Adab Suami IsteriKeluarga

Kunci Keharmonisan keluarga

Suami mana yang tidak marah jika melihat istrinya tidak mau menuruti perintahnya. Masak istrinya disuruh membikinkan kopi panas, lha kok istrinya menjawab: Sampeyan buat sendiri sana. Aku capek mulai tadi bersih-bersih rumah, nyapu, ngepel, nyuci dan tandang gawe liyane (bekerja semuanya). Awalnya memang tidak apa-apa. Tapi kalau lusanya diulangi lagi, disuruh memanasi air buat mandi lha kok istrinya menolak. Katanya: Waduh Mas ini. Masak tidak tahu kalau istrinya capek. Istrimu ini capek jalan-jalan di Mall. Suami jika diperlakukan seperti ini kalau tidak marah, berarti dia adalah suami yang hebat. Suami yang penyabar. Tapi ya gitu, jarang ada suami seperti itu. Kebanyakan suami gampang naik darah kalau istrinya disuruh ini dan itu tapi tidak dilaksanakan. Sebab suami sudah menafkahi istrinya lahir batin, lha kok istrinya membangkang. Siapa yang patut disalahkan?          

Menghadapi istri model begini-ini memang repot. Tapi mau bagaimana lagi, wong dia itu juga istri kita. Sebagai suami yang baik kita wajib membimbing dan mengarahkannya. Tapi kalau terus-terusan begini memang bisa bikin stres. Seperti yang dialami oleh Mas Daril. Mas Daril ini stres gara-gara istrinya senangannya merasa paling berat kerjanya. Ia selalu mengungkit-ungkit pekerjaan rumahnya yang dianggap lebih berat dari pekerjaan suaminya sehingga si istri tidak mau dibebani dengan perintah suaminya. Padahal, perintah suami wajib dijalankan. Tapi karena tidak tahu kewajiban taat kepada suami maka kejadian kayak Mas Daril ini sering terjadi dan dialami oleh mereka yang membina rumah tangga.

Jangan sampai seorang istri merasa bahwa dirinya paling berjasa di dalam keluarganya. Sebab kalau dipikir-pikir, kerjanya suami itu juga sangat berat. Coba bayangkan, seorang suami berangkat pagi. Kerjanya jadi sopir, tidak peduli panas dan hujan. Begitu pulang, dia melihat istrinya nonton acara Berita Selebriti di depan TV sambil kakinya diselonjorkan. Lha yang namanya suami karena capek ya minta kepada istrinya agar dibuatkan minuman dingin. Ee, bukannya melaksanakan tugas dari suaminya malah si istri ngoceh yang membuat telinga suami panas. Masak suaminya diomeli begini: Jadi suami enak ya. Datang-datang minta dilayani. Ndak mau tahu istrinya sudah capek seharian ngurusi anak. Suami yang dikatain begitu pasti tersinggung. Beruntung bagi suami yang ngerti. Mungkin hal ini dianggap hal yang lumrah di dalam kehidupan rumah tangga. Tapi bagi suami yang tidak pengertian dan mungkin karena situasi hatinya sedang kacau bisa-bisa si suami membalas istrinya dengan celatukan: Dik-dik, wong kerja cuma ngurus rumah begini aja sambat terus. Kalau mau hitung-hitungan Bapak ini lebih capek lagi. Dari pagi  muter cari duit buat belanjamu. Mbok ya kamu ngerti dikit. Akhirnya apa yang terjadi? Keributan kecil pun terjadi. Dan kalau terus-terusan keributan kecil ini bisa menjadi keributan besar. Sebab setan terus mengoda kita agar kita salah jalan. Setan itu senang lihat istri membangkang kepada suaminya. Setan juga berteman akrab dengan suami yang senangannya main kasar terhadap istrinya. Makanya sebisa mungkin perselisihan kecil yang terjadi di dalam keluarga harus segera diselesaikan dengan baik. Ketahuilah bahwa masalah sepele kalau didiamkan saja bisa menjadi bumerang.

Sering kita jumpai suami istri yang sama-sama egois sampai terjadi eker-ekeran. Suami merasa dirinya paling berjasa karena dirinyalah yang mencari nafkah buat makan anak istrinya sehingga minta si istri melayaninya tanpa memperhatikan kondisi si istri. Suami memakai jurus Pokok, yakni pokoknya harus, tidak bisa tidak. Sebaliknya si istri pun juga demikian. Galaknya bukan main. Dia merasa paling berjasa karena dialah yang mengurus keperluan rumah tangga. Kalau tidak ada dirinya, rumahnya pasti semrawut karena tidak ada yang ngopeni. Si istri akhirnya juga memakai jurus Pokok. Pokoknya suami harus bisa mengerti kalau istrinya itu capek dan tidak boleh diperintah seenaknya. Maka apa yang terjadi? Kedua pasangan itu tidak nyambung dan tidak seirama. Dampaknya bisa mempengaruhi proses kehidupan rumah tangga. Untuk itu diperlukan arahan dan tuntunan bagaimana menghadapi permasalahan yang rumit ini. Seperti apakah tuntunan Islam dalam memecahkan masalah ini?

Baca Juga : Istriku Tetap Nomer Satu

HARGAI KERJA KERAS PASANGAN KITA

Diantara jalan keluar yang bisa ditempuh untuk menghindari pertikaian atau keretakan di dalam rumah tangga adalah masing-masing pihak harus bisa menghargai kebaikan pasangannya. Bisa dengan cara memujinya dan bukan mencercanya. Bisa pula dengan cara menolongnya dan bukan memperbudaknya. Seorang suami harus menyadari kemampuan istrinya itu terbatas. Si istri jangan sampai diberi beban yang berlebihan melebihi kemampuannya. Kita harus sadar bahwa istri kita telah banyak berjasa dalam membantu suaminya mengarungi kehidupan ini. Suami yang baik akan mikir: Oh ya, istriku kan sudah terkuras tenaga dan pikirannya untuk ngurusi rumah dan anak-anak. Dengan berpandangan seperti ini maka seorang suami akan berbuat bijak. Dia akan sayang dan kasihan kepada istrinya sehingga tidak mau melihat istrinya terbebani. Sebaliknya, jika suami tidak mau mengerti dengan kerepotan istrinya, ya dia akan meremehkan peran dan kerja keras sang istri. Akibatnya si istri merasa tidak dihargai, merasa bekerja sendiri, merasa dijadikan pembantu oleh suaminya. Kalau ini terus-terusan terjadi bisa gawat. Si istri bisa mutung dan nggak mau taat sama suaminya. Akhirnya gegeran lagi.

Begitu pula dengan seorang istri yang harus menyadari kerja keras suaminya. Si istri harus merenung:

Oh ya, suamiku sudah bekerja membanting tulang mulai pagi sampai malam hari. Tak kenal lelah demi mendapatkan sesuap nasi bagi anak istrinya.

Bayangkanlah keletihan suami di tempat kerjanya. Apalagi jika suami kita bekerja di bawah terik matahari. Betapa payahnya suami kita. Betapa banyaknya keringat yang bercucuran dari badan suami kita demi mendapatkan uang. Seorang istri apabila bisa menghayati keletihan dan beratnya perjuangan suami, akan membuat si istri makin sayang dan kasihan kepada suaminya. Sehingga dia akan taat kepada suaminya. Sehingga dia tidak akan meminta sesuatu yang lebih diluar kemampuan suami. Si istri tahu kalau penghasilan suaminya hanya Rp 750 ribu per bulan sehingga si istri tidak minta dibelikan emas kepada suaminya. Sebab kalau dibelikan emas, bisa-bisa sebulan kelaparan.

Menghargai kerja keras suami bisa dilakukan dengan cara memberikan dorongan dan pujian kepada suami kita agar lebih semangat dalam berusaha. Jangan sebaliknya, kerja keras yang dilakukan suami malah kita remehkan. Memang paling gampang kalau menvonis suami kita itu nggak becus atau goblok.

Seorang suami diperintahkan untuk memandang wajah istrinya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dan jangan lupa memandangnya dengan perasaan terima kasih atas segala kebaikan istrinya dalam mengurus rumah dan keluarganya. Si istri pun juga demikian harus memandang wajah suaminya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang dan terima kasih atas segala kerja keras suami dalam menafkahi keluarganya. Kalau masing-masing pasangan memandang dengan penuh kasih sayang, maka Allah SWT akan menurunkan rahmatNya atas keluarga pasangan itu. Hal ini sesuai dengan sabda Baginda Rasul SAW dari Abi Sa’id al-Khudri:

Sesungguhnya seorang suami apabila memandang istrinya (dengan kasih sayang) dan istrinya pun memandang (dengan kasih sayang) maka Allah SWT memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Bila suami memegang telapak tangan istrinya, dosa-dosa keduanya akan keluar dari celah jari-jari keduanya (At-Tadwiin Fii Akhbaari Qazwain II Halaman. 47)  

JANGAN MERASA PALING BERJASA

Seorang suami menurut tuntunan Islam tidak boleh menyombongkan kerja kerasnya kepada istrinya. Suami yang tidak baik, bawaannya merasa telah berbuat banyak kepada anak istrinya sehingga menjadi Bapak dan Suami yang sewenang-wenang karena merasa paling berjasa. Untuk itu kita diwanti-wanti agar pemberian kepada anak istri kita jangan sampai dihitung atau dibangga-banggakan. Justru sebaliknya harus kita niati dengan ikhlas karena Allah dan karena menjalankan kewajiban sebagai suami. Kalau niatnya baik maka semua nafkah yang kita berikan kepada anak istri kita walaupun hanya sesuap nasi akan mendapat pahala dari Allah SWT. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada suami yang ikhlas menafkahi anak istrinya:

Tidaklah engkau memberi nafkah kepada siapapun karena Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya meskipun sesuap makanan yang masuk ke dalam mulut istrinya

(HR. Bukhari Muslim).

Tentu saja nafkah yang sudah diberikan jangan sampai dipamerkan atau dibangga-banggakan sebab bisa menghapus pahala amalnya. Hal ini sesuai dengan penegasan Allah dalam firmanNya dalam Surat Al Baqoroh Ayat 264:

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan (membatalkan) pahala shodaqoh kalian dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena rasa pamer kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka perumpamaan orang seperti itu adalah seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan yang lebat, maka tanah itu menjadi bersih.

Jadi sangat berbahaya bagi suami atau istri yang telah berbuat baik lalu dipamerkan kepada orang lain Misalnya suaminya mengatakan kepada istrinya:

Kamu sudah tak kasih makan, sudah kubelikan rumah, sudah kubelikan pakaian lengkap kok kamu nggak ada terima kasihnya sih. Coba kalau kamu nggak nikah sama aku mungkin kamu tidak bakalan seperti ini.

Wah, wah, wah. Omongan ini eman-eman. Dengan berkata begitu, pahala kita memberi makan anak istri kita menjadi hangus. Maka berhati-hatilah jangan sampai terpeleset!

Tags
Show More

Related Articles

Close