Kajian IslamiMutiara Tafsir

Penghalang Yang Terhalang

Al-Baqarah Ayat 114

Manusia itu ada empat macam, pertama adalah orang baik dan suka memotifasi orang lain untuk berbuat baik. Kedua adalah orang baik dan cukup dengan dirinya. Ketiga adalah orang tidak baik tapi suka melihat orang lain berbuat baik. Keempat adalah orang tidak baik dan tidak suka melihat orang lain berbuat baik.

Golongan pertama adalah yang paling utama. Walaupun golongan ini sering diidentikkan dengan ulama’ pendakwah, namun memotifasi orang lain untuk berbuat baik itu tidak harus oleh ulama’ dan tidak harus dengan ceramah. Intinya adalah keinginan kuat agar orang lain berbuat baik kemudian berbuat sesuatu untuk itu.

Golongan kedua adalah orang baik tapi tidak berbuat sesuatu untuk menjadikan orang lain menjadi baik seperti dirinya. Namun tidak berbuat bukan berarti tidak mau, tapi mungkin karena tidak tahu apa yang harus diperbuat. Maka ketika kita melihat orang lain sebagai golongan ini, kita harus berbaik sangka dengan menganggap orang itu sebagai orang baik walaupun tidak istimewa. Namun ketika kita melihat diri kita sendiri sebagai golongan itu, maka kita harus tahu bahwa mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik itu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Hal ini kita kenal dengan istilah dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar.

Golongan ketiga adalah orang yang tidak suka berbuat baik atau suka berbuat maksiat, misalnya tidak suka sholat, suka berjudi dan sebagainya. Namun ia berbuat maksiat bukan karena menentang Allah, ia hanya memiliki iman dan mental yang lemah sehingga sering kalah dengan hawa nafsu. Kelemahan itu bisa diakibatkan oleh lingkungan. Sebenarnya ia suka dengan kebaikan, sehingga iapun suka melihat orang lain berbuat baik. Ia bahkan selalu mendukung orang lain untuk berbuat baik. Lebih-lebih anak-anaknya sendiri, ia berharap mereka menjadi orang yang baik, tidak seperti dirinya.

Baca Juga : KISAH HIJRAH NABI SAW

Golongan keempat adalah penentang Tuhan. Dia bukan hanya tidak baik, tapi juga menginginkan agar semua orang menjadi tidak baik seperti dirinya. Iapun menghalangi orang lain dari kebaikan. Ia melakukan banyak hal untuk menjauhkan orang-orang dari kebaikan. Golongan keempat ini disinggung oleh ayat 114 surat Al-Baqarah, yaitu firman Allah SWT yang artinya: “Dan siapakah yang lebih menganiaya daripada orang yang menghalangi masjid-masjid Allah untuk disebut nama-Nya di situ dan berusaha untuk merusaknya?! Tiadalah bagi mereka melainkan masuk ke masjid-masjid itu kecuali sebagai orang-orang yang takut. Bagi mereka kehinaan di dunia dan bagi mereka di akhirat adalah siksaan yang dahsyat.”

Ayat ini memang masih bercerita tentang sebagian orang Nasrani pada zaman Nabi Muhammad SAW atau tidak jauh sebelum zaman itu. Ayat sebelumnya menceritakan sekelompok Nasrani Bani Najran yang merendahkan Nabi Musa karena jengkel pada orang Yahudi, maka ayat ini menceritakan tentang Nasrani Romawi yang merasa jengkel pada orang Yahudi kemudian merekapun membantu sebuah pasukuan Raja Majusi menyerang Bani Israil dan menghancurkan Masjid Al-Aqsha. Pasukan Majusi itu menguasai Palestina dan menghalangi orang-orang masuk ke Masjid Al-Aqsha. Bani Israil memang banyak yang menjengkelkan dan suka menghina ummat Nasrani, namun tindakan Nasrani Romawi membantu pasukan Majusi itu benar-benar salah, menyerang Palestina dan menghancurkan Masjid Al-Aqsha sama sekali tidak ada hubungannya dengan keburukan Bani Israil. Palestina tetaplah kota suci bagi semua agama langit, termasuk Nasrani. Masjid Al-Aqsha juga tetaplah tempat yang disucikan oleh Nabi-Nabi yang diakui Injil. Maka jelaslah tindakan Nasrani Romawi itu bukan didasari oleh pemahaman agama mereka, mereka hanya terbawa emosi kepada sebagian orang Yahudi. Sejak orang romawi memeluk agama Nasrani, mereka tidak pernah berkontribusi pada kemakmuran Masjid Al-Aqsha, padahal mereka meyakini Masjid itu sebagai peninggalan Nabi-Nabi besar para pendahulu Nabi Isa AS. Sejak awal mereka tidak perduli dengan Masjidil Aqsha, setelah itu mereka justru menghancurkannya. Cerita ini menyimpulkan bahwa Nasrani Romawi tidak pernah beribadah di masjid peninggalan Nabi-Nabi pendahulu mereka.  Mereka tidak pernah berkontribusi dalam menjaganya. Mereka justru menghalangi orang beribadah di Masjid itu dan bahkan merusaknya. Maka, secara umum, ayat ini menyinggung siapapaun yang tidak berbuat baik dan justru menghalangi orang lain dari perbuatan baik, orang itu adalah penghalang yang terhalang, penghalang kebaikan yang terhalang dari kasih sayang Tuhan. Lalu apa yang akan terjadi pada orang seperti ini? Allah berfirman: “.. Tiadalah bagi mereka melainkan masuk ke masjid-masjid itu kecuali sebagai orang-orang yang takut. Bagi mereka kehinaan di dunia dan bagi mereka di akhirat adalah siksaan yang dahsyat.”

Tags
Show More

Related Articles

Close