannya (obyek).

Allah SWT bersumpah, “Wal ashri innal insana lafi husri” artinya dan demi masa sungguh manusia itu benar-benar dalam kerugian. Dari sisi gramatikal arab di situ ada tiga penguat (taukit), yakni sumpah, huruf inna dan lam. Semua manusia akan merugi kecuali orang yang beriman (kecerdasan spiritual), dan berbuat kebaikan, (kecerdasan fisik),  berwasiat tentang kebenaran (kecerdasan intelektual), berwasiat tentang kesabaran (kecerdasan emosional). Dan ini semua harus ada dalam diri manusia.

Orang yang beriman harus berbuat kebaikan. Sebab tidak semua manusia mempunyai sifat khasyah (rasa takut). Artinya iman seseorang belum menjamin seseorang berperilaku baik, iman seseorang belum menjamin lahirnya rasa takut kepada Allah SWT. Iman kepada hari kiamat belum tentu mengikis sifar rakus dan tamak, Iman kepada Nabi belum tentu menjadikan nabi sebagai panutan (uswah), kita sering kagum dan memuji kepada nabi tapi tidak menjadikan nabi sebagai panutan (uswah).

Baca Juga : SELAMAT SETELAH TERJEBAK DALAM GUA

Michael Hart menulis buku tentang kekaguman kepada nabi dari sisi politik tapi dia tidak beriman kepada Allah SWT dan Nabi-Nya. Kehebatan Nabi yang perlu kita lihat itu dari sisi basyariyahnya. Berbeda dengan nabi-nabi yang lain yang mana nilai basyariahnya (sifat kemanusiaannya) kurang terlihat. Seperti Nabi Musa, Nabi Isa dan sebagainya. Sehingga saat ummat Nabi Musa ditinggal selama 40 hari ummatnya kembali kafir, begitu juga dengan Nabi Isa saat diangkat ke langit ummatnya menjadi bingung. Hal ini dikarenakan sisi basyariyahnya kurang terlihat. Nabi Muhammad SAW dari sisi basyariyahnya sangat terlihat. Dalam shalatpun basyariyahnya Nabi sangat tampak, yakni saat shalat jama’ah, ada jama’ah yang anaknya menangis Nabi pun memilih surat yang pendek.

Jadi, keimanan kita kepada Nabi Muhammad SAW tidak secara otomatis menjadikan beliau sebagai panutan. Oleh karena itu kita terkena hukum taklif. Sebab mukmin itu hanyalah bentuk keterikatan eskatologi agama. Oleh karena itu orang yang beriman (aamanu) harus beramal kebaikan (wa’amilus shalihah). Dan sebaliknya orang yang beramal baik belum tentu beriman, buktinya ada orang yang tidak iman akan tetapi punya sifat amanah. Allah SWT berfirman, “Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya dia mengembalikannya kepadamu”(QS. Ali Imron 75). Sebab amal kebaikan itu tidak ada hubungan vertikal, tetapi juga masalah-masalah tabi’at (karakter). Misalnya watak uluhiyyah (ketuhanan), banyak orang yang sombong, seenaknya sendiri seperti Allah SWT. Dan yang pantas untuk sombong hanyalah Allah SWT. Watak anarkis (sab’iyyah) dan ada watak hiprokit (syaitoniyyah) dan sebagainya.

Selanjutnya adalah kecerdasan intelektual, tingkat pemahaman seseorang terhadap ajaran agamanya. Dan yang terakhir kecerdasan emosional sehingga bisa membuat orang cepat beradaptasi dan menerima. Dan ini yang digunakan para wali dalam berdakwah yakni akulturasi budaya (pendekatan emosional).

Jadi kalau semuanya dibagi secara prosentase sebagai berikut. Kesalehan individual itu diwujudkan dalam iman (amanu) 25%, kesalehan sosial itu diwujudkan dengan beramal kebaikan (‘amilu ash-shalihah) 25%, kesalehan intelektual (watasaubil haq) 25%, kesalehan emosional (watawasaubis shabr) 25%. Artinya manusia yang tidak mengalami kerugian adalah orang yang 75% waktunya didedikasikan dirinya untuk kemaslahan sesama. Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

NB : Disampaikan dalam majlis waqi’ah Indonesia di musola Al-Qona’ah Ust. Zainal Arifin Al-Nganjuki pada tanggal 06 september 2016

Comments are closed.