Prajurit Muslimah yang Gagah

0
Prajurit Muslimah yang Gagah
Prajurit Muslimah yang Gagah

 

Beliau adalah Nasibah binti Ka’b bin Amr bin Mabdzul Al-Ansyariyyah. Ia salah seorang wanita dari Bani Mazin An-Najar. Ia salah  satu  dari  wanita Madinah yang bersegera masuk Islam, dan  juga salah satu dari dua orang wanita yang pergi bersama generasi Al-Anshar ke Mekkah untuk berbai’at kepada Rasulullah SAW.

Adapun keutamaan dan  kebaikan Ummu Umarah adalah  ia seorang wanita yang ikut berjihad dan pemberani, serta tidak takut mati di jalan Allah.  Dia keluar menuju perang uhud bersama suaminya (Ghaziyah bin Amr) dan kedua puteranya dari suaminya yang pertama Zaid bin Ashim bin Amr. Kedua anaknya adalah Abdullah dan Hubaib. Ketika siang hari ia memberikan minum kepada orang-orang yang terluka.  Ketika kaum  muslimin terpukul mundur dalam keadaan kacau dan porak poranda, ia bergabung bersama Rasulullah SAW dengan menghunuskan pedangnya. Mulailah ia melempar anak panah dan berperang dengan peperangan seru. Lalu, ia mengikat pakaiannya kesamping dan terluka sebanyak tiga belas luka, yang paling parah adalah luka yang berada di pundaknya, dan yang melukainya adalah musuh Allah, Ibnu Qumai’ah.  Ia dirawat untuk mengobati luka ini selama setahun penuh. Ummu Umarah meminta keringanan kepada Rasulullah SAW pada hari diserukan ke Hamra Al-Asad. Ia berusaha mengikatkan pakaiannya akan tetapi ia tidak mampu  karena banyak mengeluarkan darah.

Senyum  Rasulullah

“Ketika aku terluka parah, saat itu beliau Nabi Muhammad SAW berkata: “Balutlah lukamu !” Ummu Umarah terus bertempur tanpa mengenal lelah memerangi musuh. Ketika mendengar teriakan Nabi, ibuku datang kepadaku sambil membawa pembalut yang digunakan untuk membalut luka (lalu membalut lukaku), sedangkan Nabi berdiri mengawasi. Setelah membalut lukaku, ibuku berkata; “Sekarang bangkitlah! Dan perangilah mereka!” Kemudian datanglah orang yang melukaiku, lalu Rasulullah bersabda: “Wahai Ummu Umarah, itu orang yang melukai anakmu.” Lalu Ummu Umarah langsung menghadangnya dan menebas betisnya hingga orang tersebut terjatuh.

Melihat hal itu, Rasulullah SAW tersenyum hingga nampak gigi gerahamnya dan beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kesempatan kepadamu untuk  membalas musuhmu dan menyaksikan pembalasan itu sendiri.”

Waktu pun terus berlalu. Prajurit wanita beriman ini telah berjihad membela agama Islam, dan menunaikan kewajibannya sesuai dengan kemampuannya baik di waktu berperang maupun di waktu aman. Ia telah turut serta bersama Rasulullah dalam Bai’atur Ridhwan di Hudaibiyyah yaitu bai’at perjanjian untuk membela agama Allah.

Tatkala Rasulullah wafat, murtadlah sebagian kabila dari agama Islam dan pimpinan  mereka adalah Musailamah Al-Kadzab (yang mengaku dirinya sebagai nabi) dan khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq yang telah memutuskan untuk memerangi orang-orang yang murtad. Mendengar keputusan itu bersegeralah Ummu Umarah  mendatangi Abu Bakar Ash-Shidiq meminta izin untuk ikut serta bersama pasukan yang akan memerangi orang-orang yang murtad dari Islam.

Abu Bakar Ash-Shidiq berkata: “Sungguh kami telah menyaksikan  pengorbananmu di medan jihad, maka keluarlah (untuk berperang) dengan menyebut nama Allah.” Ia keluar berperang bersama putranya Hubaib bin Zaid bin Ashim.

Ummu Umarah telah memilih karir terbaik dalam hidupnya. Memutuskan menjadi seorang istri dan ibu sekaligus mujahidah fisabilillah, sebuah kerja mulia telah ia suguhkan bagi Islam dan umat.

Ummu Umarah  dalam perjalanannya telah banyak  dihadapkan dengan berbagai perkara yang berbahaya namun tetap teguh dan tegar bahkan berangan-angan untuk syahid di jalan Allah. Maka sudah selayaknya kita mengambil ibroh dari pengorbanan Ummu Umarah tersebut. Sungguh haknya telah menjadi tiang yang tinggi di dalam sejarah Islam. Ia berhak untuk dijadikan suri tauladan bagi wanita muslimah atas pahitnya masa pengorbanan, mencurahkan seluruh kemampuan di atas jalan aqidah  islamiyah. Sehingga, apapun peran yang dimainkan seoarang muslimah entah  menjadi istri, ibu maupun wanita karir haruslah bercermin pada apa yang telah diperjuangkan oleh Ummu Umarah. Keadaan apapun tetap menjadikan iman islam terpatri didalam dirinya.

Sirah Shahabiyah Kisah dari Sahabat Wanita (Mahmud Mahdi Al-Istambuli dan Musthofa Abu An-Nashr Asy-Syalabi)

Comments are closed.