0 views

Perkataan Yang Baik Adalah Shadaqah

0

Habib Ali Al Jufri, Yaman

Dalam suatu Riwayat ketika Rasulullah SAW sedang bertawaf di Ka’bah, seorang laki-laki bernama Fudholah bin Umair bermaksud hendak membunuh beliau. Ia menyelinap dalam rombongan orang-orang yang bertawaf dan mendekati beliau SAW. Saat ia sudah berada dekat di samping Rasulullah SAW dan mempunyai peluang untuk membunuh beliau, tiba-tiba ia terkejut saat Rasulullah SAW memandangnya. Kemudian Rasulullah SAW menoleh kepadanya saat ia sedang bertawaf, dan beliau berkata, “Wahai Fudholah, apa yang engkau bicarakan dengan hatimu?”

Fudholah menjawab, “Wahai Rasulullah, saya bertawaf. Saya mengingat Allah.”

Lalu Rasulullah diam dan melanjutkan tawafnya. Fudholah mengikutinya untuk kedua kalinya dan berjalan dengan tawaf di belakang Rasulullah. Tak selang berapa lama, Rasulullah menoleh lagi kepadanya dan berkata, “Apa yang engkau bicarakan dengan hatimu?”

Saya ingin anda merasakan melihat bagaimana wajah Rasulullah memandang kepada laki-laki itu. Termasuk dalam budi pekerti beliau bahwa sesungguhnya Rasulullah tidak pernah menyembunyikan senyumannya kepada siapapun. Seorang laki-laki yang penuh dengan kebencian dan ingin membunuh, Rasulullah menoleh kepadanya dan memandangnya dengan tersenyum. Saat pertama kali, memandangnya dengan tersenyum. Saat kedua, memandangnya dengan tersenyum kepadanya.

Fudholah menjawab, “Wahai Rasulullah, saya mengingat Allah dan bertawaf.”  Rasulullah tersenyum dan melanjutkan tawafnya. Lalu laki-laki itu mengikutinya ketiga kali, Rasulullah menoleh kepadanya dan berkata, “Wahai Fudholah, apa yang engkau bicarakan dengan hatimu?”

Fudholah menjawab, “Wahai Rasulullah, aku mengingat Allah.”  Kemudian Rasulullah menoleh kepadanya.  Apakah anda tahu arti “menoleh kepadanya”?  Disebutkan di dalam referensi budi pekerti Rasulullah bahwa kalau beliau menoleh artinya beliau menoleh dengan seluruh badannya.

Baca Juga : LIMA HAK SUAMI ATAS ISTRI

Rasulullah menoleh kepadanya dan lalu meletakkan tangan beliau di dada laki-laki itu. Dada yang penuh dengan kebencian dan kemarahan. Ia menyembunyikan pisau di badannya. Begitu Rasulullah menaruh tangan di dadanya, Fudholah berkata, “Demi Allah. Saat ia meletakkan tangannya di dadaku, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku benci melebihi dirinya. Namun setelah ia mengangkat tangannya dari dadaku, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku cintai melebihi dirinya.”

Kita banyak menjumpai orang-orang yang mewarisi karakter Fudholah. Mereka ada di tengah-tengah masyarakat dimana kalian hidup disana. Akan tetapi, dada-dada mereka selalu sangat memerlukan orang-orang yang mewarisi karakter Rasulullah SAW untuk menghilangkan karakter-karakter jelek dari dada-dada mereka yang penuh kemarahan dan kebencian.

Mereka yang mewarisi karakter Fudholah menunggu kalian yang bisa mewarisi karakter Rasulullah SAW.  Betapa banyak yang menyakitiku ketika aku mendengar sebagian dari kaum muslimin berbicara dan berkata, “Saat ini banyak dijumpai para dai yang berkata dengan kelembutan dan kedamaian, berkata dengan budi pekerti dan kasih sayang. Ini fenomena baru telah muncul yang ingin menggantikan jihad.”

Inilah bentuk jihad yang kita perlukan saat ini. Disini di masyarakat kita. Karena sesungguhnya kalian perlu untuk berjihad kepada jiwa kalian. Sampai kalian mampu menundukkannya. Sampai kalian mampu mendidiknya. Sampai kalian bisa meninggikannya ke langit. Supaya kalian mampu untuk memberikan pertolongan kepada siapa saja yang hidup di muka bumi ini.

Inilah yang dimaksud kalam beliau, Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Berkata kalimat yang baik adalah sedekah.”  (HR.Bukhori  Muslim)

Comments are closed.