2 views

Memanusiakan Manusia

0

Manusia adalah makhluk unik. Sebagai makhluk yang memiliki potensi mendua, dapat menjadi baik sekaligus dapat menjadi jahat, membutuhkan tuntunan hidup, sehingga kekuatan dahsyat yang dimiliki memang akan dipergunakan untuk sebuah tugas suci yang langsung ditetapkan oleh Sang Pencipta, yaitu sebagai kholifah/ wakil Allah di bumi.

Jika fasilitas Allah diberikan kepada manusia tidak terbimbing oleh ajaran yang lurus, manusia akan seperti yang digambarkan malaikat sebagai makhluk yang suka berbuat kerusakan dan mengalirkan darah. Disinilah Rahman-Rahim menyambangi manusia dengan diturunkannya Kitab Suci, melalui para Rasul terpuji. Dalam praktek pendidikan, koreksi yang sering dilontarkan berdasarkan fakta di lapangan adalah, bahwa pendidikan sekarang boleh jadi melahirkan makhluk-makhluk siluman, makhluk yang jasadnya manusia namun dikendalikan oleh kekuatan jahat dari dalam dirinya.

 Baca Juga : KAYA DAN HAMPA

Mengenal Diri

Tasawuf hadir sebagai ilmu yang mengajarkan kepada manusia untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada manusia sekaligus mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Pada bingkai global, urgensi tasawuf yang disajikan bagi kalangan intelektual muda seperti mahasiswa/i adalah upaya positif untuk sadar dan mengenal pada eksistensi dirinya, sehingga ia akan sampai pada eksistensi Tuhannya. Konsep pendidikan tasawuf yang terkenal adalah: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”.

Pengenalan diri yang mutlak harus diketahui mahasiswa/i yakni bahwa dirinya adalah MANUSIA.  Banyak manusia yang perbuatannya lebih hina dari golongan hewan. Artinya banyak manusia dimana perangai, akhlak dan perilakunya bukan manusia. Dalam sebuah analisis cerdas, simbolis urutan surat al-Qur’an telah menjelaskan hal tersebut. Surat pertama al-Qur’an setelah pembukaan (Al-Fatihah) adalah Al Baqoroh dan diakhiri An Naas.

Surat cinta yang dikirimkan Allah kepada segenap umat manusia memberikan petunjuk bahwa pada awalnya manusia hanyalah “Al-Baqoroh” (sapi betina) maka dengan mengikuti 114 surat dari Allah, manusia mengalami transformasi spiritual untuk menjadi makhluk mulia yaitu “An-Naas”. Dalam konteks ilmiah tasawuf hadir untuk menjadi penuntun proses. Oleh karena itu, memanusiakan manusia atau lebih spesifik bagi dunia pendidikan, “Memanusiakan civitas akademika yang selama ini merasa menjadi manusia.” Dan semua itu hanya berjalan dalam kuasa dan kehendakNya. Wallahu A’lam.

(Sumber: Sang Maha-Segalanya Mencintai Sang Maha-Siswa, Ahmad Sultoni)

Comments are closed.