0 views

MASJIDNYA MEWAH, JAMA’AHNYA KEMANA?

0
MASJIDNYA MEWAH, JAMA'AHNYA KEMANA?
MASJIDNYA MEWAH, JAMA’AHNYA KEMANA?

Di jaman Rasulullah dibangun Masjid Nabawi yang menjadi pusat dari segala kegiatan dakwah Islam. Di Masjid Nabawi, para sahabat menjalankan sholat fardhu dan sholat sunnat. Di masjid itu pula Rasulullah memberi pengajian dan pencerahan kepada umat. Itu di jaman Rasulullah. Sekarang jamannya sudah beda. Masyarakat berlomba-lomba membangun masjid tapi malas untuk memakmurkan masjid. Masjid sekarang ini digambarkan seperti museum. Bangunannya megah, tapi sepi isinya. Lihatlah masjid-masjid yang ada di perumahan, sudah jamaahnya orang tua-tua. Itu pun cuma 1 shof. Padahal masjidnya lantai dua. Kemana orang-orang yang dulunya sregep membangun masjid?

Membangun masjid itu memang gampang-gampang sulit. Dikatakan mudah, nyatanya banyak masjid yang didirikan. Saking mudahnya membuat masjid, di Sukun itu sampai ada 4 masjid dalam 1 kampung. Dikatakan sulit, nyatanya tidak sedikit masjid yang membuka stand di pinggir jalan sambil membuka kotak amal. Persis seperti yang dilakukan oleh masjid di perempatan Sawojajar maupun Kotalama. Memang lebih mudah membangun masjid daripada mengisinya. Karena itu sebelum kita membangun masjid, terlebih dulu lihatlah jumlah jamaah pada saat sholat Jum’at. Kalau sholat Jum’atannya sampai membludak ya wajar kalau perlu ditambah kapasitas masjid. Bisa diperluas kalau masih punya lahan, atau juga ditingkat kalau lahannya memang sempit.

Baca Juga :

Bolehkah Memperlambat Haid Agar Bisa Berpuasa?

Peranan Masjid Pada Jaman Rasulullah

Tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah apa yang dilakukannya setelah tiba disana? Rasulullah tidak membangun balaikota maupun rumah dinas. Rasulullah juga tidak menyuruh sahabatnya untuk membangun mall. Beda jauh dengan pemimpin jaman sekarang. Begitu jadi walikota atau bupati langsung membangun jembatan layang maupun me-ruislag buat zona pertokoan. Rasulullah tidak begitu. Yang beliau lakukan pertama kali adalah membangun masjid. Beliau sendiri yang menjadi arsitektur sekaligus kontraktornya. Ini mengisyaratkan kepada kita bahwa yang perlu diperhatikan mula-mula adalah adanya masjid. Langkah dakwah Rasulullah ini ternyata diikuti oleh para da’i maupun mubaligh jaman dulu. Para pendakwah itu membuat masjid sebagai tempat dakwahnya. Mbah Sunan Ampel, Mbah Sunan Giri, Mbah Sunan Kudus membangun masjid lebih dulu sebelum berdakwah. Lha sekarang kan tidak. Para mubaligh dan da’i kita umumnya mubaligh keliling yang profesional. Rata-rata mereka tidak punya masjid sebagai tempat dakwah dan taklim. Mereka lebih asyik diundang kesana kemari daripada ngopeni masjid di sekitar rumahnya.

Masjid pada masa Rasululah memang menjadi segala-galanya. Masjid menjadi sentra kegiatan umat. Masjid sebagai tempat ibadah. Masjid juga menjadi tempat pertahanan umat Islam. Masjid adalah kawah candradimukanya para sahabat. Kalau dijabarkan setidaknya ada 10 peranan masjid:

  1. Tempat ibadah (sholat atau dzikir)
  2. Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi sosial dan budaya)
  3. Tempat pendidikan
  4. Tempat santunan sosial
  5. Aula dan tempat menerima tamu
  6. Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya
  7. Tempat pengobatan orang-orang korban perang
  8. Tempat perdamaian dan pengadilan perkara
  9. Tempat menawan tahanan
  10. Pusat penerangan dan pembelaan agama.

Dari 10 peranan masjid di jaman Rasulullah itu barangkali yang masih relevan di jaman sekarang adalah poin ke 1 sampai poin ke 5. Untuk poin ke 6 sampai ke 10 dimana masjid pada jaman dulu difungsikan sebagai tempat menyusun strategi perang mungkin sekarang ini jarang sekali digunakan. Sebab masa sekarang ini relatif aman-aman saja.

Rasulullah telah menunjukkan kepada kita tentang peranan masjid. Tinggal kita melaksanakan di lapangan. Sebab tidak sedikit peranan masjid di beberapa tempat khususnya di perumahan kelas menengah, masjid tidak berfungsi sama sekali. Sebab takmir dan jamaahnya sibuk kerja. Jadi masjid cuma buka Maghrib dan Isya’ saja. Diluar itu, pintu masjid dikunci rapat-rapat. Pagarnya juga digembok pakai rantai yang besar-besar. Mustahil maling bisa masuk.

Dulunya masjid juga digunakan untuk mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan. Kalau umat ada masalah, selalu datang ke masjid dan bertanya kepada Rasulullah. Disana Rasulullah memberikan konsultasi spiritual kepada umatnya. Sekarang, karena takmirnya jarang ngaji sehingga pengetahuan agamanya masih minim, sehingga kalau ada umat yang mau bertanya dilempar ke Kyai.

Pada jaman Rasulullah masjid juga digunakan sebagai tempat musyawarah para sahabat untuk memecahkan masalah umat. O, di sana ada janda tua dan anak yatim yang perlu diperhatikan. Makanya di Madinah pada saat itu jarang sekali ada pengemis yang kleleran karena ada yang mengurus. Sekarang memang sulit melakukan itu, sebab sifat individualis sudah merasuk ke dalam kalbu kita. Karena itu kita patut bersyukur di Malang ini ada aghniya (orang kaya yang dermawan) dan Kyai yang menggelar kegiatan Gerakan Peduli Anak Yatim Non Panti dengan menggandeng takmir masjid sebagai  motor pengggeraknya. Caranya dengan menyediakan kotak-kotak khusus di masing-masing masjid yang diperuntukkan buat anak yatim. Bahkan sekarang ini sedang digerakan pembentukan Lembaga Zakat Infak Shodaqoh di tiap-tiap masjid untuk memberdayakan ekonomi umat.

Di beberapa masjid juga ada bidang pendidikannya. Tidak sedikit anak-anak kecil yang dititipkan di TPQ-TPQ yang dibina oleh Ramaja Masjid. Ini menjadi suatu kemajuan yang harus ditingkatkan di tengah rusaknya jaman. Kita patut terharu melihat para ustadz TPQ yang ada di masjid-masjid. Dalam sebulan mereka cuma mendapat uang lelah Rp 10 ribu per anak. Kalau anak didiknya 20 berarti guru ngaji itu dapat Rp 200 ribu setiap bulannya. Bandingkan dengan guru les Matematika atau Bahasa Inggris. Setiap anak ditariki Rp 200 ribu per bulan. Kalau guru itu punya 5 anak didik, berarti bayarannya sudah Rp 1 juta. Masya Alllah. Ingin bisa memiliki ilmu akherat murah sekali. Kalau ingin pintar ilmu dunia mahal sekali. Padahal kalau kita mati tidak akan ditanyai Matematikamu dapat nilai berapa? Kamu rangking berapa?

Masjid Sebagai Benteng Moralnya Umat

Dikisahkan bahwa Rasulullah melakukan Isra’ dan Mikraj yakni perjalanan dari masjid ke masjid, yaitu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Mikraj-nya juga berangkat dari Masjidil Aqsha. Peristiwa ini bukan peristiwa kebetulan. Tetapi ada pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Allah SWT menunjukkan kepada kita bahwa masjid adalah sarana dasar untuk membina hablum minanallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannaas (hubungan dengan sesama manusia). Masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah thok, melainkan juga untuk membicarakan masalah-masalah yang dihadapi umat. Kita rindu masjid seperti jaman Rasulullah. Jangan malah sebaliknya kita berlomba-lomba membangun masjid tapi niatnya sudah beda. Lihatlah, di Kota Depok baru saja dibangun masjid besar yang pembangunannya menelan biaya Rp 650 miliar. Wow. Uang sebanyak itu kalau buat beli sepeda motor Suzuki Shogun ya dapat 50 ribu motor Suzuki. Harusnya sebelum dibangun masjid sebesar itu, kita lihat jamaahnya terlebih dulu. Jangan sampai sudah dibuatkan masjid sebesar itu tapi jamaahnya cuma sedikit. Kan mubadzir.

Golongan Orang Yang HatinyaTerikat Dengan Masjid

Orang-orang yang hatinya terpaut dengan masjid termasuk ke dalam golongan yang kelak akan mendapat naungan di akherat nanti. Orang jenis ini memang langka. Tidak sembarang orang hatinya bisa merasakan rindu dengan masjid. Yang termasuk orang yang hatinya terpaut dengan masjid adalah orang-orang yang bisa merasakan nikmatnya beribadah di rumah Allah. Ia bisa merasakan nikmatnya khusyu’an sholat berjama’ah. Ia ingin merasakan nikmatnya hidup bersama dalam ikatan silaturahmi. Dia sangat senang bisa memakmurkan masjid. Selain itu ia sangat senang untuk mendermakan uangnya buat kepentingan masjid. Orang-orang jenis inilah yang kelak ditolong oleh Allah di saat Hari Penghitungan Amal. Mereka yang ikhlas memakmurkan masjid akan mendapat jatah prioritas untuk masuk surga lebih dulu.

Jangan seperti orang jaman sekarang. Hatinya terpaut dengan masjid bukan karena senang beribadah, melainkan karena ingin jadi Ketua Takmir. Pak Budi rajin ke masjid karena ingin dicalonkan sebagai Bendahara Masjid. Kalau jadi Bendahara kan enak. Membawa uang, dan uangnya bisa dipinjam sementara.

Ada juga Pak Sobar yang hatinya teringat selalu akan masjid. Tapi bukan karena memakmurkan masjid, melainkan ingin dijadikan imam masjid. Dalam pikirannya, kalausudah ditunjuk menjadi imam berarti gengsinya di mata masyarakat akan naik. Karena niatannya sudah tidak pas, maka apa yang terjadi. Begitu keinginan mereka tidak tercapai, mereka mutung alias ngambek. Pernah di wilayah Klojen, orang yang dulunya rajin ke masjid karena diserahi amanat sebagai Ketua Takmir, namun setelah diganti dengan alasan penyegaran pengurus, ia akhirnya ngambek dan tidak mau jamaah ke masjid itu lagi. Ini kan membuat kita prihatin. Karena itulah, kalau kita ingin masuk ke dalam golongan orang yang hatinya terpaut dengan masjid terus, maka niat awal kita harus ditata. Jangan ada sifat riya’ atau pamer. Jangan ada sifat sombong, merasa dirinya paling pintar menguasai ilmu agama. Juga jangan ada sifat hasud iri hati. Sebab kalau kita sudah iri dengki sama orang, hati kita tidak akan bisa tenang. Karena yang menjadi imam adalah tetangga yang paling dibencinya, akhirnya Pak Jamal tidak mau sholat kalau imamnya Pak Lutfi. Padahal di mata jamaah yang lain, Pak Lutfi ini sudah qualified (layak) ditunjuk jadi imam. Tapi karena hati Pak Jamal penuh dengan nafsu iri dengki akhirnya ia menganggap Pak Lutfi itu imam yang goblok. Masya Allah. Ini kejadian lho Pak.

Pahala Ganda Bagi Mereka Yang Sholat Jamaah

Sholat jama’ah tentu lebih tinggi nilainya dibanding sholat sendiri. Apalagi sholat jamaah itu dilakukan di masjid, maka nilainya tambah berlipat ganda. Namun kenapa umat Islam lebih senang sholat di rumahnya sendiri-sendiri lagi. Masak hanya gara-gara tidak cocok dengan imamnya, akhirnya memutuskan sholat sendirian di rumah. Masak hanya karena masjidnya kejauhan sehingga malas untuk sholat berjamaah di masjid. Sikap seperti ini sungguh keliru. Jangan korbankan pahala sholat berjamaah hanya karena kita tidak senang dengan imamnya.

Padahal sholat berjama’ah itu sangat dianjurkan. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasululah SAW bersabda: Sholat seseorang dengan berjama’ah dilipatkan dua puluh lima kali atas sholat yang dikerjakan sendiri di rumah atau di pasar. Yang demikian itu karena seseorang yang berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian pergi ke masjid  dengan tujuan khusus untuk sholat berjaama’ah, maka setiap ia melangkahkan kakinya diangkatlah baginya satu derajat dan dihapus satu dosa. Dan jika ia melakukan sholat maka malaikat selalu memohonkan rahmat kepadanya selama ia berada ditempat sholatnya dan belum berhadats. Malaikat berdo’a: Ya Allah berilah rahmat dan keberkahan kepada si fulan. Apalagi jika ia tetap duduk ditempatnya untuk menunggu sholat berikutnya, maka duduknya tersebut juga dihitung sebagai sholat. (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah SAW mengingatkan kalau kita sholat sendirian maka setan akan lebih mudah menggoda kita. Seperti seekor kambing yang berpisah sendirian tidak berada di kelompoknya tentu akan diterkam serigala. Sementara kambing yang kumpul banyak akan selamat. Sebab serigala tidak berani mendekat. (HR. Abu Daud).

Menurut DR. Quraish Syihab orang yang sholat berjamaah ibarat membeli jeruk 5 kg. Karena belinya banyak, pembeli tidak akan meneliti terlalu jauh apakah jeruk yang dibelinya itu baik atau tidak. Ia beranggapan jeruk itu baik semua. Beda kalau ia cuma beli 5 buah. Pasti pembeli akan meneliti satu persatu jeruk itu. Mana jeruk yang bagus dipilihi. Sedangkan jeruk yang kulitnya agak rusak tidak mau dibeli. Sama dengan orang yang mengerjakan sholat berjamaah. Insya Allah orang yang sholat berjamaah akan dianggap baik semua oleh Allah. Seandainya kita menjadi makmum dan ternyata sholat kita ngglambar  tapi kita dihitung baik semua oleh Allah. Beda dengan kalau kita sholat sendiri, sholat kita akan mudah diketahui. Kalau kita tidak khusu’ ya ketahuan. Disinilah letak keutamaan sholat berjamaah.

Comments are closed.