PENDIDIKAN BERKARAKTER

أَدِّبُوْا أَوْلاَدَكُمْ عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ : حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ وَقِرَاءَةِ اْلقُرْآنِ، فَإِنَّ حَمَلَةَ اْلقُرْآنِ فيِ ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ مَعَ أَنْبِيَائِهِ وَأَصْفِيَائِهِ. (رَوَاهُ : الدَّيْلَمِى عَنْ عَلِيٍّ)

Artinya : Didiklah anak-anakmu dengan tiga nilai pokok dalam syari’at islam : mencintai Rasul, mencintai keluarga Rasul,  gemar membaca Al-qur’an, karena orang-orang yang hafal Al-qur’an nanti kelak dihari kiamat akan dipayungi Allah, saat tidak ada payung kecuali payung-Nya bersama para Nabi dan para wali-Nya. (HR: Ad-Dailami dari Ali).

Pentingnya Karakter

Para ahli pendidikan hampir semua berpendapat sama bahwa yang paling penting dalam pendidikan itu adalah masalah karakter. Bagaimana menanamkan kejujuran, bagaimana menanamkan keamanahan, dan rasa tanggung jawab. Bagaimana menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, tidak saling bermusuhan. Bagaimana menanamkan agar anak didik memiliki jati diri yang jelas. Kalau karakter sudah bisa ditanamkan maka baru penanaman yang lain-lan. Dalam ajaran islampun yang paling diperhatikan adalah masalah karakter.

Dalam al-Qur’an surat al-Jumuah ayat 2 Allah SWT berfirman yang artinya: “Dialah Allah yang mengutus para Rasul dikalangan para ummat di Makkah yang ketika itu ummi (tidak bisa baca tuli) yang membacakan ayat-ayat kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah”.

Ayat ini memberikan isyarat bahwa pertama kali yang dilakukan oleh Nabi SAW adalah menyampaikan bukti-bukti kebenaran-Nya, yakni dengan adanya beberapa mukjizat (yatluu ‘alihim aayaatihii), hal ini berarti penguatan keyakinan, penguatan iman dengan menunjukan mukjizat atau bukti, setelah orang mempunyai aqidah, punya sikap mental yang jelas, keyaqinanya jelas tidak munafiq, maka setelah itu baru langkah yang kedua yakni membersihkan jiwa mereka dari sifat-sifat yang tidak baik (wayuzakkiihim). Dan ini namanya penanaman karakter, pelurusan mental. Kalau keduanya sudah tertanam yakni mempunyai jati diri, punya keyaqinan, aqidah dan iman. Kemudian langkah selanjutnya pembenahan akhlak, yakni tidak suka berbohong, tidak suka khianat dan dia jujur dan sebagainya. Kemudian langkah selanjutnya adalah pendidikan yang sifatnya akademis (wa yu’allimuhumul kitaab wal hikmah).

Baca Juga : SEHARI, SHALAWAT MINIMAL 300 KALI

Langkah yang Terbalik

Kalau ketiga langkah itu dibalik, maka tidak akan berhasil pendidikanya. Memandaikan orang yang jujur kita cukup membutuhkan waktu satu bulan, misalnya ada orang yang jujur, punya karakter yang lurus, rajin beribadah dan belum bisa mengoprasikan komputer maka kita berikan pengajaran privat (khursus) maka dalam waktu satu minggu dia bisa mengoperasikan. Akan tetapi sebaliknya orang yang ahli dalam bidang komputer diberi khursusan akhlaq selama setahun maka akhlaknya tidak akan berubah (rusak).

Oleh karena itu, paling utama adalah penanaman karakter antara lain adalah melalui cinta kepada para Rasul, maupun cinta kepada ahlul bait (keluarga para Rasul) sebagai idola, panutan (uswah). Apalagi di zaman sekarang perkembangan dunia, melalui teknologi dan dunia hiburan dengan dunia artis dan selebritis yang kian digandrungi. Maka tak heran kalau anak-anak sekarang lebih hafal nama selebritis daripada nama-nama para nabi. Lebih hafal lirik-lirik lagu cinta daripada ayat-ayat al-Quran, sholawat atau bahkan do’a-do’a harian. Ucapan, tindakan dan pola hidup generasi muda sudah banyak yang jauh dari tuntunan Rasul. Mereka hidup dengan gaya dan pola idola mereka, yaitu para artis dan selebritis atau pemain bola dunia.

Diantara pesan nabi yang harus diajarkan pada anak-anak adalam gemar membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan pedoman. Kalau pedoman hidupnya tidak pernah dibaca, dipelajari apalagi diamalkan, maka jangan harap hidupnya akan selamat. Jadi pada intinya keyakinan terlebih dahulu, keimananya harus jelas, agamanya harus mantab, ahklaknya harus baik, imanya kuat atau dengan kata lain sidiq, amanah, tabligh, dan fathanah. (Media Ummat)