Menjawab Rasa Penasaran Anak

Saya banyak menerima pertanyaan dari bapak-bapak maupun ibu-ibu yang mempunyai anak menjelang ABG tentang bagaimana menjawab pertanyaan si anak yang biasanya dianggap tabu, khususnya yang berkaitan dengan pubertas atau bahkan seksualitas.

Ketika anak anda bertanya: “…ayah mimpi basah itu apa sih?“.. atau  ”ma… kenapa wanita bisa hamil?..” atau bahkan..:  “apa itu masturbasi?”, atau pertanyaan-pertanyaan sensitif lain.

Ada tiga poin perting yang sebagai orangtua, harus memperhatikan sebelum panik, marah, malu, atau bersemangat untuk menjawab pertanyaan di atas.

Pertama: Bersyukurlah kalau anak anda berani bertanya pertanyaan-pertanyaan di atas ke anda sebagai ayah atau ibu kandungnya. Dengan keberanian anak anda bertanya pertanyaan-pertanyaan di atas dan sejenisnya, berarti anda berhasil membangun komunikasi dan kepercayaan anak kepada orangtua.

Kedua : Tahukah anda jawaban dari pertanyaan semisal di atas? Jika anda tahu, silahkan ke poin selanjutnya.

Ketiga : Tahukah anda bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Bagaimana caranya “ngeles” dari pertanyaan-pertanyaan seperti di atas ketika anda tidak menguasai jawaban.

Baca Juga : MANTAP PILIH ISLAM SETELAH DIKEJAR RAKSASA

Informasi Mudah Diakses

Di era digital yang serba cepat ini, informasi bukan merupakan barang yang mahal dan susah, sebaliknya, dengan mudah anak-anak anda bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Kecuali, jika anda “penjara” anak ABG anda dari lingkungan, baik itu sekolah maupun pergaulan antara sesama ABG. Untuk itu, jangan ambil waktu terlalu lama untuk menjawab rasa penasaran anak anda dan menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa.

Dua hal yang paling penting dalam hal ini adalah mengetahui konten jawaban pertanyaan dan bagaimana menjawabnya. Anda tentu tidak mau kehilangan respek di depan anak. Anda juga harus menjaga etika yang sesuai dengan agama dalam pembahasan masalah di atas. Ditambah bagaimana membahasakan konten tersebut dengan bahasa yang bisa difahami ABG anda. Baik lelaki maupun perempuan. Tentunya dalam hal ini, pertanyaan anak lelaki sebaiknya dijawab oleh ayah, pertanyaan anak perempuan oleh ibu. Untuk itu, jika anda kurang menguasai konten hendaknya mencari ilmu tentang fiqh bulugh (masalah baligh), karena sebagai muslim, pubertas bukan hanya fenomena fisikal maupun psikologis, tapi juga masalah yang berkaitan erat dan tidak bisa dilepaskan dari agama.

Jika pertanyaan anak anda tidak ada di text book yang anda baca, hendaknya anda lari mencari pertolongan tokoh agama, atau membuka buku-buku lain, tapi sebelum itu jangan lupa untuk menggunakan teknik “ngeles “ yang betul seperti: “ ..masya Allah tabaarakallah pertanyaan kakak hebat sekali, saking hebatnya, gak cukup waktu untuk dibahas sekarang. Besok malam ya kak..kita bahas tuntas..” .

Dalam kalimat di atas, ada pujian atas pertanyaan hebat si anak, ada juga alasan untuk tidak menjawab saat itu juga, dan yang paling penting…ada kepastian , kapan anda kira-kira bisa menjawab, ya..kepastian, bukan cuma orang dewasa suka kepastian, anak-anak pun suka kepastian.

Yang pasti, respon pertama dan terpenting dari dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah, ketidak panikan, apalagi sampai marah. Ingatlah ketika Umm Sulaym datang ke Rasululullah SAW  bertanya tentang hal kewanitaan kepada beliau, dan Rasulullah SAW menjawab tanpa panik (HR Bukhari) . Keberanian Umm Sulaym RA dan wanita-wanita Anshar lain bertanya pertanyaan sensitif tersebut mendapat pujian dari Aisyah RA, yang berkata : “Sebaik baik wanita adalah wanita Anshar rasa malu mereka tidak menghalangi mereka dari menuntut ilmu (HR. Bukhari).

Wahai ayah, wahai ibu, anda harus menjawab! Bunuh rasa penasaran anak anda dengan jawaban yang meyakinkan. Seakan-akan jawaban anda memberikan satu pernyataan: “Nak…ayah dan mama adalah pemberi jawaban terbaik!..”

(Sumber: Parentingwithellyrismanandfamily)