3 views

Menghidupkan Kembali Fungsi Masjid

0

Ketika Rasulullah SAW  tiba di Madinah dan menetap di kota itu dan memulai membangun sebuah masyarakat Islam yang kuat yang anggotanya adalah kaum muhajirin dan anshor sebagai element utamanya. Untuk itu tindakan pertama yang dilakukan Rasulullah SAW adalah menidirikan sebuah masjid.

Tidak mengherankan karena sejatinya pendirian masjid merupakan langkah terpenting dalam proses pembangunan masyarakat Islam. Sebab, masyarakat Islam yang kuat harus berpegang pada autran terpenting bagi pembentukkan masyarakat Islam. Karena masyarakat Muslim tidak akan terbentuk secara kokoh dan rapi kecuali dengan adanya komitmen terhadap sistem, aqidah dan tatanan Islam. Hal ini tidak akan dapat ditumbuhkan kecuali melalui semangat masjid.

Di antara sistem dan prinsip Islam ialah tersebarnya ikatan ukhuwwah dan mahabbah sesama kaum Muslimin. Tetapi tersebarnya ikatan ini tidak akan terjadi kecuali di dalam masjid. Selama kaum Muslimin tidak bertemu setiap hari, dan berkali-kali, di rumah-rumah Allah SWT sampai terhapusnya perbedaan-perbedaan pangkat, kedudukan, kekayaan, serta status dan atribut sosial lainnya, maka selama itu pula tidak akan terbentuk persatuan dan persaudaraan sesama mereka.

Di antara sistem dan peradaban Islam yang lain ialah tersebarnya persamaan dan keadilan sesama kaum Muslimin dalam segala aspek kehidupan. Tetapi semangat persamaan dan keadilan ini tidak mungkin dapat terwujud selama kaum Muslimin tidak bertemu setiap hari di dalam satu shaf di hadapan Allah SWT, seraya menghambahkan diri kepada-Nya. Tanpa adanya kesamaan dalam ubudiyah ini, betapapun mereka rajin ruku‘ dan sujud kepada Allah SWT, maka nilai keadilan dan persamaan tidak akan mampu menundukkan egoisme dan keangkuhan yang ada pada masing-masing diri mereka.

Di antara sistem Islam ialah terpadunya beraneka ragam latar belakang kaum Muslimin dalam suatu kesatuan dan kokoh yang diikat oleh tali Allah SWT, yaitu hukum dan syari‘at-Nya. Tetapi selama belum berdiri masjid-masjid, tempat kaum Muslimin berkumpul untuk mempelajari hukum dan syari‘at Allah agar dapat berpegang teguh padanya secara sadar di seluruh penjuru dan lapisan masyarakat, maka selama itu pula kaum Muslimin akan tetap terpecah belah. Demi mewujudkan semua nilai ini di dalam masyarakat Muslim dan Negara mereka yang baru maka Rasulullah SAW segera mendirikan masjid sebelum melakukan yang lainnya.

 Baca Juga : TAHU AYAH SELINGKUH, ANAK BINGUNG

Hanya Megah Fisik

Pada zaman Nabi Muhammad SAW Masjid Nabawi menjadi pusat sentral kekuatan ummat islam, dari sanalah para sahabat nabi mengatur strategi berperang berdiskusi dalam hal agama, sosial, budaya, maupun politik tanpa memandang suku maupun warna kulit. Dari sanalah lahir banyak imam-imam besar belajar serta tumbuh menjadi pejuang di masa-masa selanjutnya.

Dari sini kita sudah bisa menganalisa pentingnya peranan suatu masjid dalam sebuah peradaban Islam, karena dari masjidlah terbangun suatu struktur kekuatan yang sangat besar dalam membentuk kemajuan Ummat Islam yang efeknya menyebar ke seluruh dunia lebih dari 1400 tahun yang lalu ternyata dimulai dari tempat kecil yang bernama masjid.

Tentu di masa sekarang ini kita seakan terheran-heran dengan banyaknya masjid yang sudah dibangun dengan interior yang sangat luar biasa megah namun terlihat kosong. Hanya megah dari luar namun kosong dari dalam. Berbeda dengan kondisi masjid pada masa Nabi Muhammad meskipun tampak luar amat sangat sederhana hanya ditopang oleh 2 tiang kurma namun penuh dengan keberkahan

Nabi Muhammad SAW dalam suatu hadistnya bersabda Tidak akan tiba Hari Kiamat sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun Masjid.”

Salah satu problematika masjid saat ini adalah minimnya orang berjamaah di dalamnya tentu ini akan berdampak besar dalam mati atau hidupnya sebuah masjid. Karena fungsi utama masjid adalah sebagai tempat shalat berjamaah maka dari itu masjid tidak akan pernah berubah menjadi pusat kebudayaan Islam apabila masjid itu tidak penuh dengan kegiatan utamanya, shalat berjamaah.

Masjid juga dilambangkan sebagai simbol persatuan karena di dalamnya kita akan melihat karakter berbeda dari beberapa manusia dari kulit idiologi dan lain-lain semua itu akan berkumpul di dalam masjid. Namun belakangan ini sungguh sangat terbalik masjid kosong namun majelis-majelis perdebatan mengadu otot serta pola berpikir radikal selalu penuh bahkan riuh.

Patutkah kita bangga dengan kemegahan suatu masjid? Namun kita tidak pernah mengisinya? Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmatnya kepada kita sehingga selalu dijadikan orang yang selalu rindu terhadap suasana syahdu di dalam masjid.

Comments are closed.