1 views

Logika Sampainya Do’a Kepada Ahli Kubur

0

Ustad Moch. Sony Fauzi, M.Pd.

Dalam kitab Hujjah Ahlussunnah Wal Jamaah, yang ditulis oleh KH. Ma’sum Krapyak Yogyakarta di dalam Bab Ziarah Kubur,  beliau menukil satu penjelasan berkaitan dengan orang yang berdo’a kepada orang yang sudah meninggal. Sekarang kan mulai banyak saudara kita yang tidak setuju ziarah kubur, tidak setuju tetangganya yang meninggal ditahlili 7 hari. Biasanya saudara kita yang tidak setuju itu, berargumen dengan ayat Al-Qur’an, “Wa allaisa lil insaani Illaa maa sa’a”  yang artinya, manusia itu diberi balasan oleh Allah itu sesuai dengan apa yang dilakukan di dunia. Jadi, mereka berasumsi tidak perlu ditahlili, nggak mungkin sampai pahala tahlilnya itu.

Sebenarnya saya juga berpikir, ulama-ulama besar kita yang alim itu, mereka semua berkeyakinan do’a orang yang hidup sampai pada orang yang meninggal, dengan syarat, channel dan modulasinya sama. Yang mendo’akan mukmin, yang dido’akan mukmin. Maka pastikan pertahankan sampai akhir nafas kita kita berucap, Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rosuulullah.

Dalam Tafsir Ibnu Abbas, dijelaskan bahwa ayat Wa allaisa lil insaani illaa maa sa’a, disana dinyatakan, bahwa ayat ini khitobnya untuk orang kafir. Lha iya, ada ayat untuk orang kafir kok dihubungkan dengan orang mukmin, kan tidak mathok (nyambung).

Baca Juga : KENAPA BANYAK KELUARGA RAPUH

Bukankah Rasulullah SAW sudah mengajarkan kepada kita agar ketika lewat kuburan, kita mengucapkan salam. “Assalamu `alaikum ahlad diyaar minal mukminiina wal mukminaat, muslimiina wal muslimat. Wa innaa insyaa Allah bikum laahiquun. Nas’alullaha lanaa wa lakumul `aafiyah” (Semoga kesejahteraan tercurah atas kalian wahai para penduduk kubur dari kalangan kaum mukminin dan kaum muslimin. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian).

Dalam kitab Kifayatul Akhyar ada sebuah riwayat bahwa Sayyidatuna Fatimah bertanya kepada Rasulullah SAW,  “Kanjeng Nabi, kalau kita ziarah kubur itu apa sih yang kita baca?, kemudian Nabi SAW menjawab:  Assalamu `alaikum ahlad diyaar minal mukminiina wal mukminaat, muslimiina wal muslimat. Wa innaa insyaa Allah bikum laahiquun. Nas’alullaha lanaa wa lakumul `aafiyah”

Lha, logika kita kan  mikirnya begini, kita diperintahkan berucap salam kepada jenazah di kuburan itu, berarti salam kita didengar dan sampai pada mereka. Para ahli kubur juga menjawab, cuma kita saja yang tidak bisa mendengar jawaban ahli kubur itu.

Di kitab hujjah Ahlussunnah Wal Jamaah, disana ada satu hadits. Nabi itu matur. Kalau ada orang yang mendoakan orang yang sudah meninggal, penghuni kubur membalas dengan do’a. Apa do’a mereka? Allahummarham liman nawwara qobrona, (Ya Allah rahmatilah orang yang menyinari kubur kami). (Disampaikan di Majelis Maulid Ar-Ridwan di Kidul Pasar Malang)

Comments are closed.