Kajian IslamiTasawuf

PANGGILAN Israfil Dari Baitul Maqdis

“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat” (QS. Qaaf : 41)

Abu Na’im berkata, ayahku telah bercerita kepadaku. Telah bercerita kepadanya Ishaq. Ishaq berkata, telah  bercerita kepadanya Muhammad. Muhammad berkata, telah bercerita kepadanya Abdurrazzaq ia berkata, Mundzir bin Nu’man telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Wahab bin Munabbih berkata: “Allah berfirman kepada batu di Baitul Maqdis, “Sungguh akan aku letakkan di atasmu Arsy-Ku, dan akan Kubangkitkan di atasmu makhluk-Ku, dan akan datang kepadamu Daud sambil menunggang (kendaraan).

Menurut para ulama yang dimaksud dengan pemanggil dalam ayat di atas adalah malaikat yang berdiri di atas batu Baitul Maqdis, karena tempat itu yang paling dekat dengan langit. Ia menyerukan kata-kata, “Hai tulang-belulang yang telah hancur dan sendi-sendi yang telah bercerai-berai dan daging-daging yang telah tercabik-cabik, badan yang telah hancur, dan rambut-rambut yang telah berantakan, segeralah kalian berhimpun menghadap kepada Tuhan semesta alam’.

Sedangkan Qatadah berpendapat bahwa yang memanggil adalah malakat Israfil (pemilik terompet) yang memanggil di atas batu di Baitul Maqdis. Menurut Ka’ab, Baitul Maqdis merupakan tempat di bumi yang paling dekat dengan langit, yaitu sejauh 18 mil. Menurut Imam Qusyairi jaraknya 12 mil.

Baca Juga : MENCARI SAHABAT SEJATI DAN ABADI

Disebutkan bahwa tiupan sangkakala untuk menghidupkan makhluk yang sudah mati semua itu panjang dan lama. Suara di awal untuk menghidupkan semua yang mati, setelah itu untuk membangkitkan dari alam kubur. Maka dimungkinkan dengan panjangnya tiupan sangkakala itu manusia dihidupkan satu per satu sampai semuanya keluar dari alam kuburnya. Maka setelah tiupan kedua ini terjadi, setiap ruh akan mendatangi jasadnya masing-masing.

Syekh Muhammad bin Ka’ab Al-Qurdzi berkata, manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam kegelapan, langit dilipat dan bintang-bintang berjatuhan dan matahari serta bulan menghilang. Dan seorang pemanggil memanggil, maka manusia mengikuti suara itu.

Abu bakar bin Ali Al-Khatib meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, “Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan sangat lapar, sangat haus, dan telanjang serta sangat kepayahan. Maka barangsiapa yang memberi makan karena Allah, maka Allah akan memberinya makan. Barang siapa yang memberi minum karena Allah, maka Allah akan memberinya minum. Barang siapa yang memberi pakaian karena Allah, maka Allah akan memberinya pakaian. Barang siapa yang beramal karena Allah, maka Allah akan menyukupinya.dan barang siapa yang menolong (agama) Allah, maka Allah akan mengenakkannya pada hari itu (kiamat)”.

(Disarikan dari kitab At-Tadzkirah, karya Imam al-Qurtubi halaman 172-173)

Tags
Show More

Related Articles

Close