Kisah Cinta nan Pilu Sayyidah Zainab

0

Ujian Cinta Zainab Sang Putri Nabi

Zainab binti Muhammad radhiallahu ‘anha merupakan putri tertua Nabi Muhammad SAW. Ia buah pernikahan Nabi SAW dengan ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha.

Sebagai anak terbesar ia terbiasa membantu meringankan tugas ibunya dalam urusan rumah tangga, dari merawat rumah sampai mengasuh adik-adiknya (Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah). Dari sanalah ia belajar hidup dalam kesabaran dan keteguhan, sampai-sampai Fathimah yang merupakan putri bungsu Rasulullah SAW menganggap kakaknya Zainab seperti ibu kecilnya.

Ujian cinta

Zainab dinikahkan dengan Abul Ash ibn Rabi’ seorang bangsawan dari suku quraish. Putra saudara perempuan Khadijah yang bernama Halah binti Khuwalid.  Mereka menikah sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi seorang rasul.

Suatu saat ketika, Zainab menyampaikan  kepada sang suami, bahwa ayahnya mendapat wahyu kenabian, namun Abul Ash tidak mempercayainya. Dia tetap teguh dengan kepercayaan nenek moyangnya . Abul Ash mengakui bahwa Muhammad, ayah mertuanya, merupakan orang yang tidak pantas diingkari, tetapi alasan agama nenek moyangnyalah yang lebih ia utamakan untuk menolak risalah kenabian.

Setelah ummat Islam hijrah  ke Madinah, kemudian Nabi Muhammad SAW bersama sahabat karib beliau, Abu Bakar, serta  saudari-saudarinya pun menyusul ke sana  negeri Mekah terasa sepi bagi Zainab. Ibundanya yang biasa ia jenguk sekarang telah tiada, sementara ayahnya hijrah ke Yatsrib. Di satu sisi ia harus hidup bersama sang suami.

Perang Badar

Pada perang Badar, Abul Ash ikut berperang di barisan kaum musyrikin memerangi ayah mertuanya sendiri. Bayangkan betapa perih hati Zainab saat itu. Ia harap-harap cemas keselamatan ayahnya. Pada saat yang sama, ia juga gundah dengan nyawa sang suami yang memerangi ayahnya. Akhirnya datanglah kabar atas kemenangan ummat Islam di perang badar dan kekalahan kaum musyrikin Makkah dalam peperangan itu 70 orang musyrikin tertawan, dan  Abul Ash adalah salah satunya.

Dan siapa yang menebusnya? Zainab sang istri. Demikianlah bakti Zainab pada suaminya. Dari Makkah, Zainab mengirim sejumlah harta tebusan dan sebuah kalung dari batu Onyx Zafar. Ini kalung yang tak biasa. Kalung itu merupakan hadiah pernikahan dari sang ibunda, Khadijah.

Ketika Nabi melihat kalung itu, ingatannya melayang ke cinta sejatinya, Khadijah. Nabi SAW berseru pada kaum muslimin, jika mereka setuju Nabi SAW meminta Abul Ash dibebaskan dan kalung itu dikembalikan ke Zainab. Para sahabat menyutujinya. Abul Ash kemudian dibebaskan.

Baca Juga : KISAH DI BALIK PENYUSUNAN KITAB ALFIYAH IBNU MALIK

Pemisah Cinta

Kembalinya Abul Ash dalam dekapan Zainab ternyata juga membawa kabar dari Nabi SAW bahwa iman telah memisahkan mereka. Iman telah menjadi batas hubungan suami istri itu. Zainab diminta berhijrah ke Madinah oleh Nabi SAW.

Beberapa waktu sebelum Fathul Makkah, Abul Ash memimpin kafilah dagang dari Syam. Lagi-lagi, seluruh hartanya disita kaum muslimin. Ketika malam merayap, Abul Ash diam-diam menemui Zainab di Madinah dan meminta Zainab untuk memberi perlindungan. Kepadanya Zainab menyanggupi. Zainab berseru di balik dinding ketika Rasul SAW dan kaum muslimin berdiri shalat Subuh. “Wahai kaum muslimin, Abul Ash berada dalam perlindungan Zainab”.

Abul Ash dan hartanya selamat. Inilah titik balik itu. Sepulang ke Makkah dan menunaikan amanat orang-orang Quraisy, Abul Ash berseru dan berikrar syahadat.

Cinta yang Sempurna

Abul Ash menyusul belahan jiwanya, Zainab ke Madinah. Setelah 6 tahun berpisah karena iman yang beda, Abul Ash dan Zainab kembali bersatu cintanya. Cinta Zainab akhirnya tergenapkan. Kerinduannya akan iman di dada suaminya terpenuhi. Dan tak lama berselang, setahun kemudian wafatlah Sayyidah Zainab.

Cinta Abul Ash menyebabkan tangisannya begitu menyayat sehingga orang yang mendengarnya juga ikut menangis. Usai dimandikan, Nabi SAW bersabda, “Kafanilah ia dengan kain ini”.

Dalam perjalanan ke Syam, Abul Ash mengenang, ”Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya.”

Demikianlah ridha suami dibawa serta oleh Zainab. Inilah Zainab radhiallahu ‘anha, putri pemimpin para Nabi. (Media Ummat)

Comments are closed.