3 views

Memahami Hati Istri

0

Khoirukum khoirukum liahlihi. Wa ana khoirukumliahlii. Ma akromannisaa-a illa kariimun, wa laa ahaanannisaa-a illaa laiimun.

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling berbuat baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang berbuat baik kepada keluargaku. Tidaklah memuliakan kaum perempuan kecuali orang yang mulia. Dan, tidaklah merendahkan kaum perempuan kecuali orang yang hina”. (HR. Ibnu Asakir)

Kalau ada seorang yang ngaku jagoan, tapi dia hanya berani pada orang perempuan. Ngakunya jagoan tapi ia suka menghajar istrinya, anak perempuanya atau bawahan perempuanya. Ini namanya pengecut alias kacangan.

Makanya, kalau di dalam tahanan atau penjara, kalau ada orang yang ditahan gara-gara kasus pelecehan atau perkosaan terhadap perempuan, biasanya dihajar bareng-bareng. Dianggap pengecut karena hanya berani pada perempuan.

Jadi ukuran baik tidaknya seseorang dilihat dari berbagai sisi. Akhlaknya, ibadahnya, dzikirnya dan lain sebagainya. Salah satu tolak ukur seseorang baik atau tidak adalah perlakuannya kepada keluarga. Baik apa tidak. Jadi, seseorang tidak bisa dikatakan sukses atau hebat, selama ia belum bisa membangun rumah tangga yang sukses. Rumah tangga yang damai, makmur dan sejahtera. Seperti digambarkan dalam ungkapan, baiti jannati (rumahku bagaikan surgaku).

Kyai Masduqi Mahfudz dawuh kepada para santrinya, “sudah nggak usah macam-macam, ceramah atau dakwah kesana kemari sementara keluarganya masih berantakan”.

Mengapa keluarga harus mendapat perhatian sedemikian penting? Karena  dari keluarga akan lahir sebuah generasi. Kalau anggota keluarga dipenuhi haknya, merasa terpenuhi kasih sayangnya, maka akan melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak. Sebaliknya, dari orangtua yang tidak tanggung jawab, maka akan lahir generasi yang ruwet. Sebelum memperbaiki sebuah bangsa atau masyarakat, maka yang pertama kali harus diperhatikan adalah keluarga.

Baca Juga : LOGIKA SAMPAINYA DO’A KEPADA AHLI KUBUR

Seorang ibu rumah tangga yang memilih tinggal di rumah. Menjadi ibu bagi anak-anaknya. Ia merawat rumah agar tetap bersih dan rapih. Ia rela tidak berkarir di luar rumah. Kalau istri yang sudah siap menjadi istri di rumah, tapi suaminya tidak mau memperhatikan dan tidak mencukupi kebutuhannya, maka ia akan tertekan. Jadi, istri pakaiannya layak apa tidak, kehidupannya layak apa tidak, jiwa dan pikirannya tertekan apa tidak, ini sangat berkaitan dengan perlakuan suaminya.  Jadi suami harus benar-benar bertanggungjawab terhadap istri dan anak-anaknya.

Ukuran Berbuat Baik

Ukuran berbuat baik kepada istri diantaranya adalah tidak menyakiti hatinya. Kalau sudah kadung berbuat salah, ya minta maaf secepatnya. Kemudian, diantara cara berbuat baik adalah tidak melakukan sesuatu yang sangat tidak disukai istri. Secara umum, di Indonesia salah satu yang sangat tidak disukai, dibenci bahkan jadi pantangan para istri adalah dimadu. Jadi tidak perlu memaksakan diri untuk menikah lagi, sementara keluarga menjadi berantakan. Apalagi dengan jalan selingkuh. Ini sangat menyakiti istri. Kalau begini, berarti suami termasuk tidak berbuat baik pada istrinya. Syukur-syukur kalau istrinya yang memberikan kesempatan atau menawarkan suaminya untuk menikah lagi.

Selanjutnya, kebutuhan nafkah lahir maupun batin juga, memberi kesempatan kepada istri untuk istirahat alias refreshing. Sesekali istri dan keluarga diajak berlibur atau belanja ke Mall. Tujuannya untuk menyenangkan istri dan keluarga sambil mengendorkan saraf.

Kalau istri punya potensi atau bakat, maka suami bisa memberikan kesempatan dan dukungan agar istri bisa mengekspresikan keahliannya apalagi bermanfaat untuk orang banyak. Bisa mengajar atau membuat kerajinan tangan. Dengan demikian, kewajibannya sudah dilaksanakan, hatinya merasa diperhatikan, keahliannya merasa didukung sehingga ia bisa semakin bersemangat untuk melayani suami sepenuh hati. (Media Ummat)

Comments are closed.