Keteladanan Rasul dalam Memimpin

0

Memberikan Teladan

Pemimpin yang baik adalah yang mampu memberikan teladan yang baik kepada umatnya. Sebagai seorang pemimpin keagamaan, Nabi Muhammad SAW juga memberikan teladan yang baik kepada umatnya, khususnya dalam melaksanakan code of conduct kehidupan sosial masyarakat.

Dalam mengerjakan shalat misalnya, beliau telah memberikan contoh bagaimana mengerjakan shalat yang benar. Beliau pernah mengatakan, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.” Hal ini memberi isyarat bahwa segala macam cara shalat yang tidak dicontohkan oleh beliau tidak sah.

Demikian juga halnya dengan ibadah haji. Beliau bersabda, “Ambillah dariku cara-cara melaksanakan haji. Ibadah haji merupakan ibadah purba yang diteladankan oleh keluarga Ibrahim a.s. seiring peralihan zaman, terjadi distorsi di sana-sini dalam ibadah haji yang dilakukan oleh umat manusia dari waktu ke waktu. Meskipun tetap berpusat di Makkah, namun ritual yang mereka lakukan memiliki banyak perbedaan. Nabi Muhammad SAW. datang dan memberikan contoh bagaimana tatacara mengerjakan ibadah haji yang benar dan meluruskan ritual yang salah.

Komunikasi yang Efektif

Dakwah adalah proses mengkomunikasikan pesan-pesan ilahiyah kepada orang lain. Agar pesan itu dapat disampaikan dan dipahami dengan baik, maka diperlukan adanya penguasaan terhadap teknik berkomunikasi yang efektif. Nabi Muhammad SAW merupakan seorang komunikator yang efektif. Hal ini ditandai oleh dapat diserapnya ucapan, perbuatan, dan persetujuan beliau oleh para sahabat yang kemudian ditransmisikan secara turun temurun. Inilah yang kemudian dikenal dengan hadist atau sunnah Muhammad Saw.

Keahlian dan kelihaian beliau dapat berkomunikasi telah menarik banyak manusia di zamannya untuk mengikuti ajarannya. Begitu juga dengan orang-orang yang tidak pernah bertemu dengannya yang beriman meskipun tidak mendengar langsung ajaran Islam dari mulut beliau sendiri.

Baca Juga : CIRI KHAS SEORANG SUFI

Beliau bersabda:“Ketahuilah bahwa dalam ragamu terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging ini baik, maka seluruh ragamu akan baik. Dan apabila segumpal daging ini rusak, maka seluruh ragamu akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Salah satu alasan mengapa harus mempertimbangkan tujuan berkomunikasi adalah demi efisiensi berbagai potensi diri sendiri. Waktu, tenaga, pikiran, dan ruang adalah sebagian dari nikmat Allah yang wajib digunakan seefektif mungkin.

“Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia menyia-nyiakannya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Kerugian besar akibat banyak bicara tanpa maksud dan yang jelas pasti dapat dirasakan. Betapa seringnya berkomunikasi sekadar mengisi waktu luang, tidak memiliki tujuan yang jelas. Bukan hanya menyia-nyiakan potensi diri, bahkan sering kali menuai dampak negatif dari pembicaraan yang isinya omong kosong.

Dengan perencanaan yang matang sebelum berkomunikasi berarti kita telah memegang kunci sukses dalam hidup ini. Sebagaiamana petuah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal:

“Maukah engkau aku ajarkan kunci segala urusan?” Spontan Mu’adz menjawab: “Tentu saja.” Beliau pun memegang lisannya dan berpesan: “Hendaklah kamu menahan anggota tubuh yang satu ini.” Ingin mengetahui lebih jauh, Mu’adz kembali bertanya: “Wahai Nabi Allah, haruskah kita bertanggung jawab atas setiap ucapan kita?” Mendengar pertanyaan ini, Beliau menjawab: “Betapa meruginya ibumu, hai Mu’adz. Adakah yang menyebabkan manusia tersungkur dalam neraka selain tutur kata mereka sendiri?” (HR. At-Tirmidzi)

Comments are closed.