Kisah di Balik Penyusunan Kitab Alfiyah Ibnu Malik

0

Alfiyah Ibnu Malik merupakan kitab yang disusun oleh seorang ulama besar bernama Jamaludin Muhammad Bin Abdullah Bin Malik. Beliau merupakan ulama kenamaan yang lahir di kota Jayyan Andalusia (Sekarang masuk dalam wilayah Spanyol). Dan sampai saat ini, kitab Alfiyah Ibnu Malik karangan beliau masih dipelajari di berbagai madrasah keilmuan sebagai rujukan utama dalam disiplin ilmu tata bahasa arab, khusunya di bidang Nahwu dan Shorof.
Namun tahukah anda? Bahwa di balik kesuksesan Alfiyah Ibnu Malik sebagai mahakarya dalam bidang ilmu tata bahasa arab, ternyata ada sebuah kisah menarik yang mengiringi kehadirannya? Kisah ini patut disimak karena sungguh mengandung faidah dan hikmah.
Pada suatu hari, Syeikh Jamaludin Muhammad (sang pengarang Alfiyah) hendak membuat pendahuluan (muqodimah) terhadap kitab Alfiyahnya. Beliau khusyu’ merangkai kata demi kata hingga kemudian tersusun menjadi bait-bait muqodimah kitab Alfiyah. Namun entah kenapa, ketika muqodimahnya sampai pada bait:

 

و أستعين الله في ألفية***مقاصد النحو بها محوية

Wa asta’inullaaha fi alfiyyah * maqashidannahwi bihaa mahwiyyah

Dan ku memohon pada Allah menjadikan Alfiyyah bisa mencakupi tujuan Ilmu Nahwu

 

تقرب الأقصى بلفظ موجز***و تبسط البذل بوعد منجز

 

Taqrobul aqsha bilafzhin mujazin *  Wa tabsuthul badzlu biwa’din munjazin

Mendekatkan yang jauh dengan lafadz yang ringkas,

Baca Juga : CALON SUAMI JANJI MASUK ISLAM

و تقتضي رضا بغير سخط***فائقة ألفية ابن معط

Faaiqotan alfiyyatabni mu’thi * Wa taqtadhi ridhon bighoiri sukhthi

Yang meluhuri Alfiyahnya Ibnu Mu’thi. Yang menuntut keridloan tanpa kebencian, 

 

فائقة لها بألف بيت٭٭٭…………..ه

Faiqotan lahaa bi alfi baiti * ……

Yang meluhuri dengan seribu bait, …………………..
Tiba-tiba, jlebbb! Beliau merasa ngeblank. Pemikirannya seperti buntu untuk meneruskan potongan bait (فائقة لها بألف بيت) tersebut. Beliau merasa kesulitan untuk menyempurnakan bait yang secara tidak langsung di dalamnya ada sesuatu hal yang sifatnya meluhurkan Alfiyah karyanya sendiri dibanding Alfiyah karya Ibnu Mu’thi. Hingga tanpa sebab beliau menjadi buntu dalam berfikir.

 

Isyarah Mimpi

Dan saat beliau tidur, tiba-tiba beliau bermimpi bertemu dengan sosok laki-laki tua yang berwibawa namun laki-laki itu tidak ia kenali. Beliau mengatakan pada laki-laki tua itu, “aku penadzom alfiyah”. Kemudian laki-laki tua itu memintanya memperdengarkan alfiyah tersebut. Lantas Syeikh Jamaludin pun membacakan bait-bait alfiyahnya. Namun ketika bacaanya sampai pada bait (فائقة لها بألف بيت) beliau tidak bisa melanjutkan.
Laki-laki tua berkata, “Ayo lanjutkan!”. Namun Syeikh Jamaludin tidak bisa melanjutkannya. Maka laki-laki tua itu pun menawarkan dirinya untuk melanjutkan bait Alfiyah tersebut. Dan Syeikh Jamaludin mempersilahkannya. Kemudian laki-laki tua melanjutkan dengan bait (semacam sindiran/mengingatkan)..
فائقة لها بألف بيت *** و الحي قد يغلب ألف ميت

Yang meluhuri dengan seribu bait, yang hidup terkadang suka menimpa seribu mayat

 

(Sebuah pengingat: kita tidak boleh menceramahi keilmuan orang terdahulu yang sudah meninggal. Karena orang meninggal tidak bisa memberi pembelaan.)
Dan plak! Syeikh Jamaludin tersadar bahwa laki-laki tua itu adalah Yahya Bin Mu’thi Bin Abdi Nur Az-Zawawi (Ibnu Mu’thi). Hingga akhirnya ia terbangun dari tidurnya. Dan langsung melanjutkan bait Alfiyahnya dengan menyusuli bait sebelumnya yang mengandung kesombongan. Ia melanjutkan dengan bait:
و هو بسبق حائز تفضيلا***مستوجب ثنائي الجميلا

Wahuwa bisabqin haaizin tafshiila * Mustaujibun Tsanaiyal Jamiila

Namun beliau memiliki keutamaan karena sebagai pendahulu, yang mesti mendapat sanjungan yang indah

و الله يقضي بهبات وافرة***لي و له في درجات الآخرة

Wallahu yaqdhi bihibaatin wafirah * Li walahuu fi darojaatil akhirah

Semoga Allah memberi lumuran hibah derajat akhirat untukku dan untuknya.

Comments are closed.