1 views

Mencium Tangan Baginda Nabi

0

Karomah Imam Rifai

Sayyid Ahmed Kabir Rifai lahir di paruh pertama Rajab 512 H pada hari Kamis. Beliau lahir  di kota Ummu Abeyde, Basrah, Iraq. Ayahnya adalah Sayyid Ali Abu’l Hasan. Ibunya adalah Fatima ul-Anseri binti Yahya Nijjeri. Salah satu guru pembimbingnya yang terkenal adalah Aleyyul Wasiti. Ditinjau dari segi nasab keturunan Ahmed Kabir Rifai adalah Keturunan Nabi Muhammad SAW dari kedua orang tuanya.

Pertama kali beliau belajar Ilmu Fiqih Mazhab Syafi’i, akan tetapi beliau lebih cenderung kepada ilmu tasawuf. Beliau terkenal sebagi rujukan pimpinan ilmu thoriqoh, karena memiliki ilmu haqiqat yang tinggi dan sebagai wali qutub yang agung dan masyhur di zaman sesudah syeikh Abdul Qodir al Jailany ra.  Beliau juga seorang ulama yang terkenal sebagai pendiri thariqah rifaiah dengan kedalaman ilmu, zuhud serta ketakwaanya, adalah salah satu auliya’ ‘arif billah, yang diberi anugerah oleh Allah dengan karamah yang banyak yang masyhur dan ditulis oleh banyak ulama dalam kitab-kitab mereka.

Diantara karamahnya yang termashur dari beberapa karamah yang diberikan oleh Allah adalah beliau mencium tangan kakeknya yang tidak lain adalah Sayyidina Muhammad Saw. Dan kisah ini telah diceritakan dari generasi ke generasi hingga layaknya mencapai derajat mutawatir.

Kisah ini telah disebutkan dan ditetapkan banyak ulama, diantaranya adalah al-Hafidz as-Suyuthi, al-Muhaddits al-Munawi, Imam asy-Sya’rani dan para ulama besar lainya. Telah berkata al-Imam Izuddin al-Faruqi dalam kitab Irsyad al-Muslimin:

“Ayahku al-Hafidz Muhyiddin Abu Ishaq bercerita dari ayahnya Syaikh Umar al-Faruqi bahwa belaiau berkata: “pada saat itu saya bersama guruku Sayyid Ahmad al-Kabir ar-Rifa’i al-Husaini Ra. Saat sedang menunaikan ibadah haji yang pertama yaitu tahun 555 H.  Pada saat Beliau masuk ke Kota Madinah saat itu rombongan dari Syam, Iraq, Yaman, Maghrib, Hijaz dan negeri non Arab yang lain jumlahnya lebih dari 90 ribu jamaah. Dan ketika beliau mulai mendekati kota Madinah ia pun turun dari kendaraan dan memilih berjalan kaki tanpa alas. Hingga sampai pada makam yang penuh semerbak wangi kenabian, maka ia pun mengucapkan salam: “Assalamu’alaika wahai kakekku .”

Baca Juga : MENANAMKAN DAN MENCONTOHKAN KARAKTER POSITIF

Lantas terdengar suara jelas dan lantang dari makam Rasulullah yang mulia: “Wa’alaikumussalam wahai putraku.”

Beliau pun merasa mendapat anugerah dan nikmat yang sangat agung dari Allah. Akhirnya beliau terduduk seraya gemetar bersuara merintih pelan sambil menangis lalu berdiri sambil menyenandungkan sebuah syair untuk baginda nabi:
في حالة البعد روحي كنت أرسلها
تقبل الأرض عني وهي نائبتي
“Saat aku jauh, aku mengirim  ruhku ke sini mengecup tanah tempat Engkau bersemayam sebagai ganti aku sowan menghadapmu.”

 

وهذه دولة الأشباح قد حضرت
فامدد يمينك كي تحظى بها شفتي
“Dan kini ragaku telah hadir di hadapanmu, maka ulurkan tangan kananmu agar bibirku mendapat bagian untuk mengecupnya .”

Seketika tampak Rasulullah SAW. mengulurkan tangan nuraniyah (yang bercahaya) nya nan mulia dari dalam kamarnya. Lantas sejurus kemudian beliau Syaikh Ahmad ar-Rifa’i mencium tangan Baginda Rasul Saw. yang mulia dan disaksikan banyak orang.

Di antara para pembesar ulama di zaman itu yang hadir adalah Syaikh Hayat al-Harani, Syaikh ‘Adi bin Musafir, Syaikh Aqil al-Manji, Syaikh Ahmad az-Zahir al-Anshori dan banyak lagi kaum muslimin lainnya. Mereka semua mendapatkan berkah dan kemuliaan dengan melihat tangan Rasulullah Saw. berkat Syaikh Ahmad ar-Rifa’i. (Media Ummat)

Comments are closed.