You Are Here: Home » Aneka Hikmah, REHAT » MARHABAN WAK KAJI SHOW

Inilah hari-hari mengharu biru kepulangan jamaah haji Indonesia. Marhaban Wak Kaji show, itu salam akrab yang saya lontarkan pada Kang Usman. Kemarin ia menapakkan kaki kembali di tanah air, dengan gelar baru, Haji Usman, setelah  menjalani rukun Islam kelima.
Salam Wak Kaji Show layak disematkan pada Kang Usman. Meski tak ada hubungan kerabat dengan Ustad Haji Abdullah Said, dai asal Bangil, Pasuruan, pemilik label pengajian super humoris di layar kaca JTV. Saya hanya meminjam istilah itu, untuk memenuhi ketakjuban saya pada kesemarakan ibadah haji  tetangga saya, juragan tambak bandeng.
Jauh hari sebelum keberangkatan, Kang Usman menghelat  kenduri dengan undangan ribuan hadirin. Tiga ekor sapi dihabisi untuk memenuhi hidangan selamatan. Ketika akan bertolak ke tanah suci  subuh dini hari, tiga rombongan bus mengiringinya sampai ke Bandara Juanda. Tetangga, karyawan dan handai taulan tinggal duduk manis dalam bis.
Pun, ketika pulang, tasyakuran yang digelar lebih semarak lagi. Para mitranya bahkan memesan poster mirip caleg, bergambar Kang Usman senyum simpul berpeci putih. Rombongan konvoi sepeda motor  menjemput kedatangannya.
Sesampainya di rumah, berduyun-duyunlah orang yang datang mengharap barokah haji. Bagai toko cuci gudang, oleh-loleh berupa sajadah, kopiah, air zam-zam, surban, kurma, minyak wangi, tasbih dan semua perangkat berbau Arab dibagikan cuma-cuma. Itulah potret besar gegap gempita jamaah haji kita. Setidaknya berlaku di pantai utara Jawa dan Madura.
Kang Usman hanyalah satu ikhtisar dari orang yang ingin segera mendapat panggilan haji di balik namanya.  Pada tahun 1674, untuk pertama kalinya seorang pangeran Jawa juga naik haji. Ia adalah putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten. Memiliki nama Abdul Qahhar, yang belakangan dikenal sebagai Sultan Haji. Dari sanalah kemudian julukan haji beredar sebagai gelar terhormat puncak spiritual Islam.
Penghargaan masyarakat terhadap haji yang tinggi dipengaruhi budaya tradisional yang berasal dari tempaan kebutuhan tokoh di awal penyebaran Islam. Meski di Mekah tidak ada instansi pemberi gelar kesultanan, raja-raja Banten dan Mataram silih berganti mengirim utusan ke Mekah, atau bahkan datang sendiri ke sana untuk meminta gelar ‘Sultan’. Apalagi jika sepulangnya, membawa kiswah, potongan kain selimut ka’bah, seorang Sultan akan dihormati tidak saja dari sudut  pemerintahan tapi juga dianggap berilmu agama tinggi.
Karisma hirarki di masa penjajahan melengkapi kebutuhan tokoh bergelar haji. Syarif Hidayatullah, pendiri dinasti Islam barat pulau jawa, naik haji bersama putranya, Hasanudin. Sesudah itu berjuluk Sunan Gunung Jati, penyebar Islam, dan menjadi figur pejuang yang sangat disegani penjajah portugis kala itu.
Begitupun juga Pangeran Diponegoro, di usia belia ia berhaji ke Mekah. Pulangnya, ia menekuni Islam sufi  untuk kemudian menjelma jadi pahlawan perang yang sangat ditakuti Belanda. Karisma kehajiannya menjadi sejarah legendaris perang jawa selama lima tahun, pada tarikh 1925 hingga 1930.
Ikatan kesejarahan yang panjang, membuat rasa emosional orang Indonesia untuk berhaji selalu meningkat. Naikknya ONH (Ongkos Naik Haji) bukan problem. Bila perlu sawah ladang, hewan ternak, dijual untuk sangu. Nuansa mendamba berhaji amatlah baik. Tetapi jadi tak mulia jika diimbuhi nafsu untuk  dipuji. Panggilan Haji diujung nama hanya warisan sejarah lokal. Tetapi Bude saya, yang  berhaji lima belas tahun lalu, bisa marah kalau saya luput memanggilnya dengan panggilan Bude saja, harus dipanggil Bude Kaji. Pesannya mengultimatum, ”haji itu berat ongkosnya, juga ibadahnya, jadi harus disebut gelarnya”.
Pandangan klasik Bude saya, bisa jadi keluguan.Tapi jangan menular jadi harapan. Kepergian  menuju tanah suci, hikmahnya diawali dari niat suci berserah diri ke Baitullah. Pulang ke rumah, biarkan para khalayak menyebut apa saja untuk nama kita. Kita tak perlu bereaksi  jika satu saat ada undangan atau panggilan tanpa gelar haji.  Legitimasi haji bukan di mata manusia. Justru sebutan itu harus jadi pengikat, bahwa tingkah laku manusia pasca pulang berhaji harus lebih baik. Ibadah semakin meningkat, ukhuwah dengan manusia juga kian erat. Esensi cita-cita menuju haji mabrur tergapai. Jangan lantas tiba-tiba seseorang mendapat  julukan Haji Tomat, di Mekah tobat, di rumah kumat  tingkah lakunya untuk kembali maksiat.
Berhaji dengan hati, tulisan itu jadi tajuk di media ini, sebulan lalu. Maka begitulah seharusnya niatan haji. Berapa kalipun anda bertakdir datang ke sana, atau hingga hari ini belum juga mampu menyiapkan dana untuk berangkat ke Masjidil Haram.  Senantiasalah membenamkan haji pada lubuk dalam keikhlasan
Sebab jika tidak, perjalanan haji cuma sekedar darmawisata ke Arab. Dan hingar-bingar selamatan itu tak lebih hanya show, yang menghibur jadi tontonan manusia, tapi kering dari nilai yang Allah SWT kehendaki.

4 Comments

  1. Sae-sae mudah-mudahan hajinya bukan hanya untuk show tapi haji yang siiip

  2. alhamdulillah…. pak kajinya saeee

Leave a Reply

Visitor

© 2012 Media Ummat · Subscribe:PostsComments · Designed by Distroblogger · Powered by distroblogger.com