Pentingnya Ruh Dakwah

0

Mustofa Bisri

Islam di Indonesia saat ini lebih banyak memperlihatkan wajah marah daripada wajah ramah. Mengapa demikian? Hal ini karena esensi (intinya) dakwah telah menghilang dan luput dari karakter para pendakwah Muslim di negeri ini. Ruhuddakwah (semangat mengajak) itu sangat penting yang harus dimiliki oleh para ustadz, pendakwah, dan segenap umat Muslim negeri ini. Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruhud-dakwah, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

Rasulullah SAW diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. Buitstu daa’iyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad SAW. Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad SAW senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad SAW membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat. Di dalam sejarah islam banyak dijelaskan tentang gambaran bagaimana kesabaran Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga : TERBUNUHNYA SINGA ALLAH

Misalnya Khalid bin Walid. Khalid bin Walid itu adalah anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad SAW. Begitu juga dengan Hindun, Perempuan bernama Hindun adalah istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad SAW, sebagai pujaan dan panutan. Demikian juga, Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka tidak ada Sunan Kalijaga. Dalam berdakwah kita harus mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan.Yuriidu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul ‘usra. Allah SWT menghendaki kalian mudah, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah SWT itu tidak ingin kita itu sulit, justru kita malah mempersulit.

Beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang bagi seluruh alam), tapi seakan-akan sekarang justru malah menjadi la’natan lil ‘alamiin (laknat bagi seluruh alam). (Media Ummat)

Comments are closed.