Kajian IslamiMutiara Hadits

Kembali Kepada Allah Saat Ada Musibah

إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ مُصِيْبَةٌ فَلْيَقُلْ ”, إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ “ اَللَّهُمَّ عِنْدَكَ ‏ أَحْتَسِبُ ‏‏مُصِيْبَتِي فَأْجُرْنِي فِيْهَا وَأبْدِلْنِي بِهَا خَيْرً مِنْهَا. رواه ابن ماجَهْ عن أبي سلمة

Artinya:  “Jika salah seorang dari kalian  ditimpa musibah, maka ucapkanlah, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun“, Ya Allah, saya benar-benar mengikhlaskan musibahku ini kepada-Mu, oleh karenanya, maka anugerahilah aku pahala dengan terjadinya musibah ini. Dan gantikanlah untukku yang lebih baik dari musibah ini. (HR. Ibnu Majah dari Abi Salamah)

Yang namanya tertimpa musibah artinya di luar kemampuan kita. Namun, kita diperintahkan untuk berhati-hati dan waspada. Intinya, kita  diperintah ikhtiar untuk mendapatkan keselamatan. Baik ikhtiar lahir dengan memaksimalkan kemampuan dan kewaspadaan ataupun secara bathin dengan banyak berdoa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tapi, kalaupun akhirnya musibah itu tetap terjadi, maka sama-sama kita sadari, kita lihat dan kita ketahui bahwa itu sepenuhnya atas kekuasaan dan kehendak Allah SWT.

Sebagai bentuk kesadaran bahwa apa yang ada dalam diri kita, apa yang terjadi pada kita hakikatnya atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT, kita diperintah mengucapkan kalimat, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Kita sudah ikhtiar dengan semaksimal mungkin tapi tetap terjadi karena memang semuanya milik Allah, diri kita milik Allah dan semuanya berpulang kembali kepada Allah SWT.

Kalimat Pengingat

Kalimat inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun itu mengisyaratkan bahwa orang yang sembrono alias gegabah kalau setelah terjadinya musibah, dia bilang “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun ini semua Allah”, namun sikap dhohirnya tidak ada ikhtiar untuk menghindari musibah.  Kematian yang terjadi karena pesta narkoba, minum minuman keras, pola hidup tidak sehat, naik kendaraan ugal-ugalan dan sebagainya, kan sebetulnya secara dhohir musibah itu karena kesalahannya. Dia  tidak mau ikhtiar semaksimal mungkin untuk berhati-hati. Lalu setelah terjadi musibah dia katakan semua ini karena Allah. Nah, ini namanya kurang beradab.

Jadi, kalimat itu mengisyaratkan supaya kita ikhtiar semaksimal mungkin. Sehingga kalau terjadi musibah itu full karena Allah bukan faktor manusia (human error). Nah, saat situasinya seperti itulah, kita sah  mengucapkan inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Kalau sebaliknya, manusianya yang salah, tabrakan karena ugal-ugalan, lalu setelah tabrakan, bilang “ini takdir, mpun sedoyo pengeran”, orang seperti ini minta ditutuki (jawa: pukuli).

Baca Juga : AL-HALIM (DZAT YANG MAHA SANTUN)

Ucapkan inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun setelah ikhtiar semaksimal mungkin, sehingga semua orang sadar kalau semua itu full karena kehendak Allah bukan yang lain-lain.

Adapun musibah yang terjadi, misalnya anak kita meninggal, rumah terbakar, kendaraan tabarakan, setelah ikhtiar syariat kita lakukan semaksimal mungkin, orang seperti itu ketika terkena musibah ia sudah patut mendapat pahala.

Pantas Mendapat Ganti

Sama-sama mendapat musibah, kalau bisa dapatlah musibah tetapi kita tidak berdosa, syukur-syukur dapat pahala terus berdoa. Jangan orang yang sudah dapat musibah, berdosa lagi. Itu dapat musibah dua kali, yaitu musibah dunia nyatanya ya tabrakan beneran, musibah akherat nyatanya mendapat dosa.

Jadi, perintah doa seperti ini mengisyaratkan supaya kita intinya berusaha semaksimal mungkin memenuhi perintah syariat. Kita mendapat mendapat musibah dan tidak dosa, mendapat musibah dan mendapat pahala, dan pantas mengucap ahtasibu mushibatii fa’jurnii fiihaa (ya Allah saya benar-benar mengikhlaskan musibahku ini kepadamu, oleh karenanya maka anugerahilah aku pahala karena terjadinya musibah ini).

Apabila sudah ikhtiar semaksimal mungkin, lantas tetap terjadi musibah itu akan menjadi pelajaran berharga bagi dia, orang sudah berusaha maksimal tetapa ternyata tidak lulus, orang sudah berusaha maksimal tetap saja musibah itu terjadi, dia lebih banyak mawas diri dan akhirnya dia siap menyadari pasca terjadinya musibah itu. Karena dia sudah mendapat pelajaran dan pengalaman penting lantaran sebelum terjadi musibah sudah berusaha maksimal, insya Allah ke depan dia mendapatkan yang lebih baik lagi.  Karena mental dan pengalamannya lebih siap. Makanya waabdilni bihaa khoiron minhaa (dan gantikanlah kepadaku yang lebih baik dari musibah ini).

Sedangkan orang yang sembrono ketika mendapat musibah karena kesombroannya dia tidak akan diberi yang lebih baik dari Allah, tidak akan diberi  pelajaran oleh Allah dan setelah sehat ya sembrono lagi. Jadi, yang bisa innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, yang bisa mengucapkan ahtasibu mushibatii fa’jurnii fiihaa , yang pantas berdoa waabdilni bihaa khoiron minhaa, itu orang–orang yang dalam hidupnya yang memenuhi ketentuan syariat, semaksimal mungkin dalam berusaha.

Tags
Show More

Related Articles

Close