PESONA CINTA

0

Apa yang terbayang dalam benak kita jika berbicara tentang Cinta…?

Berbicara tentang cinta memang tidak akan pernah ada batasnya. Cinta adalah ikatan termulia yang ada didunia dan kehadirannya tidak bisa kita pungkiri keberadaannya. Siapapun pasti pernah merasakannya, karena cinta adalah salah satu nikmat yang telah Allah karuniakan kepada kita diantara nikmat-nikmat lain yang kita tidak akan mampu menghitungnya. Bermacam-macam orang berpendapat tentang cinta, lain orang lain pula pendapatnya. Sehingga Imam Ibnu Hazm pernah mengatakan: “Manusia selalu berbeda pendapat tentang hakikat cinta, dimana mereka berdiskusi panjang lebar tentang hal itu.” Diantara pendapat tersebut antara lain:

Menurut Ibnu Abbas RA, beliau mengatakan; “Cinta adalah sesuatu yang lahir dari emosional, tidak datang dari akal, juga tidak lahir dari kekuatan.”

Seorang A’raby berpendapat; “Cinta adalah pendamping jiwa dan teman bicara akal, membuat perasaan berbunga-bunga dan mampu menguasai anggota badan.”

Sedangkan menurut Imam Ibnu Qoyyim ; “Cinta adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan unutuk bertemu sang kekasih.”

Ada juga yang berpendapat; “Cinta adalah perasan terindah yang menguasai jiwa dan perasaan, dengan cinta hidup menjadi lebih bemakna, bahagia, tentram, damai dan indah.” Memang jika kita perhatikan lebih dalam, sesungguhnya kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan keindahan dalam hidup pada dasarnya semua itu hadir karena adanya Cinta. Sebagaimana firma Allah SWT :

“Dan dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak, dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik.”  (QS. Ali-Imran: 14)

Cinta juga bisa diartikan; “Hubungan istimewa antara seseorang dengan sesuatu yang dicintainya, baik itu bewujud manusia atau bukan.” Yang dimaksud dengan selain manusia disini adalah hubungan istimewa yang penuh cinta dengan Sang pemilik Cinta, yaitu Allah SWT. “…Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54)

Cinta kepada Allah adalah merupakan tingkat cinta tertinggi, demikian juga cinta kepada Rasul-Nya. Mencintai Allah dan Rasul-Nya haruslah melebihi cinta diatas segalanya. Rasulullah SAW bersabda: “Tiga hal yang jika ada dalam diri seseorang berarti ia telah merasakan manisnya iman, yaitu ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun, mencintai seseorang karena Allah semata dan benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilempar ke neraka setelah diselamatkan Allah darinya.” (HR. Al-Bukhori, Muslim dan Ahmad)

Perasaan cinta kepada selain Allah adalah merupakan bentuk ekspresi cinta kita kepada Allah. Ketika Allah mencintai makhluk-makhluk-Nya, maka sebagai hamba-Nya kitapun harus mencintainya. Tetapi jangan sampai kita meletakkan cinta tersebut  melebihi cinta kita kepada Allah. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munufiqun: 9)

Lantas bagaimana dengan  cinta antara lawan jenis, laki-laki dan  perempuan? Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam? Seorang ulama berpendapat: “Cinta antara laki-laki dan perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dengan hakikat penciptaan manusia, atau bagian yang tak terpisahkan dari manusia sendiri.” Atas karunia Allah manusia diberikan kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Yaitu kecenderungan untuk  tertarik kepada lawan jenis. Dalam Islam tidak ada larangan mengenai hal tersebut, selama cinta itu diletakkan pada tempat yang semestinya. Sayyid Quthb pernah menjelaskan: “Cinta merupakan fitrah dan naluri yang telah dianugerahkan Allah kepada setiap manusia. Masalahnya ialah, bagaimana agar cinta tersebut membawa kebahagiaan bagi manusia, bukan menjadi petaka.”

Baca Juga : ORANG-ORANG MUNAFIK MEMBELOT DI SAAT GENTING

Oleh karena itu Islam mengatur dan mengarahkan ummatnya bagaimana cara menyalurkan cinta yang benar menurut syari’at Islam, Yaitu melalui PERNIKAHAN yang halal. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada perkara yang lebih baik dari dua orang yang saling mencintai, selain menikah.” (HR. Ibnu Majah: 1847)

Menikah adalah fitrah kemanusiaan, karena setiap orang memiliki Gharizah Insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila hal tersebut tidak terpenuhi dengan jalan yang halal / pernikahan, maka ia akan menyalurkannya pada hal-hal yang dilarang dalam syariat Islam. Seperti pacaran, berzina dan jalan maksiat lainnya.

Menjalin hubungan cinta tanpa ikatan yang halal / pacaran tidak pernah ada tuntunannya dalam Islam. Pacaran adalah perkara yang mendekatkan diri pada perbuatan zina dan termasuk dosa besar. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32). “(Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dengan azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 69)

Perbuatan zina itu memang tidak dilakukan secara tiba-tiba, tetapi ia adalah akhir dari proses yang menuju zina tersebut. Mari kita lihat jalan apa saja yang dapat mengantarkan menuju zina :

1).  Memandang wanita dan auratnya, termasuk wajahnya.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.”  (QS. An-Nur: 30)

“Pandangan mata itu (laksana) anak panah yang beracun dari anak panah iblis. Barang siapa yang menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita, maka Allah akan memberikan kelezatan didalam hatinya yang akan ia dapatkan hingga ia bertemu dengan-Nya.” (HR. Ahmad)

2). Berkhalwat / berdua-duaan antara lelaki dan wanita tanpa disertai mahramnya.

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.”           (HR. Al-Bukhori: 3006, Muslim: 1341)

3). Bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang tidak halal baginya.

“Sungguh, jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi yang menyala itu lebih baik baginya dari pada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” (HR Ath-Thabrani dan Baihaqi)

Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita, mungkinkah laki-laki dan perempuan yang berpacaran dapat menahan dirinya untuk saling memandang, berdua-duaan, dan saling bersentuhan ??? Bahkan ada yang lebih dari sekedar itu bukan? Allahumma Sallimnaa… (Media Ummat)

Comments are closed.