Orang-orang Munafik Membelot Di Saat Genting

0

Menjelang perang Uhud, Nabi Muhammad SAW mendirikan shalat Jum’at bersama orang-orang Muslim. Beliau menyampaikan nasihat dan perintah kepada mereka dengan penuh semangat, mengabarkan bahwasannya kemenangan pasti ada di tangan kita selagi mereka sabar, serta memerintahkan untuk bersiap-siap untuk menghadapi musuh. Apa yang disampaikan beliau ini disambut gembira oleh semua orang.

Orang-orang sudah menunggu-nunggu Nabi Muhammad SAW yang belum keluar dari rumah. Sa’d bin Mua’dz dan Usaid bin Hudhair berkata kepada mereka, “rupanya kalian telah memaksa Rasulullah SAW”. Maka masalah ini diserahkan kepada keputusan Beliau. Setelah Beliau keluar rumah, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bukan maksud kami untuk menentang engkau. Berbuatlah menurut kehendak engkau. Jika memang engkau lebih suka kita menetap di Madinah, maka lakukanlah.” Kemudian Beliau menjawab, “Tidak selayaknya bagi seorang Nabi apabila sudah mengenakan baju besinya, untuk meletakkannya kembali, hingga Allah SWT membuat keputusan antara diri-Nya dan musuh-Nya.”

Tiga Pasukan Muslim

Beliau membagi  pasukannya menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok Muhajirin, yang mana benderanya diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al-Abdari. Kedua, kelompok Aus, yang benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair. Ketiga, kelompok Khazraj, yang benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Jamuh.

Pasukan ini terdiri dari seribu prajurit, seratus prajurit mengenakan baju besi dan lima puluh orang penunggang kuda. Ada yang berpendapat, kali ini tak seorang pun yang menunggang kuda. Adapun Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum, terutama untuk mengimami shalat bersama orang-orang yang masih berada di Madinah. Namun dia akhirnya juga diperbolehkan untuk ikut serta. Pasukan bergerak ke arah utara. Sa’d bin Mu’adz dan Sa’d bin Ubadah berjalan di hadapan Rasulullah SAW sambil mengenakan baju besi.

Setelah melewati Tsaniyyatul-Wada’, di kejahuan terlihat ada satu-satuan kelompok lengkap dengan persenjataannya. Ketika ditanyakan dari kelompok manakah mereka itu? Dikabarkan bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi yang menjadi sekutu Khazraj. Mereka ingin ikut serta dalam peperangan melawan orang-orang Musyrik. Beliau bertanya, “Apakah mereka sudah masuk Islam?” setelah diketahui ternyata mereka belum masuk Islam, maka Beliau menolak untuk meminta bantuan kepada orang-orang kafir untuk memerangi orang-orang Musyrik.

Ditolak Berperang

Setibanya di suatu tempat yang disebut Asy-Syaikhani, Rasulullah SAW menginspeksi pasukan dan menolak keikutsertaan prajurit yang usianya teralu muda dan dianggap belum mampu terjun ke kancah perang. Anak-anak yang ditolak ini adalah Abdullah bin Umar bin Al-Khattab, Usamah bin Zaid, Usaid bin Zhuhair, Zaid bin Tsabit, Zaid bin Arqam, Amr bin Hamz, Abu Sa’id Al-Khudri, dan Sa’d bin Habbah. Di antara mereka ini pula nama Al-Barra’ bin Azib. Tetapi Al-Bukhari menyebutkan bahwa Al-Barra’ mati syahid dalam perang Uhud ini.

Sedangkan Rafi’ bin Khadij dan Samurah bin Jundab diperbolehkan bergabung sekalipun usia mereka masih terlalu muda. Rafi’ bin Khadij diperbolehkan karena dia diketahui mahir dalam melepaskan anak panah. Setelah tahu Rafi’ diperbolehkan, maka Samurah protes, dengan berkata, “Aku lebih kuat dari Rafi’, karena aku pernah mengalahkannya.” Tatkala ini disampaikan kepada Rasulullah SAW, maka beliau memerintahkan agar keduanya bertanding di hadapan Beliau, dan Samurah ternyata bisa mengalahkan Rafi’. Maka dia pun diperbolehkan untuk bergabung dalam peperangan ini.

Baca Juga : TIGA MACAM MANUSIA MENYIKAPI KEPERGIAN RAMADHAN

Karena sudah petang, Nabi SAW berhenti di tempat itu, lalu shalat Maghrib, kemudian Isya’ bersama seluruh pasukan, dan diputuskan untuk tetap berada di sana. Beliau SAW memilih lima puluh orang untuk berjaga-jaga dan berkeliling di sekitar pasukan. Beliau menunjuk Dzakwan bin Abd Qais sebagai penjaga beliau secara khusus.

Pembelotan Abdullah bin Ubay

Sesaat sebelum fajar menyingsing, selagi shalat Shubuh hampir dilaksanakan, sementara musuh sudah bisa dilihat dan musuh pun sudah bisa melihat mereka, tiba-tiba Abdullah bin Ubay membelot. Tidak kurang dari sepertiga anggota pasukan yang menarik diri. Mereka berkata, “Kita tidak tahu atas dasar apa kita memerangi diri kita sendiri?”.

Abdullah bin Ubay beralasan, karena Nabi Muhammad SAW mengabaikan pendapatnya yang lebih suka mendengarkan pendapat orang lain. Tidak dapat diragukan, sebab pembelotan ini bukan seperti diungkapkan tokoh orang-orang Munafik ini. Kalau tidak, buat apa dia ikut ke tempat itu? Kalau pun itu sebabnya, tentu dia akan menolak sejak akan berangkat. Tujuannya yang pokok adalah ingin menimbulkan keguncangan dan keresahan di tengah pasukan Muslim, setelah mendengar dan melihat pasukan musuh, sehingga banyak orang yang mundur dari pasukan Nabi Muhammad SAW dan sisanya yang masih bergabung bersama beliau menjadi jatuh mentalnya, sementara keberanian musuh semakin meningkat dan semangatnya semakin membara karena melihat kenyataan ini. Cara ini bisa mempercepat kehancuran Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Setelah itu kejayaan dan kepemimpinan di Madinah bisa berada di tangan orang munafik ini.

Hampir saja Abdullan bin Ubay berhasil mewujudkan rencananya. Dua golongan yang bergabung dalam pasukan Muslimin, Bani Harits dan Aus dan Bani Salimah dari Khazraj hampir saja kehilangan semangat. Tetapi Allah SWT cepat menguasai dua golongan ini, sehingga mereka menjadi tegar kembali. Padahal sebelum itu dua golongan ini sudah kehilangan semangat dan hampir saja mengundurkan diri. Allah SWT berfirman tentang dua golongan ini, “Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran 122)

Saat itu Abdullah bin Harram, anak Jabir bin Abdullah, berusaha mengingatkan orang-orang munafik itu, apa seharusnya yang mereka kerjakan dalam situasi yang kritis seperti ini. Dia terus membuntuti mereka, mendoakan keburukan bagi mereka dan meminta mereka agar kembali ke medan perang. Dia berkata, “Marilah berperang di jalan Allah atau tak ada salahnya kalau kalian bertahan saja.” Mereka menjawab, “Andaikan kami tahu kalian hendak berperang, tentu kami tidak akan pulang.” Akhirnya Abdullah bin Harram kembali ke medan perang sambil berkata, “Semoga Allah menjauhkan kalian wahai musuh-musuh Allah. Sehingga Allah membuat Nabi-Nya tidak membutuhkan kehadiran diri kalian.”

Tentang orang-orang Munafik ini Allah SWT berfirman, “Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali Imran: 167)

Comments are closed.