1 views

Menjadi Sahabat Anak Saat Remaja

0

Waktu berjalan, dan anak-anak yang dulu patuh, tiba-tiba berubah. Dulu fokus pada orang tua, kini teman-teman jadi patokannya. Baik anak dan orang tua, memang sedang berayun. Anak-anak kerap berubah-ubah. Sesaat dia masih anak-anak, sesaat bersikeras disebut remaja. Orang tua juga terayun. Karir, masa lalu, masa kini, dan seterusnya. Kadang sesama ayunan ini membuat gesekan.

Kita juga beradu cepat dengan teknologi. Kita pun berlomba dengan perkembangan jiwa anak, dan kondisi internal rumah tangga. Perkembangan otak anak pada masa remajapun mencapai kemampuan abstrak dan kritis. Kita sering kaget dengan perkembangan ini.

Namun, berapa sebetulnya usia remaja itu? Dulu ada patokan BKKBN, 11 – 19 tahun. Namun kini, data di Yayasan Kita dan Buah Hati, usia 9 tahunpun anak perempuan sudah menstruasi, anak laki-laki 11-12 tahunpun mimpi basah (namun dalam ajaran  agama Islam, begitu baligh seorang anak langsung dinilai dewasa). Jadi, usia 9 tahun sudah terhitung remaja.

Perubahan hormonal terjadi begitu cepat. Banyak hal mendadak jadi sensitive. Ini persoalan emosional. Belum lagi, perkembangan trend.  Yang membuat anak-anak kelas 4, 5, 6 risau bukan lagi karena UAN, tapi status di sosial media: Rasa malu dan stress karena merasa tidak ada yang suka. Saat yang sama, beban pelajaran makin berat! Segudang PR, diuber-uber les, membuat tambahan beban pada orangtua dan anak. Nah, bagaimana menyiapkan diri menghadapi semua ini?

Saat-saat itu, orang tua umumnya tengah mendaki karir, berupaya memiliki rumah sendiri, tarik menarik dana, dan seterusnya. Belum masalah keluarga lainnya ikut menerpa. Jika leburan suami-istri mudah patah seperti ujung kuku telunjuk dan ibu jari yang saling bersentuhan. Maka seberapa jauh kita memberikan sebagian diri kita, melebur dengan pasangan, agar dapat mencari jalan keluar persoalan-persoalan dan tantangan anak kita. Jadi, orang tua harus tangguh dulu, padu padan, agar anak-anak ikut tangguh.

Baca Juga : PERTOLONGAN GAIB DI PERANG UHUD

Lalu, sampai sebatas mana batas kemandirian anak kita? Hentikanlah kebiasaan yang mengurus segala sesuatu untuk anak. Begitu remaja, banyak kita terperangah saat anak belum mandiri dan tidak bertanggungjawab. Padahal, apakah kita tipe helicopter atau sersan pelatih? Artinya, kemandirian itu sesuatu yang harus dilatih sejak awal. Ada dimana kita sekarang? Apakah kita masih memiliki slot waktu dan tenaga bagi anak-anak remaja kita?

Kembali ke soal kemungkinan singgungan saat berayun. Ketahuilah, bahwa anak bukan milik kita. Mereka titipan. Maka sejak, misalnya, usia 7 tahun, biarkan anak mengutarakan maksudnya. Hati-hati, dengan teknologi, anak bisa jadi “musuh”. Nah, realistiskah harapan kita pada anak? Lalu, perhatikan temannya. Kemudian, nilai agama  bagaimana ? Siapa yang menanamkan? Banyak yang kosong karena masalah pengasuhan. Tapi, tidak ada kata terlambat. Mulailah dengan mencoba lebih banyak mendengar. Kalau anak bercerita, tamping dulu, berlatihlah membaca bahasa tubuh.

Nah, dalam banyak kasus, remaja jarang didengar. Mungkin dalam seminggu hanya 19 menit. Jadi, anak pun lebih suka berbahasa dengan sesamanya dan tidak bisa dilarang. Maka, berubahlah menjadi sahabat ketika anak beranjak remaja. Kesulitannya memang luar biasa.

Jadi, saat kesulitan menghibur anak perempuan 16 tahun yang sedang patah hati, pertama,  terima dulu perasaannya. Baca bahasa tubuh dan dengarlah secara aktif, tapi jangan seketika menasehatinya. Jadi? Tunggu sebulan lagi jika perlu. Bagi anak yang keras kepala tapi cengeng, sarannya adalah menyusun daftar kemungkinan penyebabnya. Baca bahasa tubuh, dengar perasaannya dan diawali dengan minta maaf pada salah satu sifat buruknya.

Lantas, apakah bagus bagi anak yang hanya tahu rumah dan sekolah? Jika anak ‘terluka’ di luar, maka jadilah Jaringan Pengaman Emosi (JPE) dan benahi luka itu. Anak harus menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak semulus di rumah. Dia harus dihadapkan pada pilihan-pilihan dan belajar menanggung resikonya.

Lalu,  bagaimana batasan memberi kebebasan pada anak perempuan. Kebebasan itu harus punya dasar. Apakah mereka punya dasar, siapa yang boleh menyentuh dan yang  boleh disentuh? Soal waktu bepergian, ini juga debatable. Data di yayasan Kita dan Buah Hati, banyak anak remaja yang izin hanya pergi 2 jam, tapi sebetulnya menjadi pelacur!.  Maka jagalah anak dengan baik, agar kelak kita tidak mengalami “panen hampa’. Renungkan panen seperti apa yang diinginkan. (yayasankitadanbuahhati)

Comments are closed.