You Are Here: Home » BIMBINGAN IBADAH » Larangan Bagi yang Berhadats Besar

Bagi wanita yang mengalami haid dan nifas diharamkan melakukan semua perkara yang diharamkan bagi orang yang hadas kecil. Yaitu : haram melakukan shalat, thawaf, memegang mushhaf dan membawanya. Dan juga hal-hal yang diharamkan bagi orang Junub (hadats besar). Yaitu: empat hal di atas, diam di masjid dan membaca Al-Qur’an dengan tujuan membaca. Ditambah lagi, wanita yang haid dan nifas haram melakukan puasa, ditalak, lewat di dalam masjid bila takut melumuri masjid dengan darah, bersenang-senang dengan anggota badan antara pusar dan lutut dan bersuci dengan niat ibadah. Semuanya akan kami terangkan dengan terperinci di bawah ini.

SHALAT
Wanita yang mengalami haid dan  nifas dilarang melakukan shalat walaupun cuma shalat sunnah, shalat jenazah, sujud tilawah dan sujud syukur. Ketika wanita yang haid dan nifas mengalami suci, sementara waktu shalat masih ada, meski sekedar waktu yang cukup untuk digunakan takbiratul ihram, maka ia wajib mengqodho shalat waktu itu dengan dua syarat:
a.   Setelah suci terdapat masa dimana orang tersebut bebas dari beberapa penghalang wajibnya shalat, seperti gila, mabuk, dll, selama waktunya cukup untuk digunakan bersuci dan juga melakukan syarat- syarat shalat.  Dengan demikian, jika wanita suci dari haid pada saat waktu shalat ashar tinggal satu menit lagi, kemudian setelah satu menit dari awal suci ia gila, maka ia tidak wajib mengqodho shalat ashar karena waktu satu menit tidak cukup untuk dibuat bersuci.

b.  Setelah suci terdapat masa selamat dari beberapa penghalang selama masa waktu yang cukup untuk melakukan shalat pada waktu itu dengan cara shalat secepat mungkin (shalat dengan melakuan rukun-rukunnya saja). Kesimpulannya, wanita yang suci pada saat waktu shalat belum habis ia wajib mengqodho shalat waktunya cukup untuk digunakan bersuci dan melakukan shalat dengan cepat.
Ketika seorang wanita mengalami haid atau nifas di awal waktu atau pertengahan waktu, maka nanti ketika sudah suci,  ia wajib mengqodho shalat waktu itu. Disyaratkan juga harus ada waktu yang cukup digunakan bersuci ini, bagi orang yang sesucinya tidak bisa dilakukan sebelum masuk waktu. Yaitu orang  yang bertayamum, beser, dan istihadhoh. Orang-orang seperti ini wajib mengqodho kalau menemukan waktu yang cukup untuk bersuci dan shalat. Tetapi, selain mereka,  ia wajib qodho kalau menemukan waktu yang cukup untuk shalat saja.

TWAWAF
Bagi wanita yang haid dan nifas haram melakukan thowaf di ka’bah berdasarkan hadits yang artinya: “Thowaf kedudukannya sama dengan shalat, tetapi  Sesung­guhnya Allah memperbolehkan berbicara saat thowaf .
Para ulama’ sepakat (ijma’), bahwa wanita yang haid dan nifas haram melakukan thowaf. Mereka juga sepakat, bahwa thowaf yang dilakukan wanita haid dan nifas tidak sah, baik itu thowaf fardhu ataupun sunnah. Selain itu, mereka juga sepakat bahwa wanita yang haid dan nifas tidak dilarang melakukan ritual-ritual haji selain thowaf dan shalat sunah thowaf.

Wanita yang haid dan nifas dilarang memegang dan membawa mushhaf berdasarkan ayat yang artinya : “Tidak boleh menyentuh mushhaf kecuali orang yang suci.” (QS. al-Waqi’ah : 79)
Adapun yang dimaksud mushhaf adalah sesuatu yang ditulisi Al-Qur’an walaupun cuma sebagian ayat yang dapat dipahami dengan tujuan untuk dibuat belajar. Haram juga hukumnya memegang mushhaf walaupun dilapisi dengan kain. Adapun membawa mushhaf yang bersamaan de ngan barang lain, hukumnya boleh, selama yang diniati adalah membawa barang tersebut. Apabila diniati membawa mushhaf saja, maka hukumnya haram. Sedangkan bila diniati keduanya, atau dimutlakkan (tidak ada niat) maka hukumnya halal menurut Ar-Ramli dan haram menurut Ibnu Hajar

MEMBACA AL-QUR’AN
Haram bagi wanita haid dan nifas membaca Al-Qur’an berdasarkan hadits nabi yang Artinya : “Orang yang junub dan haid dilarang membaca sesuatu dari Al-Qur’an.”
Keharaman membaca Al-Qur’an ini, apabila telah memenuhi beberapa syarat di bawah ini.
1.  Membaca Al-Qur’an dengan tujuan membaca saja atau tujuan membaca dan tujuan yang lain (misalnya dzikir). Maka, jika tidak ada tujuan membaca, seperti bertujuan dzikir, mauidhoh, cerita, menjaga diri, membentengi diri dan tujuan-tujuan ini tidak disertai dengan tujuan membaca, maka hukumnya tidak haram. Seandainya ia tidak mempunyai tujuan sama sekali (mutlak), maka juga tidak haram.
2.  Membacanya dengan suara sekiranya dirinya sendiri mendengar. Karena itu, tidak diharamkan melantunkan bacaan Al-Qur’a di dalam hati dengan tanpa menggerakkan lidah, begitu juga melihat mushhaf dengan tanpa menggerakkan lidah.  Para ulama’ sepakat, bahwa diperbolehkan membaca tasbih, tahlil, dan dzikir-dzikir yang selain Al-Qur’an bagi wanita yang haid dan nifas.

DIAM DI MASJID
Haram bagi wanita yang haid dan nifas berdiam diri di masjid. Berdasarkan hadits yang berbu­nyi: “Aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita yang haidh dan orang yang junub.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan al Baihaqi II/442-443, dan lain-lain)
Berdasarkan hadits tersebut, jumhur ulama termasuk 4 imam madzhab (Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Hanafi) melarang wanita yang sedang haidh untuk masuk dan berdiam diri di dalam masjid. Yang dimaksud berdiam diri di dalam masjid adalah seperti duduk untuk mengisi atau mendengarkan pengajian, atau tidur di dalam masjid. Hal ini tidak dibolehkan.

MELEWATI MASJID JIKA KHAWATIR MENGOTORI
Haram bagi wanita haid dan nifas lewat di dalam masjid jika ia khawatir mengotori masjid. Walau pun cuma kemungkinan saja. Karena untuk menjaga kesucian masjid.
Sama hukumnya dengan orang haid dan nifas adalah setiap orang yang terkena kotoran atau najis yang dikhawatirkan dapat mengotori masjid juga diharamkan lewat di dalam masjid.
Adapun jika seorang wanita yang sedang haidh hanya sekedar lewat atau melintas (al-murur) di dalam masjid karena ada suatu keperluan tertentu, maka hal seperti itu dibolehkan, tetapi de ngan catatan tidak ada kekhawatiran wanita itu akan mengotori masjid dengan darah haidhnya. Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi SAW. pernah memerintah A’isyah untuk membawa khumrah (sema cam sajadah) yang ada di masjid. Saat itu, A’isyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid.” Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya haidh­mu itu bukan berada di tanganmu.” (HR. Muslim).

PUASA
Ummat Islam sepakat bahwa wanita haid dan nifas dilarang berpuasa dan bila ia puasa maka puasanya tidak sah. Dalil tentang haramnya puasa adalah hadits. “Dari Aisyah, beliau berkata: “Kita di perintah untuk mengqodho’ puasa dan kita tidak diperintah untuk mengqodho’ shalat”. Hadits ini menunjukkan bahwa mereka tidak puasa ketika haid.

TALAK
Bagi suami diharamkan menalak istrinya yang sedang haid. Allah berfirman yang artinya: “Wahai para Nabi, jika kalian menalak istri-istri kalian, maka talaklah mereka karena iddah mereka”.
Ketika Ibnu Umar menalak istrinya yang dalam masa haid. Nabi memerintahkannya untuk segera rujuk dan memperistrinya lagi sehingga suci.
Adapun alasan larangan ini adalah karena talak yang dilakukan di waktu haid akan memperpanjang masa iddah dan ini tentunya menyengsarakan istri.
Keharaman menalak wanita yang haid ini, apabila si wanita tidak memberikan harta kepada suami sebagai imbalan karena telah menalak. Tapi, kalau ia memberi suami uang agar ia ditalak, maka talak yang dilakukan tidak haram.

BERHUBUNGAN DAN BERSENANG-SENANG
Para ulama’ sepakat diharam kannya menyetubuhi wanita yang haid berdasarkan ayat 222 surat Al-Baqoroh dan beberapa hadits Nabi.
Menurut Imam Asy-Syafi’i: “Barang siapa menyetubuhi istrinya pada saat haid, maka ia telah melakukan dosa besar.
Adapun melakukan persentuhan pada anggota badan antara pusar dan lutut, hukumnya masih mukh­talaf (diperselisihkan).
Ada yang berpendapat haram, berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud: “Dari Haram bin hakim dari pamannya, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasul tentang apa yang halal bagiku dari istriku ketika ia haid. Nabi menjawab.” anggota di atas izar (sewek/­sarung).
Tapi ada pula yang membolehkan menyentuh dan bersenang-senang antara pusar sampai lutut berdasarkan hadits, “Laku kanlah segala sesuatu selain nikah” (HR. Muslim, Abu Dawud, an Nasai, at Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Artinya boleh melakukan apa saja kecuali nikah, dan yang dimaksud dengan perkataan nikah pada hadits tersebut adalah jima’. Ini adalah madzabnya ats Tsauri, Ahmad, Ishaq, ath Thahawi, Ibnul Mundzir, an-Nawawi (Fathul Baari I/404) dan ini juga Ibnu Hazm. (Grm/MU)

Leave a Reply

Visitor

© 2012 Media Ummat · Subscribe:PostsComments · Designed by Distroblogger · Powered by distroblogger.com