Kenapa Hati Menjadi Keras?

اربع من الشقاء : جمود العين، قسوة القلوب، طول الأمل، الحرص على الدنيا .(رواه : البزار)

Artinya: Ada empat faktor kesengsaraan manusia: mata sulit untuk meneteskan air mata (jumudul ‘ain), kerasnya hati (qaswatul qulub), panjangnya angan-angan (thulul amal), rakus terhadap dunia (alhirshu alad dunya). (HR. Al-Bazzar)

Salah satu faktor kesuksesan adalah kalau kita mudah menerima masukan dari orang yang baik-baik. Ketika masukan itu benar, pertimbangan dilakukan dengan obyektif demi kebaikan, maka sudah semestinya kita menerima masukan itu demi kemajuan dan kebaikan. Terlepas siapa pun yang menyampaikan masukan itu. Mungkin dari teman, sahabat atau bahkan dari lawan kita. Kalau orang itu keras kepala, keras hati biasanya mereka angkuh, tidak mau menerima masukan dari orang lain. Hal ini kemungkinan dia merasa pandai sehingga tidak mau menerima masukan dari orang lain. Atau mungkin dia merasa paling benar, paling sunnah, paling beragama sedangkan orang lain dianggap sesat, bid’ah sehingga tidak mau menerima masukan dari orang yang telah dianggap sesat. Atau mungkin dia merasa sakit hati, sehingga dia tidak mau menerima dari orang yang dia telah sakit hati kepadanya.

Dengan kerasnya hati, kita sulit untuk memperbaiki diri. Ketika kita dalam posisi salah, maka selamanya tidak akan benar. Ide-idenya tidak bisa berkembang sebab tidak mau menerima masukan dari orang lain sebab hatinya keras, sehingga sulit untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan.

Sukses dan Kebahagiaan    

Sebaliknya, orang yang mempunyai hati yang lunak, lemah-lembut ia akan  membuka diri, menerima masukan orang lain. Dengan begitu ia akan mempunyai wawasan luas, muncul ide-ide baru demi meraih kemajuan usahanya dan pada akhirnya kesuksesan yang didapat. Dan sukses itu bagian dari makna kebahagiaan (sa’adah). Kalau kita bergaul dengan masyarakat luas dengan hati yang keras, maka dia sulit untuk mencari komunitas dan sulit mencari relasi. Kalau relasi, komunitas dan jaringannya terbatas maka kesempatan dia untuk menawarkan dan memasarkan produknya juga terbatas. Begitu juga kesempatan dalam bersosialisasi akan sedikit. Sehingga sulit untuk menjadi orang besar. Kalau dia seorang ustadz, maka pengaruh dakwahnya tidak luas. Hal ini karena hatinya keras dan membatasi pergaulan.

Baca Juga : POPULER DI PENDUDUK LANGIT

Dan tentu orang lain juga enggan untuk diajak kerjasama dengan orang yang hatinya keras. Begitu juga ketika dia membuat usaha sering putus asa, sebab orang yang hatinya keras itu mudah marah. Padahal yang namanya usaha, pemasaran produk, atau termasuk kita berjuang di lingkungan agama membutuhkan karakter yang ulet, tahan banting dan sabar yang luar biasa, tidak mudah marah maka barulah kita akan meraih kesuksesan. Terkait dengan hati yang keras Al-Qur’an telah menjelaskan, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”.(QS. An-Nah: 92)

Jadi, orang yang keras hati itu komunitas, relasi dan jaringannya terbatas, sulit mencapai kesuksesan, wawasan terbatas sebab sulit menerima masukan orang lain, kalau membuat usaha di bidang apapun tentu sulit sukses sebab mudah marah. Dan orang yang mudah sakit hati, mudah marah tentu mudah dihinggapi penyakit darah tinggi (hypertensi) sebab aliran daranya tidak lancar. Mudah sakit itu juga sulit mencapai kesuksesan. Ini semua bermula dari hati yang keras.

Ada beberapa  hal yang menyebabkan orang itu hatinya keras. Pertama, pergaulannya. Kalau kita sering bergaul dengan orang yang karakternya keras (Islam aliran keras, misalnya) tentu lama-lama juga akan ikut keras. Kedua, karena faktor genetik. Oleh karena itu, saat kita akan menikah juga diperintahkan memilih orang yang nasabnya baik agar tidak mendapat istri, anak, menantu, cucu yang mempunyai karakter keras hati. Ketiga, karena faktor ajaran yang dianut. Kalau orang itu memegangi ahli sunnah wal jama’ah dari keras pun bisa menjadi lembut, dan sebaliknya kalau kita bergaul dengan orang keras dari lembutpun bisa berubah menjadi keras. Sebab ajarannya memang keras. Keempat, karena gaya hidup yang mewah dan suka bercanda yang melebihi batas. (media ummat)