1 views

Makna Wujud Hakiki

0

اِزْهَدْ فـِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ وَازْهَدْ فِيْمَا فِـى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.رَوَاهُ الحَاكِمُ عَنْ سَهْل بن سَعد

Artinya : “jauhilah (zuhud) dunia maka Allah akan mencintaimu dan jangan berambisi (zuhud) terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain maka kamu akan dicintai manusia.”(HR. Al-Hakim dari Sahl bin Sa’)

Makna Wujud Hakiki

Wujud sejati itu hanyalah Allah SWT, semuanya akan rusak kecuali Allah SWT, kalau sesuatu itu akan rusak maka wujudnya tidak sejati. Sebab wujud yang sejati tiu tidak akan rusak, sedangkan selain Allah SWT itu akan rusak maka wujudnya tidak sejati. Ini sesuai dengan firman-Nya, “segala sesuatu pasti akan rusak kecuali Allah”(QS.Al-Ankabut 88). Karena selain Allah SWT itu tidak mempunyai wujud yang sejati, maka mencari, mengejar, mendambakan, mendapatkan selain Allah SWT itu adalah kesalahan besar. Dan tentu salah besar bagi orang yang berakal sehat mencari sesuatu yang akan rusak sampai meninggalkan yang sejati, yakni Allah SWT. Yang benar itu kita harus totalitas, hanya mencari ridhanya Allah SWT. Sesuai dengan firman-Nya, “sungguh shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah”(QS. Al-An’am 162). Kalau selain Allah SWT itu sifatnya hanya membantu, menfasilitasi kita dalam rangka mencari ridha Allah SWT maka ambil dan raihlah. Dengan catatan sesuatu itu hanya mendukung, menfasilitasi agar senantiasa tawajjuh kepada Allah SWT. Kalau ternyata mengambil, mengejar selain Allah SWT itu justru mengganggu tentunya salah kalau kita meraihnya sampai melupakan yang sejati, yakni Allah SWT.

Kesadaran Hakiki

Kesadaran seseorang bahwa selain Allah SWT tidak perlu kita raih, tidak perlu kita cintai, tidak perlu kita masukkan di dalam hati. Kesadaran seperti inilah yang dinamakan zuhud. Dan tentunya dengan kesadaran seperti ini, kita akan lebih fokus, lebih totalitas kepada Allah SWT daripada mereka yang tidak mempunyai kesadaran seperti ini. Buah dari kesadaran ini adalah mereka akan rela kehilangan semuanya demi meraih ridha Allah SWT, bahkan kehilangan nyawan pun mereka rela. Kalau kita kaya, kita rela kehilangan harta demi meraih keridhaan Allah SWT. Maka jadilah orang yang dermawan. Kalau kita rajin beribadah, mereka rela saat malam hari bangun untuk mencari ridha Allah SWT, rela meninggalkan kepentingan nafsunya. Kalau kita sedang mengemban sebuah jabatan, tentu akan rela kehilangan jabatan demi menggapai ridha Allah SWT. Kalau kita dermawan, rela kehilangan harta, rela kehilangan jabatan demi menggapai ridha Allah SWT, maka kita akan menjadi hamba yang dicintai oleh Allah SWT. Sebab mereka juga mencintai Allah SWT.

Baca Juga : PENGHALANG YANG TERHALANG

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”.(HR. At-Tirmidz)(Al-Jami’ Ash-Shagir/2298). Dan hadis qudsi, “Allah berfirman kepada rasul SAW: Barangsiapa yang tidak ridha atas segala hukum perintah, larangan, janji qadha dan qadar-Ku, dan tidak bersyukur atas segala nikmat-nikmat-Ku, serta tidak sabar atas segala cobaan-Ku, maka keluarlah dari bawah langit-Ku yang selama ini engkau jadikan sebagai atapmu, dan carilah Tuhan lain selain diri-Ku (Allah)”.

Hadits qudsi tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT sangat murka, betapa Allah SWT tidak ridha kepada hamba yang tidak bisa ridha kepada-Nya. Zuhud menjadikan kita rela kehilangan apapun demi meraih ridha Allah SWT dan akhirnya Allah SWT juga ridha kepada kita. Orang yang zuhud senantiasa berani memperjuangkan kebenaran apapun resikonya, sehingga jadilah orang yang tidak mudah melanggar hukum agama dan jadilah hamba yang diridhai Allah SWT. Dan salah satu ciri kekasih Allah SWT (waliyyullah) itu selalu menegakkan fardhu-fardhu Allah SWT dan sunnah-sunnah-Nya. Ini semua hanya bisa diraih dengan zuhud. Dan sebaliknya, orang yang cinta dunia akan selalu berat dengan hartanya daripada membantu anak yatim, lebih berat jabatan daripada memperjuangkan kebenaran. Sehingga dia tidak mempunyai idealisme, tidak punya semangat jihad, berkarakter munafik. Dan hal ini Allah SWT tidak ridha.

Begitu juga, kita tidak berambisi memiliki terhadap apa yang dimilki orang lain. Dia sendiri dermawan dan tidak berambisi terhadap apa yang diminta oleh orang lain. Kalaupun kita minta tentu tidak karena ambisi. Justru sebaliknya kita meminta kepada orang lain dimana hal ini membuat senang hati orang tersebut. Misalnya seorang guru meminta sesuatu kepada muridnya.

Jadi, orang itu kalau dermawan, tidak berambisi terhadap milik orang lain, tidak suka meminta-minta tentu banyak orang senang dan sebaliknya tentu orang akan benci kepadanya.

Comments are closed.