Memahami Macam-macam Air dalam Bersuci

            Kita sebagai muslim yang mempunyai mental baik tentu akan senantiasa mementingkan dalam beribadah kepada Allah SWT, baik ibadah yang murni (mahdloh) atau yang umum (ghoiru mahdloh). Tentu agar ibadah diterima oleh Allah SWT kita harus mengetahui ilmunya.Termasuk bagaimana cara kita bersuci dengan benar, airnya harus bagaimana dan seterusnya. Sebab air termasuk alat untuk bersuci yang sering kita gunakan dalam keseharian kita.Media Ummat mulai edisi ini, akan menjelaskan bimbingan ibadah secara berurutan sesuai dengan kajian yang ada dalam kitab At-Tadzhib karangan DR. Mustafa Dibil Bigha.

 

Pengertian Thaharah

Secara istilah banyak ulama yang mendefinisikan thaharah (bersuci), tapi intinya suatu perbuatan yang menjadikan seseorang diperbolehkan shalat. Misalnya wudhu, mandi, tayamum, dan menghilangkan najis. Ketika air menjadi alat bersuci yang paling utama dan sangat penting, maka akan kami jelaskan macam-macamnya air, baik dari sisi asalnya atau dari sisi hukumnya. Sebab kalau air yang kita pakai bersuci itu tidak sah, maka ibadah kita juga tidak sah, dan kalau tidak sah tentu tidak diterima oleh Allah SWT.

 

Macam-macam Air

  1. Dari Tinjauan Asalnya

Perlu kita ketahui bahwa air yang sah dianggap bersuci itu ada tujuh macam.Pertama, air hujan.Kedua, air laut.Ketiga, air sungai.Keempat, air sumur.Kelima, air sumber.Keenam, air es atau salju.Ketujuh, air embun.Ketujuh macam air ini, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua.Pertama, air yang turun dari langit.Kedua, air yang keluar dari bumi dengan segala macam warna keadaan waujud air tersebut.

  1. Dari Tinjauan Hukumnya

Pertama, air suci dan mensucikan dan tidak makruh menggunakannya (thahirmutahhir).Artinya air tanpa adanya predikat (ketentuan) yang bisa mencegah berubahnya nama. Sehingga para ulama menyebutnya air mutlaq, seandainya  ada ketentuan maka sifatnya hanya sementara.Misalnya air sumur, yang mana suatu saat nanti keluar dari tempatnya (sumur) hanya dengan penyebutan air begitu saja tanpa menyertakan kata “sumur” sebagai batasannya.

Kedua, air suci yang mensucikan tapi makruh untuk dipakai anggota badan (thahir mutahhir makruuhun), air ini dinamakan air musyammas.Yakni air yang dipanaskan dalam bejana besi dengan sengatan terik matahari di suatu daerah yang sangat panas.Kemakruhannya berdasarkan suatu pendapat bahwa hal itu menyebabkan penyakit lepra atau lebih berat dari itu, dan tidak dimakruhkan keculai apabila dipergunakan untuk membersihkan badan, karena tetesan panasnya bagaikan pengikat. Dan hukum kemakruhan ini akan hilang kalau airnya menjadi dingin.

Ketiga, air yang suci tetapi tidak mensucikan (thahir ghairu mutahhair) yakni air yang habis dipakai untuk bersuci (air musta’mal). Adapun dasar kesucian air musta’mal adalah sabda Nabi Muhammad SAW, “Dari Jabir  bin Abdullah RA. ia berkata: “Rasulullah SAW datang mengunjungi saya, sedangkan saya dalam keadaan sakit tidak sadarkan diri, maka beliau berwudlu dan menuangkan air bekas wudlu Beliau”.(Muttafaqun ‘Alaih). Kalau air tersebut tidak suci, tentu tidak mungkin disiramkan kepadanya.

Dan termasuk dalam kategori air ini adalah air yang sudah berubah sifatnya karena bercampur dengan zat suci lainnya. Sesuatu yang suci yang biasanya air bisa berubah karenanya, dan tidak mungkin untuk dipisahkan kembali sesudah tercampur, seperti: minyak wangi, garam dan sebagainya. Keberadaannya menjadi tidak mensucikan, karena sudah dinamakan air dalam keadaan itu.

Keempat, air najis yakni air yang di dalamnya terdapat najis, di mana air tersebut volumenya kurang dari dua qullah, atau dua qullah tetapi air tersebut berubah sifatnya.

 

  1. Dari Tinjauan Volumenya

Air jika kita tinjau dari volumenya terbagi menjadi dua. Pertama, air yang banyak, yakni mencapai dua qullah. Kedua, air sedikit (kurang dari qullah). Secara bahasa, kata al-Qullatain merupakan bentuk mutsanna dari al-Qullah, yang artinya adalah wadah yang digunakan untuk menyimpan air. Wadah ini merupakan salah satu wadah yang biasa dipakai oleh orang Arab pada zaman kenabian. Selain al-Qullah, mereka juga menggunakan al-Qirbah, al-Rithl, dan lain-lain.

Istilah ini muncul dari sebuah hadits, “Dari Abdullah bin Umar RA. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW , ketika Beliau ditanya tentang air yang berada di tanah lapang, dan yang sering di datangi oleh hewan buas (minum dll)? Maka beliau bersabda: “Apabila air tersebut ada dua qulah, maka tidak menjadikan air tersebut najis

Maksud dari hadits di atas bahwa apabila air tersebut kurang dari dua qullah maka manjadi najis sekalipun sifatnya tidak berubah. Artinya istilah dua qullah itu juga dari Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab al Majmuk, Ibnul Mundzir menyatakan ulama sepakat bahwa air sedikit atau banyak, apabila kejatuhan najis kemudian berubah rasa atau warna atau baunya, maka air tersebut menjadi najis.

Adapun ukuran dua qullah itu kurang lebih sebanyak 500 rithil Bagdad, yakni kira-kira sama dengan 190 liter, atau sama dengan volume bejana kubus yang sisi-sisinya 58 cm. (dibulatkan 60 cm). (mu/Saiful Musthofa)