Menahan Emosi dan Pilihan Bidadari

0

 

Di era teknologi informasi saat ini, interaksi sesama manusia sudah tidak tersekat tempat dan waktu. Manusia bisa berinteraksi kapan dan dimanapun. Dengan siapapun. Namun, di media sosial, sebagai salah satu media komunikasi paling popular saat ini, interaksi itu tidak selalu mulus. Tak jarang cacian dan hujatan saling berseliweran. Fitnah dan sumpah serapah juga semakin parah. Lalu bagaimana sikap kita saat difitnah atau dihina? Perlukah kita membalasnya?

Islam sudah memberikan tuntunan bagaimana kita bersikap kepada orang yang berbuat buruk kepada kita. Di antaranya  dengan sabar dan memaafkan. Begitu besar fadhilah sabar dan memaafkan. Allah SWT  yang artinya: ” ….dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran: 134)

Dalam ayat lain disebutkan, “Dan tidaklah sama perbuatan yang baik dan yang jahat. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba antara kamu dan dia ada permusuhan jadikan seolah-olah ia adalah teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (QS: Fushilat : 34-35).

Beliau Nabi SAW bersabda, “Innar rojula almuslima layudriku bilhilmi darojata as-shoimi al-qoimi” Artinya: “Sesungguhnya dengan sifat sabar, lelaki muslim akan bisa mendapatkan derajat orang yang berpuasa dan melaksanakan sholat malam.”

Baca Juga : AGAR PAHALA TIDAK SIRNA

Imam At-Thabrani meriwayatkan hadits dari Ubadah bin Shamit, RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Alaa adullukum ‘alaa maa yarfa’ullaahu bihi ad-darajaat? Qooluu: Na’am, ya Rasulallah. Qoola: Tahlumu ‘alaa man jahila ‘alaika, wa ta’fu ‘amman zhalamaka, wa tu’thi man haromaka, wa tashilu man qotho’aka.  Artinya:  Maukah kalian aku beritahu, sesuatu yang Allah meningkatkan dengannya beberapa derajat? Mereka menjawab: “Iya ya Rasulullah”.  Beliau bersabda: “Kamu bersikap bijak (sabar) terhadap orang yang tidak mengerti tentang dirimu, dan memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, dan memberi orang yang enggan memberi kepadamu dan menyambung (silaturahim) kepada orang yang memutuskannya denganmu”.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:  “Man kazhoma ghoizhan wa huwa qoodirun ‘alaa an yunfidzahu, da’ahulloohu ‘alaa ru-uusil kholaaiqi hattaa yukhoyyirohu minal huuril ‘iini ma syaa-a”. Artinya: “Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” (HR. Abu daud, Ibnu Majah dan At-Tumudzi).

(Disarikan dari Kitab Al-Muttajirur Rabih Fii Tsawabil Amalis Shalih halaman 273-275)

Comments are closed.